Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Keistemewaan Jember Sebelum Pandalungan Opini: Gazza Triatama

Halo Jember • Selasa, 25 Februari 2025 | 15:00 WIB

 

 

Gazza Triatama
Gazza Triatama

Kabupaten Jember saat ini dikenal karena produksi tembakaunya yang khas. Di samping itu, beberapa pihak menyebut Jember dengan sebutan kota Pandalungan. Pandalungan di sini bermakna sebuah kebudayaan baru yang terlahir dari gabungan beberapa kebudayaan, yang mana di Jember memiliki kebudayaan multikultural.

Munculnya Istilah tersebut sebenarnya sangat disayangkan, mengingat alasan penggabungan kebudayaan itu berawal dari kebutuhan tenaga kerja untuk industri milik kolonial Belanda.

Minimnya tenaga kerja dalam industri membuat pejabat Belanda saat itu memutuskan untuk mendatangkan para pribumi dari luar kabupaten Jember.

Sebagian besar di antaranya beretnis Madura dan dari wilayah Jawa Timur bagian barat (wilayah Mataraman), adapun sebagian kecil juga berasal dari kabupaten Banyuwangi.

Klaim mengenai identitas Jember sebagai kota Pandalungan ini sebenarnya tidak tepat. Bagaimana tidak, jika klaim ini hanya didasarkan pada masyarakat Jember yang multikultural maka banyak daerah lain yang lebih layak mendapatkan julukan Pandalungan daripada Jember.

Pandalungan tidak lahir karena penggabungan kebudayaan berupa kesenian dan bahasa semata. Konsep Pandalungan lebih daripada itu, segala aspek kebudayaan harus menyatu dalam satu wadah (Dhalung) dan menjadi satu kesatuan, namun kenyataannya kita masih belum melihat hal tersebut terjadi. Gagasan mengenai konsep Pandalungan beberapa dekade ke belakang, tentunya sangat tidak sesuai dengan cara berpikir sejarah dan tidak paham konteks kesejarahan.

Penting dan perlu diketahui bahwa kabupaten Jember saat ini dikenal sebagai bagian dari provinsi di Jawa timur yang ikut menyumbangkan berbagai tinggalan sejarah era klasik atau abad pertengahan. Abad pertengahan di sini merujuk pada abad ke-7 hingga ke-14.

Berdasarkan tinggalan sejarah yang ada beberapa di antaranya merupakan objek kajian ilmu Arkeologi dan Epigrafi, contohnya prasasti. Di Jember sendiri menyimpan setidaknya hampir 10 temuan arkeologi pada masa era klasik.

Empat di antaranya merupakan prasasti. Agar dapat memahami pesan yang disampaikan oleh sang pemahat prasasti, diperlukan ilmu epigrafi untuk memaknai maupun menerjemahkannya serta memastikan usia tulisan berdasarkan corak guratannya.

Kita ambil contoh pada prasasti Lumbung di kecamatan Silo dan prasasti Watu Gong di kecamatan Rambipuji. Melalui ilmu epigrafi dapat diketahui prasasti Lumbung lebih tua dibandingkan prasasti Watu Gong karena penggunaan bahasa di prasasti Lumbung menggunakan Bahasa Sanskerta (bahasa yang lebih kuno dari Jawa kuno).

Sementara pada prasasti Watu Gong menggunakan Bahasa Jawa kuno dibuktikan dengan penggunaan aksara Pallawa, berbeda dengan prasasti Lumbung yang menggunakan aksara Brahmi. Fakta menariknya Aksara Pallawa adalah cikal bakal dari seluruh aksara yang tersebar se-Asia tenggara dan kabupaten Jember memiliki bukti peninggalannya.

Untuk aksara Brahmi sendiri bisa dikatakan aksara awal sebelum aksara Pallawa lahir dan sangat jarang adanya tinggalan prasasti menggunakan aksara Brahmi di Asia Tenggara. Di Indonesia, saat ini hanya ditemukan di kabupaten Lombok Nusa Tenggara Barat dan Jember.

Ditemukan juga ciri unik dari prasasti Jember yaitu prasasti Congapan di mana memiliki sengkalan pada isi prasasti yang disampaikan. Sengkalan atau masyarakat Jawa menyebutnya candra sengkalan adalah kronogram yang setiap katanya memiliki makna angka tahun.

Berbunyi “tlah sanak pangilangan ku”. Tlah berarti telah atau habis bermakna angka nol, sanak berarti anak atau saudara bermakna angka satu, pangilangan dari kata dasar ilang berarti hilang juga bermakna angka nol, terakhir kata ku dari kata dasar aku bermakna angka satu.

Sengkalan atau candra sengkalan biasanya dibaca dari belakang maka terbaca 1010 tahun Saka atau 1088 Masehi.

Sedikit bukti ini menunjukan masyarakat Jember kuno mengalami tidak hanya sekali perubahan bahasa yang terjadi di tengah-tengah peradabannya, mulai dari Bahasa Sanskerta berganti bahasa Jawa kuno hingga ke Bahasa Jawa modern bahkan saat ini mampu beradaptasi dengan Bahasa Madura dan Indonesia.

Kemajuan ilmu masyarakat peradaban Jember tidak hanya memahami sistem literasi membaca dan menulis, namun juga mampu mengolah beberapa angka tahun yang disimbolkan dengan suatu kalimat.

Dengan begini masyarakat Jember harus bangga akan tinggalan leluhurnya yang menjadi bukti kemajuan masyarakat Jember dibandingkan istilah Pandalungan yang populer pada akhir dekade ini.

 

*) Penulis adalah Sekretaris Yayasan Studi Sejarah Kulit Pohon

 

Editor : Halo Jember
#opini #jember #Pandalungan