KITA tidak menampik bahwa Jember mulai mengusung kekreatifan dengan tema lokal yang mendunia. Jember Fashion Carnaval (JFC) menjadi identitas lokal yang menuntut perhatian semua kalangan, terutama pemerintah kabupaten (pemkab).
Secara sosial-politik, JFC bisa dimasukkan ke dalam kebijakan sarana tepat guna yang mendongkrak pariwisata sekaligus perekonomian. Tentu ada cita rasa khas bahwa JFC tidak bisa dipahami sebagai konteks sosial-politik. Sebab, JFC adalah persoalan budaya yang lahir dari komunitas kreatif dengan turut peduli memajukan Jember.
Jarang sekali perhatian khusus diberikan kepada sebuah event jika tak menorehkan prestasi. Sebab, harus ada keuntungan berimbang yang diberikan sebuah event kepada pemerintah. Yaitu ada gejala tak terbendung bahwa wisatawan akan berdatangan dengan naiknya 100 persen hunian hotel.
Bahkan hal ini memberi pemahaman rinci jika Jember dikenal di pentas dunia mampu memandang bahwa Jember tak dilihat sebelah mata lagi.
Apa yang menjadi konflik sosial-politik jika JFC adalah persoalan budaya sebagaimana diungkapkan sebelumnya? Tidak ada jawaban dan data yang lugas sekaligus nyata bahwa hal ini terjadi. Sebab, keragaman kultural Jember menyatukan lintas generasi tanpa batas lagi.
Jauh di lubuk hati terdalam masyarakat tentu masyarakat mengharapkan kualitas JFC mampu naik. Tidak hanya dari talenta, tema yang diusung bahkan kostum. Tentu harus ada perhatian besar pemkab dengan menyalurkan bantuan materi dan nonmateri.
Sebab, kemajuan sebuah event yang sudah “khas” adalah menggali dari nilai asli daerah. Meskipun kita tidak memungkiri, JFC bukanlah budaya asli. Melainkan lahir dari adaptasi kreativitas sebagaimana diungkapkan sebelumnya.
Apa pun alasannya, JFC tidak boleh dikaitkan dengan momentum politik yang dikhawatirkan dipolitisasi sebagai “tunggangan” menaikkan elektabilitas sebuah figur calon bupati atau calon wakil bupati. Biarlah JFC melaju di atas angin dengan membawa kesegaran yang mampu dirasakan bagi kelegaan moral semua pihak tanpa terkecuali.
Oleh karena itu, patut digarisbawahi bahwa JFC merupakan cermin refleksi dari gerakan komunitas kreatif masyarakat yang peduli akan rasa cinta lokal dan cinta tanah air. Apalagi JFC hadir ketika mendekati hari perayaan kemerdekaan bangsa, beberapa waktu lagi.
Setidaknya tak mengurangi esensi budaya yang merestui segala sekalian alam. Artinya, JFC mampu mengusung nilai asli lokal daerah dengan kreativitasnya. Ini patut digali lebih dalam lagi agar masyarakat tak jenuh dengan tampilan JFC tetap bergaya berkostum “burung merak”.
Penulis tidak mau membahas hal itu akibat konteks kreativitas budaya setidaknya dibahas secara antropologis. Namun, pemahaman secara sosial-politik di sini tidak hanya menuntut perhatian atau kebijakan terpadu semata.
Sebab, JFC menjalin rasa kebersatuan masyarakat Bhinneka Tunggal Ika dalam kacamata bangsa dan negara. Tak peduli apa pun latar belakang suku, agama, ras, maupun bangsa (SARA). Semua bisa terjun mengikuti dan menonton kegiatan event JFC tanpa terkecuali.
Di situlah terjadi sebuah ketertiban sosial-politik. Bahwa, hiburan akan menyegarkan kita jika disuguhi memanasnya suhu atau iklim politik masyarakat akibat mempersiapkan diri menyongsong Pilkada Jember 2024 yang akan dilaksanakan Oktober nanti. Agaknya masyarakat perlu peregangan dengan hal-hal segar sehingga psikologi sosial-politik publik bisa kendur sejenak.
Oleh karena itu, Jember kreatif sebagai kota tata budaya tak boleh pula melupakan pemberitaan sosial-politik. Paling tidak bisa dijadikan wacana edukatif yang cerdas bahwa setiap event budaya menjawab persoalan sementara.
Bagaimana kepedulian cabup terhadap event budaya skala lokal yang mendunia? Apakah perlu strategi matang dan tepat guna untuk meningkatkan kualitas JFC? Sejauh mana event JFC dipertahankan selama beberapa generasi sehingga tak luntur di kemudian hari? Pada gilirannya, semua berpulang pada animo masyarakat untuk selalu tergerak mendukung gelaran budaya.
Sebab, politik itu janganlah selalu dipahami dan ditafsirkan sebagai seni atau permainan pencitraan diri. Politik seharusnya mengusung sekaligus mengemban misi kemanusiaan yang tercerahkan. Di dalam JFC kita tidak menampik ada misi kemanusiaan yang secara filosofis peduli terhadap lingkungan dan alam sekitar.
Misalnya JFC bertemakan dan memakai bahan dari alam serta lingkungan sekitar dengan dunia hewan atau pepohonan. Berarti, secara sadar atau tidak sadar, sebuah elan vital JFC merefleksikan akan pentingnya menjaga kelestarian alam.
Nilai yang patut dijaga dan diselaraskan dengan keharmonian berpadu pada tingkat kreativitas yang bagus dan manajemen mumpuni. Dengan begitu, Jember kreatif sebagai kota tata budaya mengangkat derajat sosial-politik masyarakat.
Bahwa, JFC adalah parade yang melibatkan massa atau orang banyak sehingga melihat secara langsung event itu berada pada kebijakan pemkab sesuai yang diharapkan.
Apakah realitasnya begitu? Kita bisa simak pada kepedulian pemkab sekaligus animo masyarakat sampai selesai digelarnya “pertunjukan” wahana terbesar kebanggaan masyarakat Jember ini.
*) Penulis adalah alumnus S-1 Jurusan Sosiologi FISIP Unej yang memiliki minat dalam penulisan sosial-politik lokal, nasional, dan internasional.
Editor : Halo Jember