Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Puasa, Renungan Menuju Qolbun Salim, OPINI: Sukidin  

Halo Jember • Rabu, 5 Maret 2025 | 03:40 WIB
Sukidin
Sukidin

AKHIR-AKHIR ini kita dihadapkan dalam sebuah realitas bahwa terdapat fenomena adanya praktik beragama  yang semakin menjauh dari kata damai. Kita beragama, namun tidak bahagia. Dalam berbagai pemberitaan dan media sosial yang nampak dan bahkan mendominasi adalah saling tuduh, saling memfitnah, saling bidah, dan bahkan saling mengkafirkan.

Bila suasana kebatinan dipenuhi saling dengki, maka praktik beragama akan tidak saling mengasihi dan menyayangi. Akan berkembang rasa gelisah dan galau, karena masing-masing mengembangkan rasa saling curiga.

Antar organisasi keagamaan memiliki pemahaman bahwa hanya kelompoknya saja yang benar, sedangkan kelompok yang lain dianggap salah, bahkan kelompok lain ada yang dihukumi sesat. Dampaknya sudah dapat ditebak bahwa antar umat beragama akan berada dalam situasi ketegangan, dan bahkan tidak jarang akan berujung pada terjadinya konflik.

Agama yang sudah tersekat dalam sebuah institusi, akan membawa dampak munculnya saling sikat dan sikut antar pemeluknya. Institusi tersebut penting tapi jangan sampai kehilangan roh keberagamaan, yaitu beragama dengan spirit rahmatan lil’alamiin.

Puasa merupakan momentum untuk mengembalikan spirit hidup yang mencerahkan. Puasa harus dimaknai sebagai upaya untuk menata hidup yang saling mendamaikan. Diutusnya Nabi Muhammad bertujuan mencerahkan  masyarakat.

Risalah Nabi dimaksudkan agar umat hijrah dari alam kegelapan (jahiliah) menuju kehidupan yang dipenuhi petunjuk Tuhan. Tuhan telah membekali para Nabi berupa kitab suci yang berfungsi sebagai pedoman (guidance) dalam berperilaku dalam kehidupan. Agama itu nur, sehingga bersifat terbuka dan membebaskan. Orang beragama harusnya hidupnya bahagia dan  gembira karena selalu memperoleh pencerahan.

Orang yang beragama akan ditandai dengan keimanan, ibadah dan berbuat kebaikan pada sesama, dan hal ini merupakan sesuatu yang mencerahkan. Orang beriman itu hanya percaya pada Tuhan, sedangkan orang kafir itu menyembah pada thoghut (setan, berhala) sehingga kehidupannya menjadi buram.

Orang beragama akan senantiasa membela kebenaran dan posisinya berada pada pihak yang benar. Orang beriman mampu membedakan antara perkara yang haq dengan perkara yang bathil.

Selanjutnya orang beragama diharapkan mampu menyentuh aspek rohani yang paling dalam. Mengamalkan ajaran agama itu idealnya sampai dengan wilayah hati nurani, karena hati nurani itu tidak pernah salah.

Hal ini perlu dikemukakan karena cara beragama kita baik secara individu maupun kolektif sudah mulai meninggalkan atau bahkan kehilangan roh hati nurani. Pada saat ini ada kecenderungan hati nurani kita sedang sakit.

Kita masih selalu disibukkan dengan mencari-cari perbedaan, bukan menemukan kesamaan. Padahal agama dengan tegas dan jelas mengajarkan tentang pentingnya perdamaian. Perdamaian akan bisa diwujudkan bila dikembangkan sikap kasih sayang.

Ada sekelumit kisah tentang dahsyatnya kekuatan kasih sayang. Ada seorang ibu yang mengetuk pintu sebuah rumah, dan ternyata di dalamnya ada seekor singa.

