Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Fenomena Cek Khodam Opini: Salman Akif Faylasuf

Halo Jember • Selasa, 25 Juni 2024 | 23:50 WIB
Salman Akif Faylasuf
Salman Akif Faylasuf

AKHIR-AKHIR ini selain ramai perbincangan judi dan pembunuhan juga sedang ramai trend cek khodam di TikTok. Khodam adalah makhluk gaib yang didatangkan untuk manusia sebagai penjaga (bukan untuk benda bertuah). Ada beberapa manusia yang memiliki khodam tetapi di pergunakan untuk hal yang tidak benar.

Rupanya, menurut sebagian ustad, khodam jin biasanya sering digunakan untuk meminta bantuan. Yang jelas, kata Buya Syakur, meminta bantuan atau bekerja sama dengan jin bukanlah sesuatu yang haram secara mutlak. Sebab, jin termasuk makhluk Allah yang mendapatkan beban aturan syariat sebagaimana manusia.

Bukankah Nabi Sulaiman juga pernah meminta bantuan (menyuruh) jin untuk memindahkan atas perintah Allah. Sebagaimana yang dikisahkan dalam Surat Al-Anbiya ayat 82, Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan (Kami tundukkan pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mereka mengerjakan pekerjaan selain itu; dan Kami yang memelihara mereka itu.” (QS. Al-Anbiya [21]: 82).

 Perlu diketahui, hubungan Nabi Sulaiman dengan jin hanya sebatas hubungan seorang dan raja dan rakyatnya, serta tidak menyalahi syariat. Apalagi hal ini merupakan khususiyyah (kurniaan khas) kepada Nabi Sulaiman berdasarkan doanya yang difirmankan Allah SWT, yang artinya: “Dia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (QS. Sad [38]: 35).

Antara Jin dan Khodam

Kata jin diartikan sebagai makhluk halus (yang dianggap berakal). Dari segi bahasa Alquran, kata jin terambil dari akar kata yang terdiri dari tiga huruf, jim, nun dan nun. Menurut pakar, semua kata yang terdiri dari rangkaian ketiga huruf ini mengandung makna ketersembunyian atau ketertutupan. Allah SWT berfirman yang artinya: “Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, ‘Inilah Tuhanku’. Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, ‘Aku tidak suka kepada yang terbenam’.” (QS. Al-An’am [6]: 76).

Dengan demikian, maka berarti jin adalah makhluk gaib yang diciptakan dari api tanpa asap, berakal, tersembunyi dapat berbentuk dengan berbagai bentuk dan mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan berat. Karena tercipta dari api yang sangat panas, maka di diciptakan dalam berbagai macam jenis.

Ada jin yang taat dan ada pula yang durhaka, membangkang terhadap perintah-Nya, dan mengajak kepada kedurhakaan. Sementara jin Muslim adalah makhluk gaib yang taat, mendengar ayat-ayat Allah dengan tekun dan tunduk, dan memahami kandungan-kandungan yang terdapat di dalamnya, serta mengecam para kaum yang membangkang.

Tak hanya itu, jin muslim yang taat dengan tegas dan membantah apa yang disampaikan oleh jin non muslim. Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya Maha Tinggi keagungan Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak beranak. Dan sesungguhnya orang yang bodoh di antara kami dahulu selalu mengucapkan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah.” (QS. Al-Jinn [72]: 3-4).

Sementara khodam adalah ia termasuk kategori jin ifrit. Golongan bangsa jin yang mempunyai kekuatan dan kecerdikan. Jin inilah yang berpotensi sebagai pembantu ataupun khodam bagi manusia. Namun, ada juga ifrit yang muslim dan baik, tentunya bisa menjadi khodam pada manusia-manusia yang muslim dan yang baik pula. Dan ifrit yang berperilaku jahat dan kafir biasanya dimanfaatkan (dijadikan khodam) oleh para tukang sihir dan dukun.

