DATA dari World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa terjadi peningkatan dramatis jumlah penderita diabetes di seluruh dunia, terutama diabetes tipe 2, yang disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik. Momentum 14 November Hari Diabetes Sedunia yang diperingati setiap tahun menjadi pengingat akan pentingnya peran semua elemen terutama tenaga kesehatan seperti perawat, dalam mengubah arah krisis kesehatan ini.
Salah satu kabupaten di Jawa Timur adalah Jember dengan kasus Diabetes melitus (DM) sebesar 1,4 persen. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jember (2021), kasus DM tertinggi terjadi di Puskesmas Jember Kidul dengan jumlah penderita sebanyak 3.479 orang dengan prevalensi 2,3 persen. Urutan ke-2 yaitu Puskesmas Sumbersari (2,1 persen) dan Puskesmas Ambulu (1,1 persen).
Gaya hidup modern yang serba instan, pola makan tinggi gula dan lemak, serta kurangnya aktivitas fisik menjadi pemicu utama banyaknya penderita diabetes pada usia yang lebih muda. Fenomena ini diperparah oleh rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya kontrol gula darah.
Melonjaknya angka penderita diabetes ini, perawat memegang peranan yang sangat krusial, tidak hanya sebagai pendukung dalam memberikan perawatan medis, tetapi perawat juga berperan sebagai pendidik, konselor, dan pendamping pasien diabetes dalam menjalani perawatan jangka panjang.
Perawat sangat berperan dalam memengaruhi kesehatan pasien sehingga pasien dapat mencapai peningkatan derajat kesehatan pentingnya perawat sebagai edukator. Edukasi yang didapatkan oleh pasien Diabetes dapat meningkatkan kemampuan untuk mencapai dan memperoleh pemahaman tentang pengetahuan kesehatan dan memahami kondisi mereka. Peran perawat sebagai konselor sangat diperlukan. Dengan memberikan dukungan emosional dan motivasi, perawat dapat membantu pasien menjalani perubahan gaya hidup yang dibutuhkan.
Diabetes tidak hanya mengubah hidup jutaan orang yang terdiagnosis, tetapi juga membawa dampak sosial, ekonomi, dan kesehatan yang jauh lebih luas dari yang sering dipahami. Meskipun banyak orang menganggap diabetes sebagai “Penyakit Gula” yang dapat dikelola dengan mengurangi konsumsi manis, kenyataannya jauh lebih kompleks dan mengkhawatirkan.
Penyakit yang juga kerap disebut “Silent Killer” karena banyak penderitanya tidak menyadari bahwa mereka mengidap diabetes hingga komplikasi serius muncul, memiliki dampak paling nyata.
Salah satunya kerusakan jangka Panjang pada organ-organ vital dalam tubuh, seperti kerusakan saraf (neuropati), penyakit jantung, kerusakan ginjal (nefropati) dan dampak yang paling kerap dijumpai adalah luka pada kaki hingga paling menyeramkan dapat amputasi kaki. Jika tidak dikelola dengan baik, penderita diabetes dapat kehilangan fungsi organ tubuh yang krusial, mengakibatkan kecacatan fisik dan menurunkan kualitas hidup.
Komplikasi yang terjadi akibat diabetes tidak hanya menghancurkan kehidupan individu tetapi juga menambah beban besar pada sistem kesehatan nasional. Biaya pengobatan untuk komplikasi diabetes seperti dialisis ginjal, amputasi, atau perawatan intensif penyakit jantung dapat mencapai angka yang sangat besar, menekan anggaran kesehatan.
Tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga membawa dampak psikologis dan sosial yang signifikan. Penderita diabetes sering kali merasa terbatas dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka harus menjalani perawatan yang ketat, mulai dari pemantauan gula darah, konsumsi obat-obatan secara teratur, dan perubahan pola makan. Hal ini dapat menyebabkan gangguan emosional, dan kecemasan karena perubahan yang harus dihadapi.
Hari Diabetes Sedunia merupakan momen yang tepat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan dan penanganan diabetes. Hari yang bermakna ini seharusnya tidak hanya dijadikan ajang seremonial, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkuat komitmen semua pihak, termasuk tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat, dalam menghadapi krisis kesehatan.
Pemerintah juga perlu memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat program-program pencegahan diabetes, termasuk peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan bagi penderita diabetes.
