Seperti pada tahun sebelumnya. Tahun ini pun akan dipenuhi dengan pengalaman baru yang penuh suka dan duka. Apa pun yang akan terjadi, kita harus siap menghadapinya. Setiap tahunnya pasti ada hal baru yang ditemui dan yang harus ditinggalkan seperti orang-orang, tempat maupun benda. Walau begitu, masa depan tidak bisa diprediksi. Jika terlalu dipikirkan malah akan membebani pikiran. Cukup persiapkan diri akan semua kemungkinan yang mungkin terjadi.
Namun, ada banyak hal baru yang menunggu di tahun baru 2025 ini. Tahun 2025 merupakan cikal bakal misteri harapan dan peluang yang menuntun perkembangan kita ke arah yang menyenangkan atau malah sebaliknya. Bersama dengan meledaknya kembang api, mari melangkah ke depan sambil membawa gumpalan tekad dan kenangan dari tahun sebelumnya sebagai bekal untuk menghadapi rintangan yang tak bisa diprediksi.
Refleksi Kekufuran Masa Kelam dan Keimanan Masa Depan
Di penghujung 2024, kendaraan yang dianggap paling aman di dunia mengalami insiden penerbangan secara bergilir selama seminggu berturut-turut pada bulan Desember 2024 di berbagai belahan dunia. Mulai dari tergelincirnya pesawat hingga kecelakaan tragis yang merenggut banyak nyawa.
Insiden dimulai dengan kecelakaan pesawat milik maskapai Azerbaijan Airlines di Kazakhstan yang kemudian disusul 3 kejadian secara berurutan, yaitu Air Canada 2259 di Kanada, KLM Royal Dutch Airlines KL1204 di Norwegia, dan Jeju Air di Korea Selatan.
Sehingga, derasnya aliran informasi seputar kecelakaan pesawat dapat memicu keraguan calon pengguna jasa penerbangan mengenai faktor keamanan dan keselamatan transportasi udara dalam tingkat global serta nasional akibat munculnya isu.
Dalam konteks Public Relation (PR), isu dimaknai sebagai peristiwa yang terjadi diluar kendali manajemen yang dapat berdampak pada tujuan perusahaan atau core business (Nova, 2011). Hal tersebut mengingatkan kepada kita bahwasannya umur tidak ada yang tahu. Toh, walaupun kita sudah merasa aman dan yakin melakukan sesuatu. Karena sejatinya kematian hanya Tuhan yang Maha tahu.
Namun, siapa sangka dibalik bencana semua itu. Kita yang beragama Islam di kejutkan dengan pergantian tahun Masehi dari 2024 ke 2025 bertepatan dengan pergantian bulan dalam tahun Hijriyah yaitu Jumadil Ahir ke Rajab. Momen ini sangat pas karena Rajab memiliki peran penting dalam kehidupan umat muslim. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Ketua I Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Ustaz Adi Hidayat. Dalam kajian yang ditayangkan melalui kanal Youtube resmi.
Di bulan Rajab, umat islam memperingati peristiwa Isra Miraj, perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, hingga ke Sidratul Muntaha. Oleh karena itu, umat islam harus memperbanyak amalan, termasuk puasa. Rajab adalah bulan ketujuh dalam kalender Hijriah, dua bulan sebelum ramadhan. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan suci yang mulia, bersama dengan Zulqadah, Zulhijah, dan Muharam.
Kesuraman yang Tampak
Masalah kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen yang bakal di sahkan pada 2025 telah menjadi isu hangat di berbagai kalangan masyarakat Indonesia. Mulai dari Influencer, Konten Kreator, bahkan publik figur seperti Ferry Irwandi. Menurutnya kenaikan PPN 12% hanya menguntungkan pejabat pemerintah saja. Alih-alih rakyat ikut merasakan keuntungannya, yang ada rakyat kewalahan merasakan lonjakan harga sekitar 3-5 persen. Yang artinya harga tersebut dapat dikategorikan mahal bagi mereka yang ekonominya menengah ke bawah.
Pakar ekonomi telah memperingatkan bahwa kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah adalah yang paling rentan terhadap kenaikan ini. Dengan pengeluaran yang lebih besar pada kebutuhan dasar, kenaikan PPN secara langsung memengaruhi keseimbangan anggaran rumah tangga mereka.
Sementara itu, UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional juga diprediksi menghadapi tantangan besar. Sehingga pemerintah dinilai perlu menyediakan kebijakan insentif atau subsidi untuk melindungi sektor ini agar tetap produktif.
Sektor bisnis properti juga mencemaskan rencana kenaikan PPN 12 persen di 2025. Sotya Parasto, seorang agen properti di Sidoarjo, mengatakan kenaikan PPN akan berpengaruh terhadap daya beli masyarakat atas properti baru maupun properti lama untuk bisnis. Pelaku bisnis properti, kata Sotya, masih menunggu kebijakan pemerintah yang berpihak pada sektor properti, agar daya beli tidak turun drastis akibat naiknya harga jual properti baru.
Rencana kenaikan PPN menjadi 12 persen pada 2025 memang memiliki tujuan strategis, yaitu meningkatkan penerimaan negara untuk menopang pembangunan dan menutup defisit anggaran. Namun, sebagai pajak konsumsi, PPN bersifat regresif, yang artinya lebih membebani kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dibandingkan kelompok berpenghasilan tinggi. Dalam konteks ini, teori pajak Ibn Khaldun memberikan perspektif yang relevan untuk memahami potensi risiko dan peluang dari kebijakan ini.
Akan tetapi, selain sektor informal seperti UMKM, pekerja swasta dan properti, sektor pariwisata dan transportasi juga diyakini akan terkena imbasnya oleh kenaikan PPN 12 persen. Hal itu tidak lepas dari keterkaitan berbagai sektor itu dengan konsumsi atau belanja masyarakat yang turut mengalami kenaikan, bahkan sebelum pajak dinaikkan.
Penulis adalah Mahasiswan UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember
Editor : Halo Jember