Padahal UU Pemajuan Kebudayaan membawa misi revolusioner dalam upaya meningkatkan ketahanan dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia melalui kerja-kerja perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan.
UU ini merupakan wujud keseriusan pemerintah dalam memberikan landasan untuk setiap upaya pemajuan kebudayaan, baik melalui kebijakan maupun penyediaan anggaran yang sistematis dan komprehensif.
Adapun sepuluh objek pemajuan kebudayaan (OPK) dalam UU tersebut adalah tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.
Secara jelas dipaparkan bahwa tujuan pemajuan kebudayaan adalah mengembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, memperkaya keberagaman budaya, memperteguh jati diri bangsa, memperteguh persatuan dan kesatuan bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan citra bangsa, mewujudkan masyarakat madani, meningkatkan kesejahteraan rakyat, melestarikan warisan budaya bangsa, dan mempengaruhi arah perkembangan peradaban dunia.
Tujuan tersebut menegaskan bahwa pemajuan kebudayaan bukan semata-mata tentang pertunjukan. Alih-alih, terdapat kepentingan nasional dan internasional yang harus diperjuangkan. Namun, perhatian pada para pelaku budaya serta kesejahteraan masyarakat tidak boleh diabaikan.
Menyikapi realitas tersebut, pada pilkada 2024 KPUD Jember sudah semestinya memasukkan isu-isu pemajuan kebudayaan dalam tahapan pilkada seperti debat kandidat. Mengapa ini penting? Debat kandidat merupakan arena di mana publik bisa melihat seberapa serius pasangan Hendy Siswanto-Firjaun dan Fawait-Djoko Susanto menyiapkan visi dan program untuk memajukan ragam budaya Jemberan yang sangat kaya.
Tidak hanya pelaku budaya, masyarakat umum juga ingin mengetahui apa-apa yang akan dilakukan para calon pemimpin dalam upaya untuk melindungi ludruk, jaranan, ta’buta’an, can-macanan kaduk, reyog, jemblung, mamaca, glundengan, janger, barongsai, gambus, hadrah, aneka ritual, permainan rakyat, olahraga tradisional, cagar budaya, dan ekspresi budaya lainnya. Paparan para kandidat dalam debat bisa menjadi rujukan untuk mengawasi kerja mereka setelah terpilih.
Media massa juga bisa ikut memantau keseriusan masing-masing kandidat selama proses kampanye. Melalui pemberitaan media, masyarakat Jember bisa mengakses informasi terkait proses kampanye yang dilakukan para kandidat.
Apakah mereka sudah mengakomodasi para seniman dan pelaku budaya dari komunitas di masing-masing lokasi tempat kampanye? Apakah mereka berkenan berbincang dan mendengar keluh-kesah para pelaku seni dan budaya secara bijak serta memberikan alternatif solusi bagi permasalahan yang terjadi?
Meskipun dalam rangka kampanye, kehadiran kandidat yang menempatkan para pelaku seni dan budaya sebagai subjek yang mesti diajak berbincang dan didengarkan suaranya menandakan tindakan empati. Harapannya, para pelaku bisa menitipkan upaya-upaya pengembangan seni dan budaya Jemberan kepada para kandidat, khususnya isu kesejahteraan.
Baca Juga: Opini WTP Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Wujud Komitmen Mencapai Kesejahteraan Masyarakat
Bagaimanapun juga, kesejahteraan menjadi salah satu kunci penting dalam kerja-kerja pemajuan kebudayaan yang harus ditekankan dalam setiap kebijakan dan program yang akan dilaksanakan para kandidat.
Lebih dari itu, para pelaku budaya, akademisi, pendidik, dan masyarakat perlu untuk menelaah dan memahami keseriusan masing-masing pasangan kandidat dalam upaya mengembangkan dan memperkuat ekosistem budaya di mana terdapat proses kultural yang diwarnai relasi dan komunikasi kreatif antara pelaku, pengguna, lingkungan, dan unsur-unsur kebudayaan.
