BULAN bertabur berkah akan menyapa umat muslim tepat pada 1 Maret 2025 M/1446 H. Momentum Ramadan yang spesial ini, merupakan momentum emas untuk dimaksimalkan dalam meng-upgrade kualitas ibadah spiritual, ritual dan sosial. Ketiga elemen ini adalah poros kehidupan yang sayang jika dilewatkan.
Ramadan selalu menjadi bulan yang diidamkan setiap muslim di penjuru dunia. Sebab, selain dapat menambah pahala dan mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, bulan ini juga menjadi momentum agung untuk mengampuni dosa-dosa hamba-Nya.
Kata Ramadan merupakan bentuk mashdar qiyasi dari ramadha-yarmadhu-ramdhan wa Ramadan, secara harfiah memiliki makna syiddat al-hurr (panas terik). Lalu mengapa dijuluki Ramadan? Hal demikian karena bulan ini menjadi momentum untuk menghapus lelaku buruk dengan melaksanakan puasa (yurammidhu ai yukharriku al-dzunūba).
Sebagaimana nukilan teks Alquran li yuharrika fīhim masya’ira al-tha’ah, bahwa Sang Pencipta memanggil orang-orang berima terkhusus pada bulan Ramadan dalam rangka menumbuhkan ketaatan dan spirit keimanan dalam sanubari orang beriman.
Aspek selanjutnya yang identik dengan bulan Ramadan adalah menggiring manusia untuk senantiasa meningkatkan ketakwaannya (la’allakum tattaqūn). Suluk (jalan) dalam mencapai ketakwaan tidak melulu tentang Habl min Allah semasa, namun Hab min al-Nass dan Hab min al-Alam juga perlu ditingkatkan supaya mendapatkan keberkahan di bulan Ramadan. Ketiga aspek ini jika dijaga dengan baik terkhusus pada bulan Ramadan maka Sang Khalik melipatgandakan pahala serta kebaikan bagi hamba-Nya.
Bukti kecintaan dan pendekatan diri secara vertical (spiritual, ritual) adalah dengan bentuk pengabdian kepada Tuhan dalam bentuk memperbanyak ibadah mahdhah. Selain bertujuan mendekatkan diri pada Sang Pencipta, menurut Imam Al-Ghazali juga memiliki manfaat untuk ketenangan hati, batin (mental) maupun psikologis.
Di era sekarang, menurut hasil riset Asia Care Survey 2024 masalah stres dan burnout menduduki podium tertinggi gangguan kesehatan mental mencapai 56 persen. Dengan meningkatkan kualitas ibadah di bulan Ramadan setidaknya akan mengurangi atau meminimalisir masalah mental yang ada.
Kedua, sebagai makhluk sosial manusia tidak lepas dari interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Jika ditinjau dari ilmu sosial, George Herbert Mead dan Erving Goffman seorang sosiolog abad ke-19 memandang bahwa interaksi sosial merupakan bentuk aktivitas individu yang menjadi faktor membentuk kepribadian setiap manusia.
Ini dikarenakan dalam proses interaksi terdapat proses komunikasi timbal balik (interstimulation). Proses interaksi sosial dalam Islam sejatinya memiliki kedudukan yang mulia, sebab dalam Alquran ayat yang berbicara tentang hukum menurut Ibn Qayyim hanya 150 saja, selebihnya berbicara tentang persoalan sosial, kisah masa lalu serta petunjuk sebagai pelajaran.
Upaya dalam meningkatkan Habl min al-Nass di bulan penuh berkah ini bisa dalam bentuk saling memaafkan, bersedekah, beramal, berinfak, membantu yang membutuhkan. Aktivitas berbagi harta pada yang membutuhkan ini sejalan dengan penyataan Nabi ketika ditanya; Ayyu al-shadaqāti afdhalu? Qala shadaqātun fī Ramadan.
Jika ditarik dalam konteks bernegara, upaya membangun hubungan sosial yang baik yaitu dengan cara saling menerima perbedaan pendapat, menerima kritik, tidak berkonflik, bersikap adil, menjaga moralitas, menjunjung tinggi kemanusiaan dan menjaga tali persaudaraan (Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathaniyah, Ukhuwah Insaniyah).
Meningkatkan tri ukhuwah di atas begitu urgent dalam meningkatkan kesalehan sosial masyarakat. Badan Litbang dan Diklat Kemenag dalam beberapa tahun terakhir merilis Indeks Kesalehan Sosial (IKS).
Pada 2020, IKS di Indonesia berada di angka 82,53 persen, 2021 meningkat 83,92 persen, kemudian 2022 84,55 persen, sempat turun pada 2023 menjadi 82,59 persen, dan di tahun 2024 menjadi 83,83 persen.
Meski terbilang cukup baik, namun masih ada celah 16,17 persen masyarakat Indonesia berpotensi berkonflik dengan berbagai latar belakang. Maka hadirnya bulan Ramadan ini merupakan momentum terbaik dalam upaya meningkatkan kesalehan sosial supaya dapat meningkatkan stabilitas dan keharmonisan negara.
Selanjutnya, yang kadang luput dari perhatian adalah pentingnya menjaga kelestarian ekologi (lingkungan). Puasa tidak hanya fokus pada ibadah menahan lapar dan memperbaiki hubungan sosial semata.
Lebih jauh dari itu, Alquran memiliki pesan-pesan ekologi (bi’ah) untuk senantiasa dijaga dan melarang berbuat kerusakan “wa lā tufsidū fī al-ardi wa’da ishlāhiḥa”. Sementara itu, Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) di Indonesia tahun 2024 masih berada di angka 73,07 dari skala 100 poin. Ini menandakan bahwa kualitas upaya peduli lingkungan masih jauh dari kata sempurna.
Lingkungan yang sehat, indah dan nyaman sejatinya dapat menunjang ibadah-ibadah lainnya. Bentuk investasi ibadah tidak melulu tentang salat dan puasa, namun menjaga lingkungan juga bentuk sederhana dari ibadah yang sifatnya bermanfaat secara berkelanjutan.
Ramadan itu ibarat genangan air di tengah gurun pasir. Ia menjadi magnet makhluk hidup yang tengah kehausan untuk meneguk kesejukan air yang ia sajikan. Ia hadir untuk menghidupi segala macam tumbuhan di sekelilingnya.
Ramadan, adalah oase keberkahan yang tidak semua orang mampu memahami keistimewaan dan kemustajabannya. Maka, menghidupkan Ramadan dengan penuh iman, mengharap keberkahan, dan meningkatkan kualitas tiga elemen di atas akan mengantarkan seorang muslim pada derajat yang agung di sisi-Nya. (*)
*) Penulis adalah anggota PW LTN NU Jatim 2024-2029 dan Peneliti pada Centre for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation.
Editor : Halo Jember