Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Indonesia, Harun Masiku dan Fufufafa Sebuah Paradoks Opini: Sidi Alkahfi Setiawan

Halo Jember • Jumat, 13 Desember 2024 | 17:35 WIB

 

Sidi Alkahfi Setiawan
Sidi Alkahfi Setiawan
 

HARUN Masiku, seorang buronan offline. Sepotong nama buronan di dunia nyata. Sedangkan, Fufufafa seorang buronan online, buronan di dunia maya. Kedua nama yang sudah melegenda, seolah raib ditelan bumi, tak bisa ditangkap dan tidak bisa diungkap.

Di meja kecil, di hadapan penulis, saat sore gerimis. Terhidang sepinggan kecil talas rebus hangat plus kopi hitam pahit khas Ijen siap menemani. Mari, kita kupas dua buronan fenomenal di negeri pimpinan Prabowo ini.

Harun Masiku Buron Fenomenal Paling Dicari

Dua tokoh fenomenal yang sama-sama menjadi buruan utama, di seantero negeri ratna mutu manikam ini. Pertama, Harun Masiku, buronan KPK yang isunya punya ajian belut putih, begitu licin. Bahkan melebihi dari licinnya belut basah di habitatnya rawa-rawa dan sawah-sawah. Kedua, akun anonim misterius dunia maya bernama Fufufafa, yang sukses bikin warganet panas dingin dan geram melebihi mini seri drama Korea yang kejar tayang di layar kaca.

KPK merilis info, mereka tahu lokasi Harun Masiku. Entah di belahan bumi mana gerangan, tapi katanya “masih bisa terpantau". Sebuah pernyataan yang lebih membingungkan dari plot cerita suspense yang memiliki plot twice, sebuah alur cerita yang ending-nya susah ditebak. Apakah Harun Masiku saat ini sedang bermukim kota gaib Saranjana, ataukah dia berada di pulau terluar, atau jadi petani di pedalaman hutan Amazon tempat Diana, tokoh epik Wonder Woman besutan DC Comic berasal? Tidak ada yang tahu, kecuali KPK, mungkin.

Setelah bertahun-tahun, saat ini KPK bahkan meng-update foto profile picture Harun Masiku. Dari foto hitam putih jadi berwarna, lengkap dengan foto dari empat sudut kamera seperti pas foto ijazah. Apakah ini strategi baru KPK dengan tujuan supaya Harun Masiku secara sukarela muncul karena merasa narsis? Atau biar kita semua tahu, dia memang manusia biasa dengan ciri-ciri yang sangat "umum", berkacamata, suara sengau, dan berlogat salah satu suku di negeri ini. Tapi tunggu dulu, logat suku? Jika  bertemu seseorang dengan ciri-ciri ini, di warung kopi sambil memesan mi rebus, jangan ragu untuk langsung kirim info ke penyidik KPK. Siapa tahu orang yang berkacamata dan bersuara sengau dengan dialek salah satu daerah di Nusantara ini ternyata memang seorang Harun Masiku.

Berita tentang Harun Masiku bak gelombang di lautan lepas, kadang meninggi lengkap dengan hembusan topan badai. Kadang datar dengan angin sepoi-sepoi semilir, setelah nama ini seolah menghilang ditelan masa. Tiba-tiba kembali jadi trending topic dengan adanya sayembara berhadiah (yang nilainya gak kaleng-kaleng broer), delapan miliar rupiah. Angka delapan ditambah dengan sembilan biji angka nol yang berderet ini. ditawarkan oleh salah satu Menteri di Kabinet Prabowo dan telah diumumkan secara terbuka pada khalayak luas. Hadiah bagi mereka yang telah berhasil menemukan Harun Masiku.

Fenomena Fufufafa di Jejaring Dunia Maya

Di posisi lain, ada nama Fufufafa, akun yang lap… lalu menghilang dari dunia maya. Tetapi, selalu hidup dan dikenang di hati sanubari warganet. Akun ini telah dilaporkan ke Kepolisian berulang kali, tapi tak kunjung terungkap. Konon, katanya untuk mengungkap siapa Fufufafa jauh lebih sulit dan lebih rumit, bak adegan di franchise filem Mission Impossible, sesulit menerima kembalian uang receh saat menunggu kembalian belanja di minimarket, agar tidak berupa kembalian permen atau didonasikan.

Warganet pun berspekulasi, bahwasanya Fufufafa kemungkinan adalah gabungan dari hacker Rusia, seorang ghostwriter, dan alien dari planet lain. Polisi pun sepertinya sudah hampir menyerah, sebab mengungkap akun seperti ini membutuhkan level kesaktian yang melebihi kesaktian manusia biasa, setidaknya harus belajar sakti dengan nyantri siang malam dalam kurun waktu yang lama di Kuil Shaolin terlebih dahulu.

Melebihi Batas Nalar.

Di zaman digital yang serbacanggih ini, di mana teknologi drone bisa menangkap pencuri ayam dengan sekejap dan via satelit bisa melihat semut melintas di Gurun Sahara, rasanya di luar nalar jika kita masih juga gagal menemukan Harun Masiku. Ironis memang, akun anonim seperti Fufufafa, yang seharusnya hanya terdiri atas serangkaian huruf dan angka, ternyata bagi Kementrian Komdigi seolah jadi mahluk yang maha sulit dilacak.

Jika ini adalah sebuah perlombaan, Harun Masiku dan Fufufafa memang layak  memperoleh gelar Grandmaster Hide and Seek. Harun Masiku mungkin saja punya ajian halimunan hingga bisa lari dari hukum dunia, sementara Fufufafa sukses mencoba lolos dari hukum warganet. Keduanya, menghilang bak ditelan bumi dengan cara masing-masing, setidaknya ini adalah sebuah pembuktian, bahwasanya tangan hukum dan teknologi, acap kali tunduk pada satu hal yaitu sebuah keberuntungan.

Harun Masiku saat ini mungkin saja sedang duduk manis di sebuah pantai, bersantai mendengarkan alunan musik sambil tertawa kecil dengan menyeruput es kelapa muda. Sementara di sisi lain Fufufafa dengan santainya menggunakan jari jemarinya untuk scrolling linimasa X, Tiktok, ataupun Me-Chat. Dunia pun terus berputar pada porosnya, KPK tetap mencari dan memburu Harun Masiku dan warganet pun tetap marah serta gregetan pada Fufufafa, yang jelas kita semua hanya bisa jadi penonton dari dua drama epik ini sambil menikmati si hitam pahit dan Talas hangat yang tandas, di saat hujan gerimis menerpa.

Indonesia negeriku, sebuah negeri ratna mutu manikam nan elok, terdiri atas beribu pulau, beratus suku dan dua buronan tak tertandingi, seolah sebuah negeri yang berdiri di atas sebuah paradoks.

 

*) Penulis adalah dosen Program Pascasarjana Universitas Islam Jember dan Kabid Pengembangan Anggota DPC IKADIN DPC Jember.

 

 

Editor : Halo Jember
#opini #indonesia #fufufafa #harun masiku