Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Bunuh Diri Solusi Represi Tensi? Opini: Hidayat Nor Wahit

Halo Jember • Rabu, 1 Januari 2025 | 22:22 WIB

 

 

Hidayat Nor Wahit
Hidayat Nor Wahit

REMAJA dan usia dewasa sering kali menjadi sasaran empuk masalah kesehatan mental. Dari gangguan kecemasan, stres, dan depresi kerap kali menghantui masa-masa remaja dikarenakan transisi fisik serta tekanan dan tanggung jawab yang berbeda.

Tak ayal jika banyak mahasiswa atau remaja memiliki kerentanan yang tinggi untuk melakukan bunuh diri. Banyaknya perubahan hidup dan besarnya tanggung jawab, mengharuskan seseorang bisa berdamai dengan kenyataan dan menjalani hidup dengan sabar.

Namun, perlu di garis bawahi bahwa masih banyak solusi selain harus bunuh diri. Salah satunya adalah mendekatkan pada sang pencipta, supaya pikiran bisa tenang dan senantiasa memiliki mindset positif.

Memilih lingkungan yang baik serta cara bergaul tidak toxic, juga akan membawa kita menjadi pribadi yang baik dan terhindar dari pikiran dan perilaku buruk yang dapat menimbulkan stres dan depresi.

Kadang kita juga memerlukan refreshing atau hiburan, olahraga, dan main game ketika rohani dan jasmani kita sedang lelah, supaya kita mempunyai tempat pelampiasan dan dapat terhindar dari risiko keputusasaan yang bisa memicu tindakan bunuh diri.

Kesalahan Berpatokan

Mayoritas remaja sekarang sering memakai standar hidup ideal dengan yang di-posting oleh orang lain di media sosial. Akibatnya, mereka menciptakan ilusi tentang kehidupan yang sempurna, di mana orang cenderung hanya menampilkan sisi positif hidup mereka.

Hal ini mengarah pada fenomena “wang sinawang”, di mana pengguna media sosial sering membandingkan hidup mereka dengan gambaran hidup ideal orang lain atau yang sering biasa dikenal dengan istilah ikut trend. Ini menyebabkan perasaan tidak puas dan masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.

Selain itu, media sosial dapat menyebabkan distraksi dan adiksi, terutama di kalangan anak muda yang lahir antara tahun 1997-2012 yang sangat terhubung dengan gadget.

Gen Z, sebagai generasi yang melek digital, sering menunjukkan perilaku seperti memiliki akun media sosial kedua (second account) untuk menampilkan kepribadian yang sebenarnya. Fenomena ini menunjukkan adanya masalah kepercayaan diri.

Namun, di sisi positif, media sosial memfasilitasi anak muda dalam hal koneksi sosial, pembelajaran, dan dukungan online.

Mereka menggunakan platform digital untuk mendapatkan informasi, terlibat dalam kegiatan sosial, dan mengekspresikan diri melalui berbagai konten yang dibagikan.

Namun, ada juga risiko seperti cyber bullying dan konten negatif yang dapat merusak kesehatan mental mereka.

Ambisi yang Mencederai

Setiap orang punya keterbatasan dengan segala kelebihan dan kekurangan. Jika kita terlalu keras pada diri sendiri, maka kita akan kecewa kalau tidak sesuai dengan realita. Jadi, tak perlu memaksakan diri untuk jadi yang terbaik. Kita bisa mengatakan pada diri sendiri bahwa apa yang telah kita lakukan adalah yang terbaik. Mulailah berpikir positif tanpa membuat kita over percaya diri. Memang ini tidak mudah. Namun ketika kita merasakan efek berpikir positif maka pikiran negatif perlahan akan pergi.

Salah satu sifat orang obsesif adalah berusaha sekeras mungkin mendapatkan apa yang diinginkan. Ketika yang diinginkan tak tercapai, ia mengalami kekecewaan mendalam dan bisa menghalalkan segala cara. Bahkan sampai ada yang bunuh diri karena sudah merasa frustrasi. Hindari sikap obsesif dengan menentukan tujuan jelas sejak awal dan berdamailah dengan kegagalan.

