Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Meluruskan Polemik Budaya Ngopi bagi Muda-mudi Opini: Hidayat Nor Wahit

Halo Jember • Selasa, 28 Januari 2025 | 03:55 WIB

 

Hidayat Nor Wahit
Hidayat Nor Wahit

DI tengah era transformasi digital dan multi-disrupsi yang sudah semakin masif ini, esensi dan konsistensi terhadap atensi diskusi dalam organisasi rasanya patut kita curigai dan evaluasi.

Karena cenderung telah berangsur luntur dari generasi emas bangsa ini. Pun mulai bertendensi pada media digital dan hal-hal bersifat santai yang semakin merajalela bak virus korona.

Tidak dapat dimungkiri, faktor pergaulan dan lingkungan sekitar menjadi sasaran utama dari terdegradasinya atensi diskusi tersebut. Alasan faktor pergaulan dan lingkungan pun semakin di waspadai dari pelbagai macam kasus yang tersebar di kehidupan.

Contoh konkret yang sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang adalah ketika kita melihat salah seorang teman sekamar ataupun sekontrakan yang biasanya setiap harinya rutin keluar sekadar touring, refreshing, nge-date, ataupun sebagainya, tiba-tiba mendadak ikut kegiatan organisasi atau diskusi.

Tentu saja pemandangan langka semacam ini memantik teman-teman yang lain untuk meng-gojlok-nya habis-habisan.

Sehingga budaya bullying dan ocehan-ocehan tak senonoh yang serupa pun kerap kali di normalisasi dalam suatu pertemanan. Bahkan mirisnya, ketika salah seorang teman yang memiliki tabiat terpendam dalam persoalan mem-bully akan membuat korban keresahan mental dan tidak betah di kamar ataupun di kontrakan seharian.

Mengatakan ia kerasukan setan, ke-jin-an, dan lainnya. Atau dalam ucapan sarkasnya kira-kira seperti ini, “kamu sok rajin ikut diskusi, mending nge-game aja ga bikin pusing” begitulah ledek mereka.

Celotehan semacam itu memang terlihat sebatas gurauan saja. Namun ketika dicermati lebih dalam hal-hal semacam ini secara tidak langsung mengandung kesan implisit tendensius mereka untuk mengabaikan diskusi dan justru malah mengarahkan untuk bermain-main dengan preferensi mereka, yang hasil akhirnya akan menyeret korban terobsesi pada hobi main game juga.

Berbeda dengan hobby ngopi yang telah menjadi warisan turun temurun mahasiswa, yang melekat dan sukar dihilangkan. Karena selain sebagai momen buat berkumpul, ngopi juga sebagai salah satu alternatif mabar, Youtobe-an, Tiktok-an, mahasiswa sekarang di kala kehabisan paketan.

Nilai minusnya budaya ngopi sekarang lebih condong kepada hal-hal bersifat mudarat. Yang mana remaja sekarang ikut ngopi hanya sekadar haus rekognisi dan afirmasi dari komunitas ataupun organisasinya. Selain itu, bagi sebagian remaja, ngopi atau nongki, dapat membuat mereka dianggap kekinian dan mendapat pengakuan status sosial.

Keseringan nongkrong dan menghabiskan waktu berkumpul dengan teman-teman dapat berpotensi membuat kita melupakan tugas dan kewajibannya.

Nongkrong di warung kopi semula diharapkan menghilangkan kejenuhan namun apabila dilakukan secara terus-menerus dapat menyebabkan ketagihan dan mengarah kenakalan remaja. Tentu saja, perilaku tersebut merugikan dirinya sendiri dan orang-orang sekitarnya.

Sangat miris memang melihat fenomena adiksi nongki sekarang ini. Namun untuk membuang stigma budaya ngopi seperti ini, saya rasa kita perlu mengetahui sejarah budaya ngopi dan mindset positif agar tidak hanya memakai satu sudut pandang saja.

Maka sebagai pengingtegrasiannya, saya mempunyai apologi atas masifnya stigma polemik budaya ngopi sebagai sejuta solusi bagi muda-mudi?

Pertama, menilik sejarah kopi di Indonesia. Penting untuk diingat bahwa kopi di Indonesia tidak hanya mencerminkan aspek ekonomi. Di awal abad ke-20, kopi juga berfungsi sebagai simbol nasionalisme dalam konteks perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pada 3 Oktober 1927, dalam pertemuan di Leiden, Belanda, para mahasiswa dan pelajar Indonesia yang tergabung dalam perhimpunan Indonesia menggunakan kopi tubruk, kelobot (rokok kretek), dan cengkeh sebagai simbol identitas budaya mereka. Artinya ngopi, merupakan bentuk sebuah refleksi terhadap simbol semangat juang para pahlawan.

Apologi kedua, Kedai kopi menjadi arena ide-ide liar, bagi mereka untuk bertukar gagasan, diskusi politik, dan inovasi bisnis yang mendorong revolusi industri.

Para pencetus, pengusaha, dan intelektual sering berkumpul di kedai kopi untuk berdiskusi dan merencanakan proyek-proyek baru, yang berkontribusi pada kemajuan teknologi dan transformasi sosial yang holistis dan integral. Karena kedai kopi tempatnya lebih strategis dan intens dibanding tempat-tempat nongkrong lainnya.

Alasan terakhir, orang yang suka mengonsumsi kopi lebih gampang meningkatkan fokus dan daya ingat, dari pada orang yang meminum minuman lainnya. Hal ini tidak dapat dipungkiri, kafein yang terkandung dalam kopi dapat memblokir efek adenosin yang membuat otak rileks dan membantu meningkatkan fokus, ya walaupun efek daya ingat ini tidak berjangka panjang.

Hal ini tentu berbanding terbalik dengan orang yang mengonsumsi minuman lainnya. Orang yang suka dengan minuman lain mungkin saja juga mudah dalam meningkatkan fokus dan daya ingat, namun efek responsnya tak seresponsif orang-orang yang terobsesi kopi.

Selain itu, berdasarkan data Kementerian Pertanian pada 2023, produksi kopi Indonesia mencapai 789.609 ton. Angka tersebut mengalami regresi dibandingkan pada 2022 yang mencapai 794.762 ton. Sehingga nilai ekspor kopi Indonesia pada tahun 2023 turun menjadi US$916,5 juta. Yang artinya peran pecandu kopi sangatlah berpengaruh bagi pemberdayaan ekonomi yang mulai tertinggal.

Dengan acuan kopi dapat mengganggu pencernaan, osteoporosis, dan sakit perut seolah-olah lebih membahayakan dari pada mengonsumsi minuman lainnya, tentu kita tidak perlu khawatir. Karena acuan tersebut perlu di garis bawahi bagi pecandu kopi yang mengonsumsi lebih dari tiga gelas setiap harinya alias berlebihan.

Sebab secara implisit budaya ngopi yang disuguhkan dengan diskusi dapat merepresentasikan reformasi semangat juang kepahlawanan. Semaksud dengan yang ditulis Sayyid Habib Umar bin Saqqaf dalam Tafrihul Qulub wa Tafrihul Kurub, “kopi memang hitam, tapi menyalakan semangat, bahkan memancarkan cahaya.”

*) Penulis adalah mahasiswa UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

 

 

 

 

 

Editor : Halo Jember
#opini #ngopi #muda mudi #nongkrong