Singa tersebut bukannya menyambut dengan terkaman, namun justru menyambut dengan pelukan yang sangat erat. Mengapa singa melakukan hal itu? Penyebabnya adalah karena hadirnya rasa kasih sayang. Singa justru takluk karena perlakuan ibu yang penuh kasih sayang. Si ibu telah mengamalkan ajaran rahmatan lil’alamiin.

Pertanyaan berikutnya adalah kalau hewan saja takluk dan perasaannya luluh dengan sentuhan kasih sayang, lalu bagaimana dengan manusia. Tentu manusia dengan akal budinya akan lebih mudah takluk bila didekati dengan kasih sayang. Membiasakan diri dengan rasa empati pada sesama merupakan pengamalan ajaran agama yang mencerahkan.

Beragama yang mencerahkan itu bila kita menggunakan pendekatan hati nurani untuk mengatasi segala persoalan kehidupan, terutama yang terkait dengan pergaulan hidup berdampingan dengan orang lain. Sudah saatnya kita berlomba-lomba untuk menggapai status qolbun salim, menghidupkan hati nurani.

Semua pikiran dan perilaku digerakkan dengan mengikuti kehendak hati nurani. Sebenarnya ajaran agama itu berhimpitan dengan hati nurani. Bila agama dijadikan sebagai way of life, sebagai peta jalan kehidupan, maka hati nurani akan sebagai pengiringnya. Hati nurani akan menghasilkan budi pekerti luhur.

Apabila kita sudah mampu mengamalkan ajaran agama sampai level ini, maka betul kata orang Jawa bahwa agama itu ageman (bukan anteman), sesuatu yang harus dipedomani. Tindakan orang beragama senantiasa sesuai dengan ageman yang menjadi keyakinannya.

Hidupnya menjadi selalu optimis karena memiliki harapan tentang masa depan. Motivasi hidupnya bahkan melampaui kehidupan setelah hidup di dunia ini yaitu kehidupan akherat kelak.

Orang yang memiliki iman sebagai ageman, akan mengisi hidupnya dengan motivasi fastabikul khoirot, yaitu menjadi yang terdepan dalam melakukan kebaikan. Hidupnya dipenuhi dari satu kebaikan menuju pada kebaikan berikutnya.

Hati nuraninya bersih, karena antara pikiran dan tindakan selalu berjalan beriringan. Orang beriman mempraktikkan pola hidup satunya kata dan perbuatan. Apa yang dia pikirkan itulah yang dikatakan. Apa yang dia katakan itulah yang dilakukan.

Gaya hidup sesuai dengan hati nurani tersebut bila dilakukan dengan bersungguh-sungguh maka kehidupannya akan menjadi bahagia. Agama dalam pengamalan ini berarti sudah mampu menjernihkan pikiran dan akal sehat. Akalnya akan terus berburu pengetahuan, namun kejernihan pikirannya akan menuntun sehingga hanya mengambil nilai yang benar dan  baik  saja.

Orang yang sudah mencapai qolbun salim akan menafsiri apa pun yang sedang terjadi pada dirinya dengan sudut pandang yang positif. Bila mendapat nikmat, d

ia akan bersyukur. Dia bersyukur karena Tuhan telah menjawab semua doanya, yang diwujudkan dalam bentuk kenikmatan saat di dunia ini. Bila mendapat musibah, dia akan bersabar. Ketika mendapat ujian sebagai orang beriman, dia akan merasa sedang mendapat teguran dalam bentuk kasih sayang dari Tuhan agar dia semakin mendekat pada yang kuasa.

Semoga kita diberi kekuatan dan petunjuk oleh Tuhan sehingga dengan momentum Ramadan ini mampu beragama yang mencerahkan. Beragama dengan spirit rahmatal lil’alamiin untuk mencapai maqom qolbun salim, yang pikiran dan hatinya dipenuhi dengan perasaan kasih sayang. (*)

 

*) Penulis adalah Koordinator Program Studi Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember.

 

Editor : Halo Jember
#dengki #Renungan #puasa #Saling Tuduh #Hati Nurani