Biasanya orang obsesif tidak berpikir panjang. Mereka lebih banyak mengikuti kata hati. Jadi, matangkan rencana dengan sempurna dan bayangkan kesuksesan akan rencana tersebut. Pikirkan sesuatu hal yang kemungkinan akan terjadi. Saat rencana gagal, Anda tidak akan kecewa. Satu hal yang perlu dipertahankan adalah terus bangkit dan buat rencana baru.

Jangankan obsesif, sosok ambisius saja kadang tidak disukai orang. Sifat ini memang membuat kita terkesan sombong. Ingin ambisius, boleh saja. Namun, tetaplah menjadi sosok menyenangkan. Dengan begitu tercipta image yang selalu baik. Dan, yang terpenting jangan memaksakan diri meraih kesuksesan saat melihat orang lain sukses. Pelajari dan asah, asih, asuh saja kemampuan yang kita miliki agar keberhasilan bisa kita raih.

Peran Sentral Keluarga

Keluarga merupakan peranan yang sangat krusial untuk kelangsungan hidup kita sebagai makhluk sosial, mulai dari keluarga lah kita bisa belajar segala sesuatu, mulai dari aspek memberikan rasa cinta serta kasih sayang, cara berkomunikasi, cara merawat diri di keseharian, cara mengendalikan emosi serta aspek lainnya. Keluarga juga merupakan unit terkecil dalam struktur masyarakat yang dibangun di atas perkawinan atau pernikahan, terdiri dari ayah/suami, ibu/istri, dan anak, semua itu memiliki peranan penting dalam membentuk kualitas manusia. Dalam buku psikologi keluarga, Hill mendefinisikan keluarga sebagai rumah tangga yang memiliki hubungan darah atau perkawinan atau menyediakan terselenggaranya fungsi-fungsi ekspresif keluarga bagi para anggotanya yang berada dalam suatu jaringan (Nuroniyah, 2023).

Anak pada masa remaja adalah masa transisi yang kompleks, di mana remaja mencapai kematangan fisik, tetapi masih memerlukan waktu untuk berkembang menjadi dewasa secara emosi dan sosial. Mereka juga dalam masa pencarian identitas dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Menurut Sarwono 2020 (Sari, 2022), remaja adalah suatu perkembangan dalam diri manusia yang memiliki tiga aspek, yaitu biologis, psikologis, dan sosial ekonomi yang memiliki batasan usia 10-20 tahun (Ramdhiani, 2023).

Sering kali di sebuah keluarga dengan anak remaja mengalami permasalahan, anak remaja berada pada masa perubahan yang penuh konflik, di mana terjadi perubahan tubuh, pola perilaku, dan peran yang diharapkan. Mereka yang mengalami stres karena prestasi yang berkurang, kemudian lari ke narkoba dan minuman keras, serta pergaulan seks bebas, dan masih banyak kasus lain yang melibatkan remaja.

Namun, orang tua mungkin mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan anak remaja yang lebih mandiri. Remaja seringkali mencari jati diri dan memiliki idealisme yang besar, tapi mereka juga memiliki keinginan untuk mendapatkan pengalaman sebanyak mungkin. Anak remaja mungkin tidak mau bergantung lagi pada orang tua dan ingin terlihat lebih dewasa. Namun di sisi lain juga orang tua harus tetap menjaga komunikasi yang baik dengan anak remaja untuk memastikan hubungan mereka tetap dekat.

Jadi, bunuh diri bukan satu-satunya solusi untuk menghilangkan depresi. Masih banyak cara agar kita bisa bangkit lagi dari masalah yang kita hadapi. Salah satunya dengan mendekatkan diri kepada Sang Ilahi dan tetap menjaga komunikasi kita bersama keluarga untuk sekadar memastikan kehidupan yang dijalani baik-baik saja. Wallahu A’lam.

 

Penulis adalah mahasiswa UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

 

 

 

 

Editor : Halo Jember
#opini #mental health #depresi