TEMA HSN tahun ini: Menyambung Juang, Merengkuh Masa Depan. Tema itu bagus dan elegan. Sebagaimana disampaikan menteri agama, Yaqut Cholil Qoumas bahwa tema itu menegaskan pentingnya kontribusi santri dalam membangun masa depan, bangsa yang lebih cerah, adil, makmur dan saling toleran.
“Saya mengajak seluruh santri di Indonesia untuk bersama-sama berjuang menuju masa depan Indonesia yang lebih baik,” ucapnya yang dirilis di laman Kemenag RI pada Rabu (9/10/2024).
Jika santri dulu ditantang ikut berjibaku melawan penjajah, santri kini punya tantangan berbeda. Tantangan santri masa kini tidak kalah berat dibanding masa lalu. Hanya saja, bentuk tantangannya berbeda. Senjata dipakai juga berbeda.
Mereka memiliki akses ke teknologi informasi dan komunikasi yang memungkinkan mereka lebih gampang terhubung dengan dunia luar ketimbang dulu yang masih minim teknologi. Dan tantangan tersebut merupakan tantangan yang transparan dalam lingkungan sosial.
Selain itu, santri masa kini juga memiliki peran sentral dalam mempromosikan keberagaman dan toleransi dalam masyarakat. Sebagai penyambung lidah, mereka memainkan peran aktif dalam menjembatani antar kelompok dan memperkuat harmoni sosial di tengah masyarakat kita yang multikultural.
Namun, mampukah santri masa kini menjadi motor penggerak dalam perubahan dan kemajuan di masyarakat tanpa meninggalkan esensi dan nilai-nilai Islam yang mereka pelajari? Sedangkan mudahnya akses teknologi informasi terkadang membuat mereka semakin malas-malasan dan marak terjadi penyalahgunaan.
Memang di era yang serba pragmatis dan instan ini mereka mudah untuk mengakses ilmu agama dan mendapatkan relasi tanpa adanya orientasi. Namun tidak sadarkah kita bahwa maraknya kasus-kasus penipuan, pemerkosaan, dan hal-hal negatif lainnya, merupakan dampak dari penyalahgunaan teknologi informasi.
Oleh sebab itu, santri masa kini harus selektif terhadap media informasi dan harus mempertimbangkan apakah asumsi yang didapat dapat terjamin keautentikan sumbernya. Sehingga, tekanan dari dunia luar yang serba cepat dan kompetitif, tidak membuat mereka menyimpang sekaligus lupa akan amalan di pondoknya, dan tetap menjaga identitas jati dirinya sebagai santri.
Bukti konkrit mereka dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan dunia modern dengan nilai-nilai tradisi yang mereka junjung tinggi merupakan sebuah refleksi sekaligus bentuk partisipasi membangun masa depan bangsa yang mapan dan juga representasi fitrahnya santri.
Selain itu, santri perlu menjaga reputasi pesantren. Harus disadari, munculnya beberapa kasus belakangan ini mencoreng citra baik pesantren. Kasus-kasus seperti pelecehan seksual di beberapa pesantrean.
Ataupun kasus kekerasan seksual oleh santri terhadap sesama santri, haruslah diupayakan tidak terulang lagi. Citra baik kepesantrenan harus direhabilitasi. Oleh oknum-oknum pesantren dan santri sendiri.
Orang-orang pesantren termasuk oknum-oknumnya yang memegang kendali, harus menyadari bahwa di era transformasi ini, hampir tidak ada yang bisa dirahasiakan. Pun terjadi di lingkungan pesantren, terutama hal-hal berbau negatif, berpeluang mudah tersebar keluar.
Kita tidak usah menuduh ada orang lain punya perspektif buruk terhadap pesantren. Tetapi kitalah harus lebih dulu menjaga nama baik pesantren. Jika pesantren memang baik, tentu tidak mudah bagi orang lain untuk menjelekkannya. Sebaliknya, jika pesantren ada aib, tentu orang luar akan mudah menyebarkan aib tersebut.
Lalu bagaimanakah setelah santri melewati tantangan dari segi eksternal? mungkinkah santri masa kini lebih maslahat tidak menggunakan media informasi sebagai sarana perkembangan zaman? Jika melihat dari kasus-kasus yang marak terjadi. Sedangkan di lain sisi media informasi sebagai alat digitalisasi dakwah santri masa kini dan memperluas wawasan.
Santri harus punya sikap, jangan mau menjadi korban berita hoax. Juga, jangan mau menjadi pembuat dan penyebar berita-berita hoax. Ibarat narkoba, santri jangan menjadi produsennya. Juga jangan menjadi pengedarnya. Menjadi pemakainya pun jangan.
Jangan meniru oknum-oknum di luar sana. Ada yang tugasnya mencegah perdagangan narkoba. Tapi, mereka justru berdagang narkoba. Jangan ya dek ya, jangan!
Contoh berita-berita yang hoax. Saat Gibran Rakabuming Raka Wakil Presiden Republik Indonesia, berpidato mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden. Ternyata, berita video itu hoax. Video tersebut ternyata hasil manipulasi lewat AI, yang sebenarnya pernyataan Gibran mengundurkan diri sebagai Wali Kota Solo buka Wakil Presiden.
Santri selain harus anti hoax, juga anti ujaran kebencian saat ini kian marak. Juga, anti ujaran kotor. Biasanya, ujaran kebencian atau ujaran kotor keluar dari orang-orang yang intoleran. Kurang bisa berdamai dengan keadaan.
Akibatnya, mereka memandang orang lain yang berbeda pandangan sebagai orang salah dan sesat. Mereka menganggap hanya diri mereka yang benar. Akibatnya, mereka mendiskriminasi orang lain karena tidak sepemikiran. Hal tersebut sangat menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam.
Anti hoax, anti ujaran kebencian, dan anti kata kotor adalah bagian dari menjaga martabat kemanusiaan. Sebaliknya, menyebarkan sesuatu yang hoax, menggunakan ujaran kebencian dan merendahkan, itu bagian dari melecehkan martabat kemanusiaan.
Kaum santri tentu berkewajiban melakukan amar makruf dan nahi munkar. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah bagian dari menjaga martabat kemanusiaan. Seperti yang dicontohkan para mujahid kita dulu, yang berjihad memperjuangkan kemerdekaan.
Dengan melakukan amar makruf dan nahi munkar, secara tidak lansngsung kita sudah menyambung juang para pahlawan dan mujahid yang sudah gugur di medan perang. Sebaliknya, melakukan kemungkaran, termasuk membiarkan banyak kemungkaran adalah bagian dari merendahkan martabat kemanusiaan. Dan bentuk persetujuan atas kaum kolonial.
Semoga, dengan tulisan ini. Semangat memperingati Hari Santri selalu berkobar untuk menyuarakan amar makruf dan nahi munkar. Pun kaum santri bertransformasi untuk perbaikan bangsa dan negara ini. Selamat hari santri, dan semangat ngaji.
*) Penulis adalah mahasiswa Prodi Perbankan Syariah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubsel Sumenep.
Editor : Halo Jember