Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Energi Sumpah Pemuda Era Presiden Prabowo, OPINI : Muchamad Taufiq

Dwi Siswanto • Selasa, 29 Oktober 2024 | 03:00 WIB

 

 

Muchamad Taufiq
Muchamad Taufiq

SUMPAH Pemuda adalah guratan tinta emas dalam romantika perjuangan bangsa. Energi itulah yang diambil oleh Presiden Prabowo Subianto di awal kepemimpinannya. Hal itu ditunjukkan dengan meletakkan banyak pemuda dalam Kabinet Merah Putih. Senada dengan profil Wakil Presidennya, Gibran Rakabuming Raka, yang masih muda.

Komitmen Presiden Prabowo untuk merealisasikan pidato-pidatonya akan memberikan kepercayaan kepada pemuda telah diwujudkan. Fenomena ini merupakan kemajuan besar dalam sejarah ketatanegaraan kita, karena selama ini jumlah pemuda di kabinet sangatlah minim. Seakan pemuda selalu menjadi garda terdepan saat berjuang dan terabaikan ketika menikmati hasil perjuangan.

Namun, Presiden Prabowo memberikan kepercayaan kepada pemuda, realitas ini wajib diapresiasi sebagai implementasi semangat Sumpah Pemuda yang sesungguhnya dari seorang Presiden Republik Indonesia.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-96 tahun 2024 mengangkat tema “Maju Bersama Indonesia Raya”. Peringatan ini menjadi pengingat akan pentingnya semangat persatuan pemuda Indonesia. Saatnya kita menggelorakan indahnya persatuan, membangkitkan antusiasme mengedepankan persamaan menjauhi perbedaan. Kemerdekaan Indonesia tercapai dengan persatuan di atas semua perbedaan dalam abad perjuangan.

Saatnya memegang erat identitas nasional kita, yaitu: Bendera Merah Putih, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Lambang Negara Burung Garuda, Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, dan semboyan ‘Bhinneka tunggal ika’ tan hanna dharma mangrwa.

Baca Juga: Pramuka, Promosi Kesehatan, dan Generasi Emas Indonesia Opini: Warda Arumsari

Gaung Sumpah Pemuda harus menjadi spirit Gen-Z dan Gen-Alpha agar mereka menyadari sebagai generasi yang akan menerima tongkat estafet kepemimpinan di semua tingkatan dan bidang.

Pertanyaan kritisnya adalah “apakah pemuda sekarang telah menyiapkan kualitas dirinya untuk itu?” Patut kita ingat bahwa Imperium Majapahit runtuh bukan disebabkan serangan bangsa asing namun karena kelemahan oleh konflik internal dan perang saudara. Di sisi lain terlambatnya proses perkaderan melengkapi ketidaksiapan generasi penerusnya.

Artinya sejarah mengajarkan kepada kita bahwa membiarkan perpecahan dan konflik-konflik karena perbedaan adalah awal kelemahan suatu bangsa. Sementara bangsa lain tidak akan pernah membiarkan Negara Indonesia menjadi kuat dan kokoh. Itulah perlunya kita membangun kesadaran diri untuk berbuat apa pun yang mendorong saling hormati, menjunjung tinggi kejujuran, dan mengutamakan persatuan-kesatuan demi tanah air tercinta Indonesia. 

Periodisasi 1908, 1928, 1945, dan Reformasi 1998, merupakan tonggak sejarah bangsa. Pemuda harus menyadari bahwa zaman memang harus dinikmati dan diisi dengan rasa. Pemimpin hadir di setiap masa adalah takdir Tuhan untuk menjadi jembatan dari generasi ke generasi. Mereka adalah yang terbaik di zamannya. Mereka telah memberikan darma baktinya.

 

Ketidaksempurnaannya adalah fakta sejarah yang harus dihormati atas kodratnya sebagai manusia. Jika kita sampai pada kesadaran demikian, khususnya para pemimpin bangsa yang sedang berkuasa maka menghormati dan menghargai para pemimpin bangsa adalah menunjukkan kualitas karakter kita dalam berbangsa dan bernegara.  

Mahatma Gandhi mengajarkan swadeshi artinya semangat bergaya hidup dengan memanfaatkan produk anak bangsa merupakan fundamental karakter yang akan berpengaruh terhadap faktor-faktor lainnya.

Produk dalam negeri harus dipandang secara utuh oleh semua pemangku kepentingan.

Dibutuhkan good faith para pemimpin untuk mengawali tindakan nyata bahwa mencintai dan menggunakan produk dalam negeri merupakan awal kebangkitan ekonomi kita.

Tindakan konkret Presiden Prabowo menggunakan mobil buatan dalam negeri, anggaran berbasis efektif dan efisien serta mendiseminasikan semangat nasionalisme, kedisiplinan, kebersamaan kepada para Menteri Kabinet Merah Putih adalah langkah pertama untuk menuju langkah keseribu.

  Konsep kepemimpinan nasional oleh Ki Hajar Dewantara yaitu ing ngarsa sung tuladha memandu prilaku pemimpin harus mampu memberikan contoh baik agar pemuda mendapat figure baik sebagai idolanya, jika pemuda kesulitan mendapatkan profil pemimpin yang baik  akan terjadi teaching order and the finding disorder.

Pemuda akan mengalami frustrasi dan puncaknya terjadi dekadensi moral terhadap pemuda yang jumlahnya sangat signifikan dalam demografi.

Sumpah Pemuda terwujud didorong oleh nilai-nilai luhur yaitu: rasa saling menghormati dan menghargai, Niat menggunakan produk dalam negeri, kesadaran menyebarkan energi positif, kesadaran berbahasa Indonesia yang baik dan benar, dan terus mengembangkan rasa memiliki dalam berbangsa dan bernegara. Hal-hal itulah yang penting untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana pengakuan atas kualitas pemuda telah dimulai dengan meyakinkan oleh Presiden Prabowo. Beliau mengajarkan kepada kita untuk berani jujur dan menunjukkan prestasi diri dalam menapaki sebuah perjalanan kehidupan.

Sumpah Pemuda di mata Presiden Prabowo adalah semangat untuk menghindari praktik-praktik korupsi, penegakan hukum yang berkepastian-berkeadilan, dan bebas dari jeratan narkoba. Bagi yang mengingat sejarah, fenomena darurat narkoba dan korupsi identik dengan kondisi Perang Candu yang melanda Cina.

Perang Candu I (1839-1842), Perang Candu II (1856-1860) melibatkan Dinasti Qing dan Inggris, Perancis. Betapa menderita dan lemahnya sebuah negara jika terjebak dalam wabah korupsi, lemahnya penegakan hukum dan jeratan narkoba yang telah merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca Juga: Rejuvenasi Santri di Era Transformasi Opini: Hidayat Nor Wahit

Tentunya semua pihak harus berpikir dua kali jika berurusan dengan tiga hal di atas di era Presiden Prabowo. Semoga era ini menandai kebangkitan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045, Majapahit pernah mengukir di zaman kencana rusmini

*) Penulis adalah akademisi, ahli HTN, dan pengajar Kewarganegaraan di ITB Widya Gama Lumajang.

 Baca Juga: Keseruan ke Museum Huruf Jember, Siswa SD Unggulan Nurul Huda, Kecamatan Kalisat senang mengetahui sejarah aksara

Editor : Dwi Siswanto
#Presiden Prabowo #prabowo #gibran