Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Di Balik Banjir Jember: Bencana atau Kegagalan Kita? Opini : Rinda Handayani

Halo Jember • Jumat, 6 Desember 2024 | 17:00 WIB

 

Rinda Handayani
Rinda Handayani

BANJIR yang melanda Desa Wonoasri, Jember, pada 1 Desember 2024 (Radar Jember, 2 Desember 2024) menjadi bukti nyata bahwa kerusakan lingkungan yang semakin parah. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut telah memicu bencana hidrometeorologi ini, namun akar masalahnya jauh lebih kompleks. Deforestasi besar-besaran di lereng Gunung Argopuro dan konversi lahan hutan menjadi perkebunan telah mengurangi kemampuan ekosistem dalam menyerap air hujan.

Akibatnya, aliran air menjadi deras dan cepat, memicu banjir yang meluas. Banjir yang melanda sebagian wilayah Jember bukan hanya sekadar bencana alam melainkan cerminan dari ketidakpedulian kita terhadap lingkungan sekitar. Alam telah memberikan alarm keras, namun apakah kita selalu mendengarkannya?

Data historis menunjukkan bahwa banjir di Jember bukanlah kejadian baru. Pada tahun 2006, misalnya, wilayah Panti juga mengalami banjir akibat alih fungsi hutan. Praktik-praktik merusak ini telah mengganggu keseimbangan ekosistem dan meningkatkan kerentanan wilayah terhadap bencana. Di tahun tersebut bagaimana petani Panti memanfaatkan hutan untak memenuhi ekonominya.

Mereka menyulap kawasan hutan menjadi penopang ekonomi dengan mengubah lanskap hutan menjadi lahan Perkebunan atau pertanian. Kawasan hutan pegunungan telah berubah menjadi lahan Perkebunan kakao dan kopi. Padahal, hutan sangat penting dalam menjaga ketersediaan air tanah, mencegah erosi, dan meredam laju aliran air.

Persoalan mengenai banjir, menjadi pusat perhatian di saat musim penghujan.  Ketersediaan vegetasi secara alami berfungsi untuk menahan sirkulasi air. Dengan adanya fungsi tersebut akan mengurangi kecenderungan banjir dan menahan air terus menerus selama musim kemarau seperti dalam buku Hutan Kita karya Darwis Suharman Gani, 1997. Apabila vegetasi rusak dan hilang di kawasan dataran tinggi, akan menyebabkan longsor erosi, banjir. Semakin tinggi kerapatan vegetasi akan ancaman erosi dan banjir akan berkurang

Akar masalah

Banjir yang terjadi di wilayah Jember disebabkan oleh banyaknya sampah yang menyumbat saluran drainase. Selain itu terjadi luapan aliran sungai saat musim penghujan membuat perumahan di sekitar aliran sungai terdampak banjir. Hal tersebut diperparah dengan kurangnya daerah resapan air.

Perubahan iklim juga memperparah situasi. Peningkatan frekuensi dan intensitas hujan ekstrem semakin meningkatkan risiko banjir. Selain itu, pembangunan infrastruktur yang tidak ramah lingkungan, seperti permukiman di daerah resapan air dan sistem drainase yang buruk, turut berkontribusi pada masalah ini.

Banjir tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan yang luas. Rumah warga terendam, infrastruktur rusak, serta lahan pertanian tergenang. Lebih jauh lagi, banjir dapat menyebabkan penyebaran penyakit dan kerugian ekonomi yang signifikan.

Sebagai manusia harus peka terhadap alarm alam sebagai akibat dari ulah manusia. Alam menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kita harus lebih bijak mengenai peristiwa banjir yang melanda setiap wilayah.

Adapun langkah yang dapat dilakukan yaitu dengan menormalisasi saluran drainase dengan membangun drainase yang baik. Selain itu membuat saluran evakuasi yang ditujukan bagi masyarakat yang terdampak sehingga evakuasi dapat berjalan dengan baik dan maksimal mungkin. Selain itu, perlu dilakukan konservasi hulu Daerah Aliran Sungai.

Untuk mengatasi masalah banjir secara berkelanjutan, diperlukan upaya komprehensif dari berbagai pihak. Beberapa langkah yang dapat dilakukan dengan cara pemulihan ekosistem seperti melakukan reboisasi dan penghijauan di daerah aliran sungai (DAS) untuk meningkatkan kemampuan tanah menyerap air.

Penegakan hukum terhadap penebangan liar dan alih fungsi hutan perlu diperkuat. Rehabilitasi lahan kritis juga penting untuk mencegah longsor dan sedimentasi sungai. Langkah kedua yaitu Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang memperhatikan aspek lingkungan dan risiko bencana sangat krusial. Pembatasan pembangunan di daerah rawan banjir dan penetapan zona hijau di sekitar sungai perlu dilakukan.

Pembangunan sistem drainase yang memadai dan berkelanjutan, serta pembangunan bendungan atau embung kecil-kecil untuk menampung kelebihan air saat musim hujan, perlu dilakukan. Penguatan tanggul sungai juga penting untuk mencegah luapan air.

Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan mengurangi risiko bencana perlu dilakukan secara terus-menerus. Pembentukan kelompok masyarakat yang peduli lingkungan dan aktif dalam kegiatan penanggulangan bencana dapat memperkuat upaya mitigasi.

Tantangan ke depan

Masalah banjir menjadi tantangan bagi Masyarakat Jember di setiap tahunnya. Masyarakat harus mewaspadai ancaman banjir. Adapun perkembangan mutakhir penanggulangan banjir adalah dengan menggunakan teknologi untuk memantau kondisi cuaca secara real-time, seperti radar cuaca dan sensor curah hujan, dapat membantu memprediksi terjadinya banjir. Pemasangan sistem sirene di daerah rawan banjir dan sosialisasi jalur evakuasi kepada masyarakat dapat mengurangi korban jiwa dan kerugian materiil. Namun alat ini juga tidak akan berdampak signifikan untuk mengatasi banjir karena hanya sebagai alarm, sedangkan penyebab utama banjir belum sepenuhnya teratasi.

Dengan mengimplementasikan upaya-upaya di atas secara terpadu, diharapkan dapat mengurangi dampak banjir di Jember dan menciptakan lingkungan yang lebih aman dan berkelanjutan. Masalah banjir di Jember jika tidak diatasi secara baik bagikan buah simalakama. Ketika musim kemarau akan menimbulkan kekeringan, tapi ketika musim penghujan akan mengalami air menggenang dimana-mana. Hal tersebut tidak hanya merugikan masyarakat tetapi akan melemahkan perekonomian masyarakat. Perubahan iklim yang ekstrim jika tidak diatasi akan menjadi ancaman utama jika infrastruktur tidak dibenahi. Selain itu Pemerintah Jember juga perlu mengatur regulasi terkait Pembangunan infrastruktur yang memperhatikan aspek lingkungan.

*) Penulis adalah dosen Ilmu Sejarah, Universitas Jember.

 

 

 

 

Editor : Halo Jember
#hujan deras #jember #bencana alam #banjir