Halo Jember - Gerak Jalan Tanggul-Jember Tradisional (Tajemtra) resmi menorehkan sejarah baru, Sabtu 5 September 2026, di bawah kepemimpinan Bupati Jember Muhammad Fawait (Gus Fawait).
Perjalanan legendaris sepanjang 30 kilometer dari Alun-Alun Tanggul menuju Alun-Alun Jember juga memecahkan rekor dengan diikuti oleh lebih dari 25.613 peserta. Ini menjadi jumlah terbanyak dalam sejarah penyelenggaraannya.
Pada momentum ini pun, Gus Fawait juga ikut jalan dari Tanggul hingga Jember atau berjalan kaki sejauh 30 kilometer.
“Menurut dokter, saya tidak dianjurkan mengikuti Tajemtra, tapi saya tidak ingin kalau tidak membersamai kalian-kalian semua. Kita jalan bareng-bareng dari sini (Tanggul) ya berikhtiar sampai Alun-Alun Jember,” kata Gus Fawait yang sempat diinfus karena gejala tifus tersebut.
Baca Juga: Catat! Terminal Tawang Alun Jember Tak Layani Bus Sabtu Besok, Dialihkan ke Ambulu selama Tajemtra
Nah, di balik itu semua ada simbol-simbol yang dibangun dari masa ke masa, termasuk dalam estafet kepemimpinan para Bupati Jember. Pertama, simbol persatuan dan kesetaraan sosial. Di jalur Tajemtra, semua sekat sosial melebur. Ini membutuktikan tidak adanya perbedaan antara pejabat, pengusaha, petani, buruh, mahasiswa, maupun masyarakat biasa. Semua orang berjalan di aspal yang sama, merasakan lelah yang sama, dan memakai nomor dada yang setara. Inilah ruang publik terbesar di Jember di mana solidaritas horizontal terjalin secara alami sepanjang puluhan kilometer.
Kedua, manifestasi semangat perjuangan dan kegigihan. Jarak dari Alun-Alun Tanggul hingga Alun-Alun Jember menguji ketahanan fisik dan mental. Ribuan orang berjalan kaki di bawah terik matahari hingga larut malam menyimbolkan kegigihan, daya juang, dan konsistensi masyarakat Jember dalam menghadapi tantangan hidup. Begitu mencapai garis finish, pesan filosofis yang tersampaikan yakni proses perjalanan jauh yang berat dan melelahkan akan selalu membuahkan hasil yang memuaskan.
Ketiga, ada panggung ekspresi kultural dan kegembiraan rakyat. Tajemtra adalah pesta rakyat. Atribut unik, kostum jenaka, dan yel-yel kreatif yang dibawakan peserta mencerminkan karakter masyarakat Jember yang terbuka, humoris, kreatif, dan ekspresif. Ini adalah momen di mana jalan raya berubah menjadi panggung seni jalanan raksasa yang menghibur jutaan penonton di sepanjang rute.
Baca Juga: Tajemtra 2026 Bikin Sejumlah Jalan Ditutup, Ini Jalur Alternatif untuk Pengguna Jalan
Keempat, terdapat gotong royong dan solidaritas tanpa batas. Ini membuktikan, nilai kemanusiaan sangat kental terasa di sepanjang jalur. Masyarakat yang rumahnya dilewati rute Tajemtra secara sukarela menyediakan air minum gratis, buah-buahan, hingga camilan bagi para peserta yang tidak mereka kenal. Hal ini mencerminkan tingginya nilai gotong royong, keramahan, dan rasa persaudaraan khas warga Jember.
Simbol kelima, yaki hidupnya jantung napas ekonomi kerakyatan. Secara filosofis, Tajemtra dirancang untuk memutar roda ekonomi dari pinggiran (Tanggul) menuju pusat kota. Event ini membawa berkah langsung bagi ribuan pelaku UMKM, pedagang kaki lima, hingga penyedia jasa transportasi keliling. Tajemtra bermakna sebagai simbol kemandirian ekonomi rakyat yang bergerak bersama dalam satu hari penuh.
Dihelat Sejak Era Letkol Soesanto 1977
Tradisi tahunan ini pertama kali dimulai pada tahun 1977. Ide memobilisasi massa untuk berjalan kaki puluhan kilometer dicetuskan di bawah kepemimpinan Bupati Ke-11 Jember, Letkol Soesanto Gondowidjojo. Pada awal kemunculannya, Tajemtra murni digagas sebagai ajang olahraga rakyat untuk memupuk kedisiplinan, ketahanan fisik, serta semangat gotong royong pasca-kemerdekaan. Siapa sangka, rute Tanggul menuju pusat kota Jember ini bertahan hingga hampir setengah abad kemudian atau 49 tahun, terpotong masa pandemic korona dua tahun.
Era Transisi dan Era Modern, Dari MZA Djalal hingga dr. Faida Seiring bergantinya nakhoda pemerintahan di Kabupaten Jember, esensi Tajemtra mulai bergeser dari sekadar olahraga menjadi identitas budaya dan pesta rakyat.
Era Bupati MZA Djalal (2005–2015), Tajemtra mulai dikemas secara masif sebagai instrumen pariwisata daerah. Kreativitas peserta mulai dibebaskan melalui pakaian-pakaian unik dan yel-yel kelompok, yang memicu daya tarik penonton di sepanjang rute jalan raya.
Baca Juga: Tajemtra 2026 Digelar Besok, Jalan Jember-Tanggul Ditutup Bertahap Mulai Pukul 10.00 WIB
Era Bupati dr. Faida (2016–2021): Penyelenggaraan Tajemtra diintegrasikan dengan kampanye kesehatan publik serta penataan regulasi pendaftaran yang lebih terstruktur menggunakan sistem online untuk mengakomodasi peserta luar kota.
Era Bupati Hendy Siswanto (2021–2024), Kebangkitan Pasca-Pandemi. Setelah sempat tersendat akibat pandemi Covid-19, Bupati Hendy Siswanto menghidupkan kembali roh Tajemtra dengan sentuhan ekonomi kerakyatan yang kental. Di bawah arahannya, Tajemtra wajib melibatkan ribuan pelaku UMKM di sepanjang jalur lintasan. Pada gelaran Tajemtra 2024, jumlah pendaftar tercatat menembus 13.698 orang dengan nuansa atribut Merah Putih yang dominan guna membakar kembali semangat nasionalisme masyarakat.
Era Bupati Muhammad Fawait pada tahun 2026 ini, pecahkan MURI. Puncak modernisasi Tajemtra terjadi pada tahun 2026 di bawah kepemimpinan Bupati Muhammad Fawait (Gus Fawait). Tidak hanya sukses memecahkan rekor dengan 25.613 peserta. (nur)
Editor : Hariri HJ