Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Kepramukaan Membantu Gen Alpha Siap Hidup Opini: Muchamad Taufiq

Halo Jember • Senin, 19 Agustus 2024 | 03:08 WIB

Muchamad Taufiq
Muchamad Taufiq

GERAKAN Pramuka adalah organisasi yang dilahirkan oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka (UU Gerakan Pramuka). Gerakan Pramuka selaku penyelenggara pendidikan kepramukaan mempunyai peran besar dalam pembentukan kepribadian generasi muda.

Melalui kepramukaan diharapkan generasi muda memiliki pengendalian diri dan kecakapan hidup untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Generasi Z dan Alpha membutuhkan concern bagi orang tua. Generasi Alpha yang lahir antara 2010-2025, dibutuhkan strategi khusus untuk mendidiknya. Anak-anak yang lahir pada generasi ini mereka mahir teknologi, namun lemah dalam menghargai nilai-nilai kekeluargaan dan membangun nilai-nilai luhur dalam keluarga.

Mereka adalah generasi pertama yang lahir dan tumbuh dalam era digital yang sepenuhnya terhubung dengan teknologi, internet, dan media sosial. Generasi Alpha atau yang dikenal juga sebagai “anak-anak milenium” merupakan generasi termuda saat ini.

Generasi ini masih berada di usia anak-anak, maka karakteristik umumnya masih belum terlihat jelas. Di masa mendatang generasi ini akan menjadi kelompok yang sangat besar dengan hak mereka sendiri. Pola pembinaan yang tepat saat ini akan sangat menentukan masa depan mereka.

Guna mengisi kekosongan antara pendidikan di rumah (informal) dan sekolah (formal), maka Gerakan Pramuka dibutuhkan melalui penyelenggaraan pendidikan nonformal kepramukaan.

Pendidikan kepramukaan adalah proses pembentukan kepribadian, kecakapan hidup, dan akhlak mulia Pramuka melalui penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kepramukaan. Nilai-nilai kepramukaan sarat dengan filosofi kehidupan serta romantika perjuangan bangsa.

Saat ini, generasi muda mulai jauh dengan sejarah bangsanya serta nilai-nilai kejuangan’45 yang sarat dengan nilai luhur dan budaya luhur Indonesia. Menyanyikan lagu kebangsaan sulit menghafal syairnya, lagu-lagu nasional mulai asing di telinga dan tidak mengenal baik para pahlawan bangsanya. Bagaimana masa depan bangsa ini ketika para generasi muda calon pemimpin bangsa telah jauh dari sejarah bangsanya serta miskin penguasaan nilai-nilai luhur budayanya sendiri?

Pendidikan kepramukaan dalam menggolongkan peserta didiknya menggunakan kiasan dasar dengan romantika perjuangan bangsa. Misalnya, tingkatan Siaga (7-10 tahun) ini dilatarbelakangi era kebangkitan bangsa Indonesia dalam usaha merebut kemerdekaan, yaitu 20 Mei 1908, lahirnya Boedi Oetomo.

Tingkatan Penggalang (11-15 tahun) ini dilatarbelakangi semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Tingkatan Penegak (16-20 tahun) romantika Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Tingkatan Pandega (21-25 tahun) mewakili masa-masa mengisi kemerdekaan dengan pembangunan. Hal demikian tersaji jelas dalam kurikulum kepramukaan yang disebut Syarat Kecakapan Umum (SKU) dalam menapak setiap tingkatannya.

Gerakan Pramuka sejatinya alat bagi pemerintah untuk mencapai tujuannya yaitu penguatan karakter generasi muda. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2022 Tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Pelayanan Kepemudaan (Perpres 43/2022) memberikan arah kepada kita tentang pentingnya eksistensi pemuda dalam proses pembinaan mental.

kepramukaan selalu menghadirkan orang dewasa dalam setiap prosesnya. Karena sejatinya pertumbuhan pemuda haruslah selalu mendapatkan bimbingan dan arahan yang baik. kepramukaan tetap serius dengan sistem among “asah, asih dan asuh” serta prinsip kepemimpinan Ki Hajar Dewantara yaitu ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Ini konsep kepemimpinan nasional yang telah dikenalkan sejak 1920. Konon di negara Finlandia, konsep pendidikan Taman Siswa yang digagas Ki Hajar Dewantara ini diterapkan hingga sekarang.

Contoh perkemahan besar dalam kepramukaan adalah jambore. Jambore adalah alat bukan tujuan. Melalui Jambore terjadi proses: menanamkan, memupuk dan mengembangkan rasa cinta pada Tuhan Yang Maha Esa untuk memperteguh keyakinan beragama.

Rasa persahabatan/persaudaraan dan jiwa sosial baik antara sesama Pramuka maupun antara Pramuka dan masyarakat, rasa cinta pada alam, bangsa dan negara, serta mempertebal kepercayaan pada diri sendiri, dan jiwa patriotisme untuk menggalang kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.

Pramuka (7-25 tahun) sebagai peserta didik sangatlah efektif menjadi subyek sekaligus objek pencapaian program pemerintah, misalnya menekan tingkat stunting serta anti-kekerasan dan anti pornografi.

Metode kepramukaan satuan terpisah, sangat efektif bagi para pembina untuk menyampaikan pesan-pesan moral di atas. Diharapkan peserta didik akan mengimbaskan kepada teman sebayanya. Sungguh strategis eksistensi Gerakan Pramuka di sekolah dan di masyarakat khususnya Gen Z, Gen Alpha di era AI.

kepramukaan memiliki korelasi signifikan dengan tujuan mencetak generasi emas 2045. Kekuatan Dahsyat Kiasan Dasar dalam kepramukaan menjadikan Pramuka memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara sebagai The Power of Character bagi generasi muda. Presiden, Gubernur, Bupati/ Walikota/ Camat, dan Kepala Sekolah adalah Ketua Majelis Pembimbing di setiap tingkatannya atas amanah Undang-Undang Gerakan Pramuka, pasal 33.

Sekolah sebagai satuan pendidikan kepramukaan terdepan memiliki peran strategis. Seorang Kepala Sekolah ex-officio sebagai Kamabigus selaku pimpinan satuan pendidikan bertugas memberikan bimbingan moral dan organisatoris serta memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan kepramukaan (AD pasal 39). Adalah sebuah ironi jika terbit Permendikbud Nomor 12 Tahun 2024 yang menghapus kepramukaan sebagai ekstrakurikuler wajib di sekolah.

*) Penulis adalah Andalan Nasional Gerakan Pramuka Bidang Orgakum, Wakil Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Lumajang, dan Pengajar di Pasca Sarjana ITB Widya Gama Lumajang.

Editor : Halo Jember
#opini #ki hajar dewantara #pramuka