Penekanan pada deteksi dini dan upaya preventif harus menjadi prioritas, mengingat beban ekonomi dan sosial yang diakibatkan oleh komplikasi diabetes sangat besar.
Krusialnya, penyakit diabetes ini perlu dukungan khusus dalam prosesnya, baik dukungan dari keluarga, kerabat, bahkan perawat. Permasalahan kadar gula darah menjadi buruk pada pasien Diabetes karena dipengaruhi oleh kurangnya kesadaran, perawatan kesehatan, terkendala waktu, kurangnya motivasi pribadi, kurangnya ketaatan, kurangnya pedoman dan edukasi perawatan.
Ketidakmampuan pasien Diabetes dalam melakukan perawatan secara mandiri menjadi salah satu penyebab yang dapat memengaruhi kemampuan penderita Diabetes. Diabetes yang tidak terkendali kadar gulanya akan menyebabkan berbagai komplikasi pada organ tubuh, sehingga dapat menyebabkan retinopati, infark miokardium, hipertensi, stroke, neuropati yang dapat menurunkan kualitas hidup bahkan dapat mengancam jiwa penderitanya.
Oleh karena itu, perawat dalam memberikan edukasi, juga perlu berkolaborasi dengan orang terdekat pasien Diabetes, misalnya keluarga pasien. Keluarga pasien yang berperan penting sebagai pendukung proses penyembuhan pasien saat di rumah, perawat perlu mengedukasi atau memberikan dukungan kepada keluarga mengenai cara yang tepat dalam membantu perawatan pasien diabetes di rumah.
Keluarga perlu memahami pentingnya menjaga pola makan yang sehat, membantu memantau kadar gula darah secara rutin, serta memberikan motivasi kepada pasien untuk tetap beraktivitas fisik. Dengan adanya kolaborasi antara perawat, pasien, dan keluarga, diharapkan proses perawatan diabetes bisa lebih efektif dan memperpanjang usia harapan hidup pasien.
Di sisi lain, pemerintah juga diharapkan mengambil peran proaktif dalam mendukung perawat melalui pelatihan dan penyediaan sumber daya yang memadai. Peningkatan kompetensi perawat dalam menangani pasien diabetes dapat dilakukan melalui program pendidikan berkelanjutan yang memberikan pengetahuan mendalam tentang penanganan komplikasi dan teknik edukasi kesehatan.
Selain itu, penyediaan alat bantu, seperti glukometer gratis bagi pasien berpenghasilan rendah atau klinik khusus diabetes di berbagai daerah, dapat meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes dan memudahkan perawat dalam melaksanakan tugas mereka.
Lebih lanjut, perawat juga perlu diberikan ruang untuk melakukan inovasi dalam metode edukasi dan konseling pasien diabetes. Misalnya, dengan memanfaatkan teknologi digital seperti aplikasi kesehatan yang dapat membantu pasien mencatat kadar gula darah, asupan makanan, dan aktivitas fisik secara berkala. Hari Diabetes Sedunia seharusnya juga menjadi pengingat bahwa pencegahan adalah langkah terbaik dalam menghadapi diabetes.
Di sekolah-sekolah dan lingkungan kerja, kampanye gaya hidup sehat dapat digalakkan untuk mencegah diabetes sejak dini. Perawat, sebagai tenaga kesehatan yang memiliki akses langsung kepada masyarakat, dapat berperan penting dalam menginisiasi program-program edukasi kesehatan di komunitas, mulai dari sosialisasi di tingkat RT hingga penyuluhan kesehatan di sekolah dan tempat kerja.
Pada masa depan, peran perawat dalam penanganan diabetes perlu lebih dihargai dan didukung oleh semua pihak. Dalam mengatasi penyakit yang bersifat kronis dan memerlukan pemantauan seumur hidup ini, perawat bukan hanya menjadi tenaga kesehatan yang menjalankan prosedur medis, tetapi juga menjadi mitra bagi pasien dalam perjalanan panjang menghadapi diabetes. Dengan sinergi antara perawat, pasien, keluarga, dan pemerintah, kita dapat menghadapi tantangan diabetes ini dan mengurangi dampaknya bagi kesehatan masyarakat.
*) Penulis adalah mahasiswa Ilmu Keperawatan Unej yang juga Anggota Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual Unej, dan Sekdiv Humas Sahabat Perpustakaan Unej.
Editor : Halo Jember