Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Bedhidhing, Antara Pengetahuan Lokal dan Pandangan Astronomi Opini: Lailatul Nuraini

Halo Jember • Kamis, 4 Juli 2024 | 16:00 WIB

 

Lailatul Nuraini
Lailatul Nuraini

FENOMENA bedhidhing atau bediding sedang hangat diperbincangkan di jagat dunia maya maupun dunia nyata. Khususnya di Kabupaten Jember atau wilayah Pulau Jawa secara umum. Meski sejatinya fenomena ini secara rutin terjadi pada tiap tahun. Namun, hal ini selalu menarik untuk diulas.

Pada kondisi bedhidhing ini suhu udara lebih rendah dari bulan lainnya. Perbedaan suhu mencolok yang dirasakan ini sedikit banyak memengaruhi aktivitas masyarakat. Istilah bedhidhing berasal dari bahasa Jawa yang berarti udara dingin atau angin dingin kering. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), musim bediding merupakan musim peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau.

Fenomena bedhidhing dapat terjadi karena adanya pergerakan angin monsun/muson timur yang berasal dari daratan Benua Australia membawa massa udara yang kering dan bersuhu rendah (dingin) ke daratan Indonesia terutama daerah bagian selatan seperti pulau Jawa, Bali, NTB dan NTT.

Masa udara kering berasal dari Benua Australia karena sebagian besar wilayah barat dan utara Australia ini merupakan gurun pasir dan Australia sedang mengalami musim dingin.

Pada saat Australia mengalami musim dingin (suhu rendah) maka tekanan udaranya tinggi sedangkan di Indonesia suhu nya lebih tinggi (tekanan rendah) sehingga angin bertiup dari Benua Australia menuju daratan Indonesia. Ketika menuju khatulistiwa, Gaya Coriolis akan membuat angin berbelok ke arah kanan. Angin monsun timur menyebabkan terjadinya musim kemarau di Indonesia.

Selain itu, kondisi dingin ini (suhu udara rendah) diperkuat dengan posisi matahari yang sedang berada di lintang utara yaitu berada di posisi terjauh yaitu 23,5 derajat LU pada tanggal 21 Juni.

Sedangkan pada tanggal 22 Juni merupakan tanggal hari pertama matahari kembali dari garis balik utara (LU) menuju garis balik selatan (LS). Di sisi lain, pada pengetahuan lokal masyarakat Jawa fenomena ini menjadi penanda dalam perhitungan aturan musim yang dikenal dengan istilah pranata mangsa.

Pranata mangsa dikenal sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat Jawa menggunakan sistem penanggalan tradisional sejak ribuan tahun lalu dan baru diresmikan sebagai suatu kalender baru oleh Pakubuwono VII di Surakarta (1830-1858). Pranata mangsa memuat informasi tentang perubahan dan pergantian musim pada tiap tahun.

Sebagaimana diungkapkan dalam buku Pranata Mangsa karya Handayani (2019); Fidiyani dan Kamal (2012), serta artikel ilmiah karya Wisnubroto (1995), terdapat 12 mangsa dalam pranata mangsa yang dihitung berdasarkan gerak semu tahunan matahari. Ke-12 mangsa ini yaitu mangsa kasa, mangsa karo, mangsa katelu, mangsa kapat, mangsa kalima, mangsa kanem, mangsa kapitu, mangsa kawolu, mangsa kasanga, mangsa kasadhasa, mangsa destha, dan mangsa sadha.

Masyarakat Jawa mengenal tanggal 22 Juni sebagai hari pertama dalam pranata mangsa yang disebut dengan mangsa kasa yang berakhir pada tanggal 1 Agustus (berjumlah 41 hari). Ciri mangsa kasa yaitu arah angin dari timur laut menuju ke arah barat daya, dedaunan berguguran, suhu udara dingin di malam dan pagi hari sedangkan siang begitu terik.

Mangsa kasa ini biasa disebut mangsa terang atau mangsa ketigo dalam Bahasa Jawa. Selain itu, pada mangsa kedua belas yang disebut mangsa sadha yaitu dimulai pada tanggal 12 Mei hingga 21 Juni (berjumlah 41 hari) juga mengalami mangsa terang. Pada mangsa ini sedikit sekali curah hujan bahkan tidak terjadi hujan, angin bertiup dari arah timur ke arah barat, serta orang sukar berkeringat karena udara dingin ini dan dikenal dengan musim dingin kering (bedhidhing).

Mangsa terang terdiri dari mangsa sadha dan mangsa kasa. Mangsa terang pada istilah Jawa ini menunjukkan suasana terang (tidak berawan).

Secara ilmu astronomi, menunjukkan bahwa pada kondisi atmosfer tidak berawan, maka pada siang hari sinar matahari berupa radiasi gelombang elektromagnetik mudah masuk hingga ke permukaan bumi sehingga siang hari begitu terik.

Akan tetapi, pada malam dan pagi hari udara begitu dingin karena radiasi matahari yang sudah masuk ke area permukaan bumi mudah dilepaskan kembali ke angkasa, mengingat pada kondisi ini atmosfer sedang tidak berawan atau sedikit awan yang menjadi penghalang. Kondisi ini terjadi pada musim kemarau.

Berbeda dengan saat musim hujan, atmosfer sering berawan sehingga mampu menahan radiasi gelombang elektromagnetik matahari untuk kembali ke angkasa akibatnya radiasi tersebut terpantul kembali ke permukaan bumi.

Hal ini mengakibatkan adanya peningkatan suhu di permukaan bumi, sehingga kita sebagai manusia merasakan suhu lebih tinggi (panas). Itulah mengapa pada musim kemarau suhu udara terasa lebih dingin dibandingkan saat musim hujan pada malam hari.

Secara astronomis, pergerakan semu tahunan matahari dan perubahan musim merupakan akibat dari kemiringan sumbu rotasi bumi terhadap bidang orbitnya mengitari matahari.

Gerak semu tahunan matahari dapat dipetakan menjadi empat bagian yaitu Autumnal Equinox di 0 derajat Khatulistiwa (21 Maret), 23,5 derajat Lintang Utara (21 Juni), Vernal Equinox di 0 derajat Khatulistiwa (23 September), dan 23,5 derajat Lintang Selatan (22 Desember).

Gerak semu tahunan matahari dapat menjadi perhatian masyarakat karena menentukan musim yang terjadi dan memengaruhi kegiatan agrikultur (pertanian) yang dilakukan serta kegiatan penangkapan ikan di laut oleh nelayan.

Perbedaan suhu yang mencolok yang terjadi antara siang dan malam hari pada musim bedhidhing ini membuat kita juga harus menyesuaikan aktivitas dan menjaga stamina tubuh agar dapat beradaptasi dengan baik.

Melakukan aktivitas seperti olahraga sangat disarankan untuk kesehatan; minum, makan, dan istirahat yang cukup merupakan kegiatan yang dianjurkan agar tubuh tetap fit dalam berbagai kondisi cuaca.

Fenomena bedhidhing menunjukkan bahwa peristiwa alam yang terjadi di lingkungan sekitar kita tanpa disadari merupakan fenomena astronomi yang bisa dijelaskan secara ilmiah. Harapannya adalah masyarakat bisa memiliki kesadaran terhadap berbagai fenomena astronomi yang terjadi sehingga mampu menyikapinya dengan bijak.

*) Penulis adalah dosen Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Jember.

 

 

Editor : Halo Jember
#opini #cuaca