Peta persaingan kontestan asal Asia di fase grup Piala Dunia 2026 mulai mengerucut dengan menghadirkan nasib yang bertolak belakang.
Jepang menjadi wakil Asia yang memiliki peluang paling besar untuk melenggang ke babak 32 besar.
Tim Samurai Biru kini berada di peringkat kedua Grup F dengan koleksi empat poin dan hanya butuh hasil imbang di laga pamungkas.
Menanggapi tren positif ini, pelatih Jepang Hajime Moriyasu menegaskan siap pasang badan dan mengambil tanggung jawab penuh jika timnya sampai terjungkal di laga penentu.
"Jika kami menang, itu sepenuhnya berkat kerja keras para pemain, namun jika kami kalah, seluruh tanggung jawab itu jatuh kepada saya," kata Moriyasu.
Menyusul Jepang, Australia juga mengantongi peluang bagus berkat tabungan tiga poin di Grup D menjelang partai penentuan.
Sementara itu, Korea Selatan terpaksa menahan napas setelah menyudahi seluruh laga Grup A di peringkat ketiga dengan raihan tiga poin.
Nasib Korea Selatan kini berada di ujung tanduk karena harus bergantung pada hasil grup lain dalam perebutan tiket lewat jalur peringkat tiga terbaik.
Pelatih Korea Selatan, Hong Myung-bo, sejak awal sudah mewanti-wanti anak asuhnya agar tidak bermain aman demi mengincar hasil imbang.
"Berpikir bahwa hasil imbang sudah aman hanya akan menggali lubang kubur kita sendiri," tegas Hong Myung-bo.
Berbeda nasib dengan rumpun Asia Timur, empat wakil Asia lainnya justru dipastikan langsung tersingkir dan angkat koper lebih cepat dari turnamen.
Nasib paling tragis dialami sang juara Piala Asia, Qatar, yang resmi tersingkir sebagai juru kunci Grup B usai dikalahkan Bosnia dan Herzegovina 1-3.
Pelatih Qatar, Julen Lopetegui, mengakui tekanan mental luar biasa di panggung dunia membuat timnya limbung dan siap menerima semua kritikan akibat kegagalan tersebut.
"Saat Anda kalah, semua kesalahan akan langsung ditimpakan kepada pelatih, dan saya menerimanya," aku Lopetegui.
Langkah kelam Qatar ini langsung diikuti oleh Irak di Grup I dan Yordania di Grup J yang sudah dipastikan gagal total akibat kalah dalam dua pertandingan beruntun.
Derita wakil benua kuning kian lengkap setelah Uzbekistan juga dipastikan pulang akibat terdampar di dasar klasemen Grup K tanpa mengoleksi satu poin pun usai kalah telak dari Portugal 0-5.
Pelatih Uzbekistan, Fabio Cannavaro, tetap memompa semangat anak asuhnya karena menganggap debut sejarah ini telah memberi pelajaran berharga.
"Selama 90 menit di atas rumput hijau, kita harus bertarung seperti pejuang dan singa sejati demi seluruh rakyat kita," ucap Cannavaro.