Berbeda halnya dengan jin qarin. Ia adalah makhluk ciptaan Allah yang diciptakan kembar atau serupa dengan manusia, serta sebagai pendamping selama hidupnya. Namun demikian, tidak semuanya jin qarin mengajak kepada kebaikan, tetapi ada juga yang menyesatkan, dan itu semua tergantung manusianya yang terpengaruh terhadap bisikan-bisikan jin tersebut.

Memang benar. Jin mempunyai kodrat yang tidak dimiliki manusia. Oleh karena itu, terkadang mereka mampu melakukan apa yang tidak kita mampu berdasarkan kodrat yang Allah karuniakan buat mereka. Sama seperti kita mampu mencari sesuatu berdasarkan kemampuan yang kita miliki dari teknologi dan lainnya. Begitu juga mereka, namun demikian perkara ini banyak disalahtafsirkan manusia sehingga menyangka makhluk yang bernama jin ini mengetahui serba-serbi hal gaib. Padahal tidak.

Pendapat lainnya

Dalam Surat Al-Jin ayat 6 dinyatakan yang artinya: “Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.” (QS. Al-Jin [72]: 6).

Kata Ustad Adi Hidayat, jika orang berinteraksi dan meminta bantuan dengan jin dalam kehidupannya, maka jin tidak akan memberikan solusi, bahkan masalah yang akan datang. Karena itu, ketika Allah menyampaikan ayat ini ketika menyebut kata al-ins (manusia) maka selalu dipasangkan dengan al-jin (jin), dan secara bahasa maknanya bertentangan.

Kalimat al-jin dan al-ins disebutkan dalam Alquran setidaknya 18 kali dan selalu berpasangan. Maka ketika disebutkan kata al-jin maka kata ins juga disebutkan. kata al-jin dijamakkan menjadi jinnah, dan al-ins menjadi al-nas disebutkan 241 dalam Alquran.

Lalu kenapa Allah selalu menggandengkan kalimat ini dalam Alquran? Salah satunya ingin menjelaskan bahwa antara alam jin dan manusia berbeda. Demikian juga dengan sifatnya. Oleh karena alam jin berbeda dengan manusia maka tidak mungkin dapat memberikan solusi, justru masalah bertambah.

Kata Ustad Adi Hidayat, jika kemudian hari jin menampakkan diri kepada manusia, maka kemungkinan jinnya sedang bermasalah sebab keluar dari fitrahnya, karena fitrahnya jin selalu tersembunyi. Dan yang lebih masalah jika ada manusia yang selalu mencari penampakan jin.

Selain jin juga tidak kelihatan mata, ternyata ia memiliki sifat kasar (tidak lembut). Kenapa demikian? Karena ketika jin masuk ke dalam tubuh manusia (kerasukan), maka perilakunya tidak akan pernah lembut (arogan). Ia akan selalu membuat kegaduhan dan kekacauan.

Terlepas dari itu semua, menghamba kepada khodam (jin dan malaikat) maka sama sekali tidak bisa dibenarkan, dan ini menyalahi syariat. Sebab mereka juga adalah makhluk Tuhan yang memiliki kewajiban mengabdi dan menyembah kepada Allah SWT.

Bahwa seorang hamba di hadapan Tuhannya sama sekali tidak mempunyai kekuatan dan kekuasaan. Ia sebagai makhluk lemah, harus bersikap patuh terhadap apa yang diperintahkannya. Tidak boleh membangkang.

Betapa pun, berhubungan dengan jin adalah berhubungan dengan makhluk gaib yang kemungkinan besar tertipu sangat mungkin terjadi. Jangan dengan jin, terkadang berhubungan dengan sesama manusia saja orang banyak tertipu. Karena itu, sebaiknya menjauhi dari berhubungan dan bergaul dengan jin, meskipun menurut pengakuan jin tersebut dia adalah muslim. Wallahu a’lam bisshawaab.

 

*) Penulis adalah alumnus PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Editor : Halo Jember
#opini #Cek Khodam