Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Spiritualitas Puasa, Mencegah Syahwat Korupsi Opini Mushafi Miftah

Halo Jember • Senin, 10 Maret 2025 | 15:00 WIB

 

 

Mushafi Miftah
Mushafi Miftah

PUASA Ramadan merupakan bulan mulia. Banyak keutamaan dan fadilah bisa diraih. Tidak heran jika pada bulan puasa ini, umat islam seantero dunia berlomba-lomba melakukan kebaikan dan meningkatkan ibadah. Karena kebaikan yang dilakukan pahalanya akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.

Namun demikian, kemuliaan dan keberkahan Ramadan bagi sebagian orang dan elit-elit bangsa tidak menjadi wahana untuk memperbaiki diri mendekat kepada Allah SWT. Justru menjelang pelaksanaan puasa Ramadan beberapa waktu lalu, Indonesia digegerkan dengan terungkapnya mega kasus korupsi di Pertamina (25/2).

Kasus korupsi yang terkait dengan tata kelola minyak mentah ini, diduga merugikan negara hingga mencapai Rp 193,7 triliun. Bahkan, dalam kasus ini Kejaksaan Agung telah menetapkan tujuh orang tersangka.

Prilaku korupsi di Negara ini seakan telah menjadi tradisi dan bukan lagi menjadi aib. Para elit bangsa yang pernah terjerat kasus korupsi seakan tidak lagi memiliki rasa malu. Banyak mantan narapidana kasus korupsi masih lalu lalang di ruang publik dan kembali mewarnai dinamika politik bangsa ini tanpa beban malu sedikitpun.

Korupsi tidak hanya menyangkut kerugian uang negara, tapi ambruknya mentalitas tata kelola pemerintahan. Sehingga berpotensi membawa dampak pada lumpuhnya sendi-sendi perekonomian nasional.

Bagaimana tidak, uang yang seharusnya digunakan untuk membangun kesejahteraan bangsa dalam berbagai sektor, justru dikorupsi untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Karena nafsu koruptif para elit bangsa ini perlu dicegah, sehingga tidak akan menjadi faktor gagalnya pembangunan kesejahteraan sosial.

Korupsi sebagai Penyakit Hati

Prilaku korupsi yang dilakukan oleh sebagian elit bangsa ini bukan karena mereka mengalami tekanan ekonomi atau tidak paham terhadap undang-undang tindak pidana korupsi. Pada umumnya, pelaku korupsi secara ekonomi menengah ke atas atau bisa disebut kaya dan berpendidikan tinggi sebagai pejabat.

Akan tetapi karena adanya penyakit hati yang bersemayam dalam hatinya, yaitu tamak dan serakah, sehingga mereka kesulitan untuk mengendalikan hawa nafsunya dalam memburu harta dunia. Rasa kekurangan selalu menghantui hidupnya.

Seorang yang memiliki penyakit hati berupa tamak dan serakah, akan terus disibukkan untuk mengejar dunia dan akan terus berupaya mendapatkannya walaupun dengan cara mengkhianati rakyat dengan korupsi.

Tamak harta melahirkan dosa seperti menipu, korupsi, mencuri, merampok, korupsi, dan kikir atau bakhil. Begitu juga dengan tamak kekuasaan muaranya pada kezaliman yang menimbulkan praktik oligarki hingga kolusi.

Dalam islam, penyakit hati yang bernama tamak merupakan sifat tercela dan dilarang. Jika sifat ini sudah bersemayam dalam hati kita, maka sifat ini akan mencari segala cara demi mendapatkan keinginannya seperti korupsi. Karena tamak dan serakah merupakan cinta yang berlebihan kepada dunia, terutama harta, tanpa memperhatikan dan mempertimbangkan aspek halal dan haramnya.

Menurut ulama sufi, orang-orang yang terhegemoni hawa nafsunya akan terkunci hatinya untuk menerima kebenaran. Saat ditunjukkan kebenaran, dia akan menutup rapat-rapat mata hatinya dan akan berusaha untuk mengaburkan kebenaran, atau menyelimuti kebenaran dengan kebatilan.

Karena itu, kita perlu mencari solusi bagaimana agar keluar dari hegemoni syahwat dan hawa nafsu dunia yang seringkali membuat lupa nilai-nilai kebenaran.

Puasa sebagai Solusi

Salah satu cara mencegah penyakit hati yang berupa syahwat korupsi adalah puasa. Puasa adalah cara efektif dalam membunuh hawa nafsu. Puasa tidak hanya mencegah lapar dan haus, tapi juga bisa menghindarkan dari hegemoni syahwat dan hawa nafsu. Seperti perbuatan yang dapat menyinggung, menyakiti perasaan, dan perbuatan yang bisa merugikan orang lain. Puasa adalah berpuasanya seluruh tubuh, puasanya mata, kaki, tangan, telinga, bahkan hati pun ikut berpuasa.

Dalam konteks ini, spiritualitas puasa memiliki dimensi yang dapat membangun kesadaran empati  dan rasa takut untuk melakukan perbuatan dilarang agama. Karena puasa bukan hanya tentang fisik semata, melainkan penempaan batin godaan dari hawa nafsu.

Dalam puasa, terkandung nilai-nilai tarbiah yang dapat mendidik jiwa manusia, sehingga hadir pribadi yang takwa. Artinya, melalui puasa setiap manusia bisa menjelma menjadi pribadi yang baik, jujur, takwa, dan peka terhadap sosial.

Puasa tidak hanya melatih kuat lapar dan haus, tapi juga membangun mental kejujuran, kepekaan sosial, dan ketakwaan kepada Allah. Penyakit hati seperti hubbud dun-ya (koruptif), dan tamak akan hilang dalam diri seseorang yang melakukan puasa dengan dasar iman.

Mencegah praktik korupsi memang bukanlah sesuatu yang mudah. Bukan hanya tentang sistem yang memberikan ruang untuk korupsi, akan tetapi hal itu terkait mentalitas dan kondisi hati pelakunya.

Artinya, korupsi atau tidak, tergantung pada kesehatan mental dan hati masing-masing. Dalam konteks ini, puasa Ramadan menjadi ruang untuk ujian dan latihan yang sangat hebat bagi jiwa dalam soal keimanan, kejujuran dan kepekaan sosial.

Ala kulli hal, puasa Ramadan sebagai sebuah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai bentuk penghambaan kepada Allah, tapi juga merupakan instrumen ideal untuk menata jiwa manusia agar menjadi lebih baik.

Melalui puasa akan terbangun jiwa-jiwa yang jujur, berintegritas, dan penuh tanggung jawab sehingga tidak mudah untuk melakukan kezaliman dan kejahatan yang dapat merugikan orang banyak seperti korupsi. Karena itu, Nabi bersabda yang artinya berpuasalah agar kamu sehat. Yang dimaksud sehat disini tidak hanya terkait dengan fisik tapi juga batin dan rohaninya. Wallahu A’lam. (*)

 

*) Penulis adalah dosen Ilmu Hukum juga Direktur Kajian dan Konsultasi Universitas Nurul Jadid Paiton, Probolinggo.

 

 

 

Editor : Halo Jember
#opini #ibadah #puasa #korupsi #ramadan