INDONESIA merupakan negara dengan keindahan alam yang memikat. Termasuk wilayah-wilayah terpencil yang memiliki potensi wisata luar biasa. Namun, di balik pesona alam yang memukau, banyak daerah wisata di Indonesia yang masih tergolong tertinggal dalam hal pembangunan infrastruktur.
Termasuk layanan Kesehatan dan tenaga kesehatan yang mengabdikan diri di wilayah-wilayah itu. Di sinilah peran tenaga kesehatan menjadi sangat krusial dalam memberikan pelayanan dan mendukung perkembangan masyarakat setempat. Daerah yang memiliki potensi wisata, seperti desa-desa di pegunungan, sering kali menjadi daya tarik wisatawan untuk mengunjungi wisata tersebut.
Pada kenyataannya, tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam mengabdikan diri di wilayah, seperti menyediakan layanan medis dasar untuk masyarakat setempat, menangani penyakit umum, serta membantu persalinan dan imunisasi.
Daerah wisata yang sering dikunjungi orang dari luar berpotensi menyebarkan penyakit menular sehingga tenaga kesehatan harus proaktif dalam mengawasi dan mencegah penyebarannya.
Tenaga kesehatan juga dapat terlibat dalam edukasi mengenai sanitasi, kebersihan, dan air bersih, hal yang sangat penting untuk menjaga kualitas kesehatan masyarakat lokal maupun wisatawan yang berkunjung.
Pengabdian tenaga kesehatan di daerah tertinggal yang memiliki potensi wisata adalah bentuk dedikasi yang luar biasa. Di mana mereka tidak hanya menjaga kesehatan masyarakat lokal, tetapi juga berperan dalam menciptakan lingkungan wisata yang tetap aman dan sehat.
Meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan, kombinasi antara pengembangan sektor pariwisata dan peningkatan layanan kesehatan di wilayah memiliki potensi besar untuk menciptakan dampak positif yang berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat lokal. Kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah setempat, dan sektor pariwisata menjadi kunci utama dalam mencapainya.
Kabupaten Jember memiliki sebuah destinasi wisata, yaitu SJ-88, tepatnya di Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk. Lokasi ini dikenal sebagai negeri di atas awan karena pengunjung dapat melihat hamparan luas Kota Jember dari ketinggian 880 MDPL.
Lokasi ini cocok bagi pengunjung yang menyukai olahraga hiking, karena harus ditempuh dengan berjalan kaki melalui jalanan penuh tanjakan. Namun, rasa lelah terbayarkan dengan indahnya sisi kanan dan kiri jalan yang penuh dengan hamparan hijau sawah dan pepohonan rindang.
Namun, di balik indahnya pesona wisata SJ-88, lokasi wisata ini masih tergolong tertinggal dalam hal fasilitas layanan kesehatan. Di Desa Sucopangepok hanya terdapat satu fasilitas kesehatan, yaitu Polindes (Pondok Bersalin Desa) yang berjarak 10 KM dari wisata SJ-88. Selain itu, terdapat fasilitas kesehatan berupa Puskesmas Jelbuk yang jaraknya cukup jauh dari lokasi wisata SJ-88.
Baca Juga: Rejuvenasi Santri di Era Transformasi Opini: Hidayat Nor Wahit
Di polindes hanya tersedia satu tenaga kesehatan. Seorang bidan desa yang memberikan pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat Desa Sucopangepok.
Selain destinasi wisata SJ-88, terdapat potensi wisata yang dapat dikembangkan di Kecamatan Jelbuk seperti Wisata Air Terjun Panduman yang indah dan memiliki ketinggian 25 meter, Batu Kenong Selobonang yang ketika dipukul mengeluarkan melodi, dan Sungai Sukmaelang yang memiliki aliran sungai tak berhilir yang terdapat di Dusun Sumbercandi, Desa Panduman.
Di Desa Sucopangepok, bidan desa melakukan berbagai jenis pelayanan kesehatan yang relevan dengan kebutuhan lokal.
Pelayanan kesehatan oleh bidan desa sangat penting karena berperan sebagai tenaga kesehatan utama yang melayani kebutuhan kesehatan dasar masyarakat.
Bidan Tria sudah mengabdi selama 16 tahun sebagai bidan Desa Sucopangepok. Tugas utama yang dilakukan seorang bidan desa yaitu pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Termasuk pemeriksaan kehamilan, persalinan, imunisasi, dan pemberian layanan kontrasepsi untuk mendukung program keluarga berencana di daerah Sucopangepok.
Bidan desa juga melakukan kegiatan pelayanan kesehatan posyandu setiap satu bulan sekali untuk mendukung deteksi dini masalah kesehatan dan melaksanakan program imunisasi yang penting bagi anak-anak di daerah akses terbatas.
Bidan desa di Sucopangepok menghadapi berbagai tantangan dalam memberikan pelayanan kesehatan, terutama karena akses jalan sulit, rusak, berbatu, dan licin saat musim hujan membuat mobilitas bidan desa menjadi terhambat. Hal ini menyulitkan dalam melakukan kunjungan ke rumah-rumah pasien.
Terutama untuk memberikan pelayanan seperti pemeriksaan kehamilan, persalinan darurat, dan vaksinasi. Salah satu contoh pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan desa kepada ibu hamil di daerah dengan akses jalan sulit yaitu kunjungan rumah dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah, berat badan, detak jantung janin, dan kondisi kesehatan umum ibu hamil.
Selain itu, bidan desa juga memberikan konseling gizi dan edukasi terkait tanda-tanda bahaya kehamilan, mengingat jarak yang jauh dari fasilitas kesehatan. Kunjungan ini sangat penting, terutama bagi ibu hamil yang berisiko mengalami komplikasi atau tinggal jauh dari puskesmas untuk memastikan kesehatan ibu dan janin tetap terpantau.
Jalan hanya bisa dilalui dengan menggunakan sepeda motor bahkan beberapa daerah hanya bisa dijangkau dengan jalan kaki.
Dalam beberapa kasus darurat, seperti ketika seorang ibu memerlukan pertolongan persalinan segera, bidan desa dapat menggunakan transportasi alternatif seperti ojek atau ambulans desa untuk membawa ibu ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Tantangan seperti medan berbukit, jalan dan jembatan rusak, serta cuaca buruk sering kali memperlambat proses, tetapi bidan desa tetap menjadi garda depan dalam memastikan kesehatan ibu dan bayi.
Baca Juga: Waspada! Tak Boleh Disepelekan, Pneumonia jadi Penyebab Kematian Tertinggi Pada Bayi
Untuk mengatasi tantangan ini, bidan desa memerlukan dukungan infrastruktur yang lebih baik, sarana transportasi yang memadai, serta akses ke sumber daya medis yang lebih lengkap. Program-program seperti peningkatan akses jalan dan teknologi kesehatan misalnya telemedicine dapat membantu dalam menjalankan tugas dengan lebih efektif.
*) Penulis adalah Penyuluh Kesehatan Masyarakat UPTD Puskesmas Jelbuk.
Baca Juga: Etnonutrisi dan Penguatan Promosi Kesehatan Masyarakat. Opini: Warda Arumsari
Editor : Dwi Siswanto