Benarkah Matahari di Jember ada Lima! Gerah Menggigit, Suhu Jember Tembus 36 Derajat!

Yulio Faruq Akhmadi • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 21:45 WIB
Ilustrasi orang memakai kipas angin.(M. ADHI SURYA/AI/HALO JEMBER)
Ilustrasi orang memakai kipas angin.(M. ADHI SURYA/AI/HALO JEMBER)

KEPATIHAN, Radar Jember - Terik matahari terasa lebih menyengat di sejumlah wilayah Jember dalam beberapa hari terakhir.

Suhu udara bahkan menembus 36 derajat Celcius.

Kondisi itu tercatat di Pos Meteorologi Bandara Notohadinegoro sebagai dampak dari kemarau yang berlangsung lebih panjang tahun ini.

Prakirawan Pos Meteorologi Bandara Notohadinegoro BMKG Banyuwangi Hukama Nur Akmal mengatakan suhu maksimum di Jember dalam beberapa hari terakhir berada pada kisaran 34 hingga 36 derajat Celcius.

Catatan tertinggi mencapai 36,7 derajat Celcius.

Menurut dia, angka tersebut masih berkaitan dengan kondisi El Nino yang berlangsung tahun ini.

Anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tercatat sekitar 2,6 derajat Celsius di atas kondisi rata-rata. 

Angka itu membuat fenomena El Nino tahun ini berada pada level yang cukup tinggi.

“Sekarang sudah naik sekitar 2,6 derajat Celsius,” katanya.

Kondisi tersebut turut memengaruhi pola musim di Jember.

Kemarau berlangsung lebih panjang dibandingkan perkiraan awal tahun.

Peralihan menuju musim hujan pun ikut bergeser sehingga warga masih harus menghadapi cuaca panas dalam beberapa waktu ke depan.

Akmal menjelaskan, pada awal tahun BMKG memperkirakan El Nino berada dalam kategori sedang. Namun, perkembangan anomali suhu permukaan laut ternyata lebih tinggi dari perkiraan.

“Waktu awal tahun BMKG memprediksi fenomena El Nino ada dalam kategori sedang, namun ternyata cukup tinggi,” ujarnya.

Meski suhu mencapai 36 derajat Celcius, rasa gerah yang dirasakan warga tidak hanya dipengaruhi angka suhu.

Kelembaban udara juga ikut menentukan seberapa menyengat panas yang dirasakan tubuh.

Karena itu, suhu yang tidak terlalu ekstrim sekalipun bisa terasa lebih panas ketika kondisi udara lembab.

“Panasnya sebenarnya tidak terlalu, karena kalau musim pancaroba bisa lebih panas. Panasnya lebih terasa karena faktor kelembaban juga,” jelas Akmal.

BMKG memperkirakan puncak El Nino berlangsung pada Agustus hingga September dan kemudian berangsur menurun.

Sementara awal musim hujan atau pancaroba diperkirakan mundur sekitar 20 hari dan baru memasuki Jember pada akhir Oktober.

Warga diminta lebih bijak menggunakan air serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Terlebih, beberapa kejadian karhutla sudah muncul di Jember.

“Apalagi sekarang di Jember sudah beberapa kali terjadi karhutla, harus lebih waspada,” tandasnya. (dhi/nur)

Editor : Yulio Faruq Akhmadi
El Nino Gerah panas