Pemahaman para kandidat dalam memformulasi strategi akan menentukan kemungkinan ketercapaian pemajuan kebudayaan di Jember.
Dalam konteks Jember, kita bisa menakar bersama-sama seberapa serius dan komprehensif para pasangan kandidat dalam memperjuangkan beberapa strategi berikut. Pertama, mengupayakan ruang bagi keragaman ekspresi kultural dan mendorong interaksi berbagai pihak untuk memperkuat ragam budaya yang lahir dari era kolonial hingga saat ini.
Kedua, melindungi dan mengembangkan ragam nilai, ekspresi dan praktik budaya lokal untuk memperkaya kebudayaan nasional. Jadi, bukan hanya satu bentuk kesenian atau budaya dominan tertentu yang akan dikembangkan.
Ketiga, memaksimalkan manfaat budaya untuk meningkatkan kesejahteraan para pelaku dan masyarakat. Keempat, memajukan kebudayaan yang melindungi keanekaragaman hayati dan memperkuat ekosistem. Isu lingkungan menjadi keprihatinan global, para kandidat perlu memikirkan kebijakan yang mendorong lahirnya karya-karya budaya yang mendukung keberlanjutan dan konservasi alam.
Kelima, perlu juga ditelisik seberapa serius para pasangan kandidat memikirkan reformasi kelembagaan dan penganggaran untuk mendukung upaya pemajuan kebudayaan. Keenam, memperbarui visi dan kinerja instansi-instansi terkait di Pemkab Jember dengan menempatkan mereka sebagai fasilitator upaya strategis dan praksis dalam pemajuan kebudayaan.
Di tangan pemimpin yang tepat, ragam budaya yang lahir dari proses historis nan panjang di Jember bisa menjadi kekuatan kreatif yang bisa memperkuat nilai-nilai kebangsaan. Selama kepemimpinan Hendy Siswanto-Firjaun, upaya-upaya pemajuan kebudayaan memang sudah lumayan bagus.
Tidak hanya melanjutkan JFC, Pemkab Jember dan institusi-institusi kultural juga membuat banyak acara seni, sastra, ritual yang membawa misi ekonomi kreatif, keberlanjutan ekologis, dan keberdayaan para pelaku.
Dewan Kesenian Jember bersama para seniman rakyat, misalnya, melaksanakan Krida Sinatria Bhumi Watangan (2022-2023) di Desa Lojejer, Wuluhan, sebagai gerakan ekologis-kultural untuk mempertahankan benteng alam di selatan Jember melalui jalan kebudayaan. Jember menjadi tuan rumah untuk Malam Puncak Galang Gerak Budaya Tapal Kuda (2023).
Dalam konteks musik, Linkrafin mampu menghasilkan karya-karya hybrid-kontemporer berbasis ragam musik etnis di Jember. Komunitas Srawung Sastra menyelenggarakan aktivitas sastra yang merangkul kaum muda. Dan, masih banyak kegiatan lain yang bisa dilanjutkan dan dikembangkan.
Baca Juga: Mitos Menabrak Kucing Hitam Dalam Budaya Jawa, Begini Penjelasannya
Meskipun demikian, masih ada persoalan yang perlu terus diperbaiki, seperti masih kurangnya upaya penguatan kesenian rakyat.
Tugas pemimpin Jember ke depan adalah menyiapkan kebijakan dan program budaya yang tetap berpijak kepada keragaman kultural dengan menekankan pada kesejahteraan pelaku dan masyarakat serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Institusi kultural dan para pelaku budaya mesti dilibatkan secara aktif sehingga mereka menjadi subjek yang ikut melaksanakan upaya pemajuan kebudayan.
Penulis adalah Koordinator Pusat Kajian Pemajuan Kebudayaan Unej dan Sekretaris Umum Dewan Kesenian Jember
Baca Juga: Mitos Ketika Kupu-Kupu Menyapa: Tanda Bahagia Akan Kedatangan Tamu
Editor : Dwi Siswanto