Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Memaknai dan Mensyukuri Kemerdekaan Indonesia Opini: Nurtaufik

Halo Jember • Selasa, 20 Agustus 2024 | 22:00 WIB

Nurtaufik
Nurtaufik

SALAH satu hal yang patut disyukuri oleh bangsa Indonesia adalah anugerah kemerdekaan. Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada tahun 2024, Indonesia memperingati hari kemerdekaannya yang ke-79 tahun.

Tema yang diusung adalah Nusantara Baru, Indonesia Maju. Salah satu hal yang menjadi momentum penting memperingati kemerdekaan adalah pelaksanaan upacara yang bertempat di Ibu Kota Negara (IKN).

Berbicara kemerdekaan, tentu tidak lepas dari perjuangan para leluhur bangsa. Perjuangan yang disertai dengan pengorbanan jiwa raga. Maka siapa pun yang mengaku berjuang, sudah seharusnya disertai dengan pengorbanan. Dalam perjuangan merebut kemerdekaan, banyak para pejuang yang gugur di medan perang.

Menjadi dan berada negara merdeka, adalah harapan dari seluruh bangsa di mana pun berada. Dengan kemerdekaan, seluruh aktivitas kehidupan sehari-hari bisa dilakukan tanpa terbelenggu ketakutan dan ancaman.

Kebebasan beribadah menurut keyakinan masing-masing sesuai agama yang dianut. Barangkali saat ini kita menyaksikan bagaimana sengsaranya negara yang belum mampu memproklamasikan kemerdekaannya. Seperti yang dialami negara Palestina, misalnya. Kita doakan semoga kemerdekaannya segera tercapai.

Dalam pembukaan UUD 1945 dijelaskan bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak seluruh bangsa. Oleh sebab itu, penjajahan harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Ini sebuah penegasan yang penting untuk terus ditanamkan kepada para generasi sepanjang zaman. Siapa pun dia, dari mana pun, dengan alasan apa pun bahwa penjajahan tetap tidak dibenarkan.

Dalam perjuangan mencapai kemerdekaan, para leluhur bangsa mengajarkan kepada kita tentang semangat cinta tanah air. Sehingga semangat tersebut membuka kesadaran seluruh elemen bangsa untuk terus berjuang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Kita seringkali mendengar istilah merdeka atau mati, isy kariman aw mut syahidan, hingga hubbul wathan minal iman.

Mereka terpanggil berjuang bukan semata-mata ingin disebut sebagai pahlawan, ingin meraup keuntungan dari jasa-jasa yang dibaktikan. Namun, semata-mata terdorong keinginan luhur bagaimana negara yang kita cintai ini memiliki kedaulatan sesuai harapan bersama. Memiliki kebebasan dalam berbangsa dan bernegara sesuai dengan aturan yang ada.

Satu hal yang perlu ditegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia diraih bukan karena hadiah dari penjajah, tapi karena anugerah Allah dan perjuangan luhur para leluhur bangsa. Memang beberapa hari sebelum kemerdekaan, Jepang sebagai penjajah Indonesia waktu itu, menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah Hiroshima dan Nagasaki dimusnahkan. Akan tetapi, hal itu bukan penyebab lahirnya kemerdekaan Indonesia.

Mempertahankan Kemerdekaan

Setelah kemerdekaan resmi diproklamasikan, tugas selanjutnya adalah mempertahankan kemerdekaan sehingga kemerdekaan bisa diraih seutuhnya dan selamanya.

Sebagaimana dipahami, kemerdekaan Indonesia diraih atas kontribusi seluruh pihak. Maka para leluhur bangsa terus berikhtiar bagaimana keberagamaan dan keberagaman sebagai kekayaan yang ada dapat terawat dengan baik. Maka mereka merumuskan dasar negara yang mampu merangkul dan mempertemukan seluruh elemen yang ada. Akhirnya lahir Pancasila dengan semboyannya Bhinneka Tunggal Ika.

Walaupun Indonesia sudah merdeka, bukan berarti penjajah benar-benar hengkang dari Indonesia. Di beberapa daerah, para pejuang harus kembali berperang melawan penjajah misalnya pertempuran 10 November di Surabaya yang dikomandoi oleh Bung Tomo.

Sebelum pertempuran terjadi, Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa jihad yang kemudian diputuskan menjadi Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama. Seruan itu mampu menggerakkan kalangan pesantren untuk terlibat langsung membantu arek-arek Surabaya.

Dalam pertempuran tersebut, tentu tidak sedikit para pejuang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih. Sebagai penghargaan, pemerintah menetapkan tanggal 10 November sebagai hari Pahlawan. Selain itu, ada Tragedi Gerbong Maut di Bondowoso yang banyak menggugurkan para pahlawan dengan sangat sadis.

Mereka disekap dalam gerbong kereta tanpa ventilasi udara, Peristiwa Pencurian Senjata di Dabasah Bondowoso dan pengusiran tentara Jepang di Garahan Jember yang dipimpin KHR As'ad Syamsul Arifin, dan sebagainya.
Beberapa tahun kemudian, bangsa Indonesia harus kembali angkat senjata.

Hal ini sungguh sangat memilukan karena musuh kita adalah saudara sesama bangsa Indonesia yaitu pemberontakan G30SPKI. Dengan segala ikhtiar yang dilakukan, gerakan tersebut akhirnya mampu dibinasakan. Satu hal yang patut dicatat, bahwa salah satu kekuatan penting dalam perjuangan adalah persatuan tanpa membeda-bedakan asal daerah.

Mengisi Kemerdekaan

Para leluhur dan pejuang bangsa telah berusaha meraih dan mempertahankan kemerdekaan sepanjang hidupnya. Maka sebagai generasi bangsa seharusnya kita menerima anugerah sekaligus amanat kemerdekaan tersebut dengan berikhtiar mengisi kemerdekaan tersebut.

Kita sudah tidak perlu lagi bersusah payah memanggul senjata melawan penjajah. Akan tetapi bagaimana kita mempersiapkan diri meraih cita-cita dengan sepenuh gairah. Membuktikan cinta terhadap tanah air dengan kecintaan sesungguhnya. Tidak menodai tanah air yang sudah merdeka ini dengan prilaku sebagaimana karakter para penjajah.

Hari ini kita menyaksikan antusias masyarakat di berbagai daerah menyambut hari kemerdekaan Indonesia dengan menggelar berbagai macam kegiatan. Jangan sampai kegiatan yang dilakukan mengekspresikan kemerdekaan dengan. cara kebablasan. Tentu kita sangat miris ketika ada oknum saudara kita yang menggelar kegiatan tanpa mencerminkan makna kemerdekaan itu sendiri.

Hanya sebatas hura-hura sepanjang jalan dengan alasan kebebasan berekspresi namun sejatinya adalah merusak kesakralan kemerdekaan itu sendiri. Kita bersyukur atas kemerdekaan ini, dengan merawat apa yang diwariskan, melanjutkan perjuangan, mewujudkan apa yang dicita-citakan, dan mempersiapkan generasi yang bisa dibanggakan.

*) Penulis adalah guru BK MA Nurut Taqwa, Grujugan, Kecamatan Cermee, Kabupaten Bondowoso.

Editor : Halo Jember
#opini #nusantara #kemerdekaan