DEGRADASI moral yang dialami para elite politik dan pejabat tinggi membuat martabat mereka semakin terpuruk, seakan kehilangan ketauladanan. Mereka tak mampu membedakan yang mana keinginan dan kebutuhan hidup yang prinsipil. Hal ini sudah disinyalir dalam Al-Kitab (Galatia 6:8) yang berbunyi, “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu”.
Kehendak hawa nafsu selalu saja mengabaikan prinsip kesederhanaan. Di dalam Islam dikenal istilah zuhud yang sama sekali bukan menganjurkan hidup miskin atau menghindari modernitas, akan tetapi manusia harus mampu mengekang diri agar jangan diperbudak oleh barang-barang produksi maupun selera pasar yang meninabobokan.
Adakalanya seseorang memiliki mobil, jika memang diperlukan sebagai alat transportasi. Bukan karena terpesona pada kemegahan dan kemewahannya. Tetapi, cukup sebagai sarana dan alat untuk mencapai tujuan yang sesungguhnya.
Bahkan, jika memang diperlukan sebagai alat transportasi, memiliki helikopter bukan lagi sebagai barang mewah yang dianggap berlebihan.
Prinsip mengendalikan hawa nafsu, seperti dijelaskan oleh Yesus dalam Roma 8:12-13, hendaknya menolak untuk hidup menurut daging, sebab jika manusia menuruti kehendak daging, maka ruhnya akan mati, “Tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, maka kamu akan hidup”.
Hal tersebut selaras dengan apa yang dinyatakan Nabi Muhammad tentang pelarangan mubazir, yang identik dengan pemborosan dan kesia-siaan. Sifat ini pun dikategorikan sebagai sifat yang menyatakan ketundukan seseorang pada hawa nafsunya.
Baca Juga: Tren Baju Lebaran di 2025, Tampil Cantik dan Anggun di Hari Raya dengan Warna Cerah
Filosofi Puasa
Terkait dengan ibadah puasa sebagai upaya menjaga diri dari godaan hawa nafsu, Yesus sudah menjelaskan kepada para pengikutnya, seperti yang tertuang di dalam Al-Kitab: “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu” (Roma 8:8-9).
Untuk itu, Roh Allah harus senantiasa hidup dalam diri orang yang berpuasa, sehingga manusia tidak akan terjatuh pada hal-hal yang tidak terhormat dan tidak terpuji. Baiknya puasa seseorang adalah ukuran kemantapan orang itu dalam meningkatkan kualitas dirinya, hingga sanggup berhijrah dari manusia jasmani menuju manusia rohani.
Dalam terminologi sufi, tidak jarang para ulama tasawuf yang mementingkan puasa, serta menjadikan perutnya lapar, karena bagi mereka, manusia tak mungkin dapat menikmati lezatnya makan sate atau buah durian, jika perut dalam keadaan kenyang.
Untuk itu, agar dapat menikmati lezatnya makanan, seorang sufi membiasakan diri dengan mengosongkan perut terlebih dahulu. Mereka punya penilaian tentang benda, bahkan makanan sebagai asupan tubuh, hanyalah sebagai sarana untuk beribadah dan mendekatkan diri pada Tuhan.
Baca Juga: Ketentuan Bayar Zakat Fitrah dengan Uang Menurut Buya Yahya
Berkaca Diri
Jiwa yang terlatih mengevaluasi dan introspeksi diri, membuat seseorang tidak merasa dirinya serba suci dari segala noda dan dosa. Bahkan, di dalam Quran ditegaskan, bahwa kualitas ibadah seseorang seperti salat dan zakat menjadi tidak bernilai bila disertai sikap riya, yang identik dengan sikap menyombongkan diri. Bagaimana mungkin manusia membanggakan diri dengan berzakat atau berderma, sedangkan harta yang diperolehnya hanyalah titipan dari Tuhan.
Itikad dan kemauan keras untuk mengoreksi dan memperbaiki diri adalah jalan terbaik untuk meniti hidup ke arah yang lebih bersih. Karena boleh jadi, orang lain yang kedudukan sosialnya lebih rendah, ternyata memiliki kualitas iman yang tinggi di mata Tuhan. Bukankah apa-apa yang terbaik menurut kita, belum tentu menjadi yang terbaik menurut Tuhan? Dan bukankah apa-apa yang terburuk menurut kita, juga belum tentu dinilai buruk oleh Tuhan?
Seringkali orang Indonesia terjebak di wilayah eksoteris dalam hidup keberagamaan, namun mengabaikan hal-hal prinsipil yang berkaitan dengan esoteris dan wilayah keimanan. Padahal, wilayah iman inilah yang merupakan puncak tujuan dari segala hidup keberagamaan, yang kadangkala tidak diperhatikan karena tertutup oleh kabut egosentris dan kebanggaan terhadap paham kelompoknya sendiri.
Prinsip hidup semacam itu sangat merugikan diri dan orang lain, yang membuat seseorang terjebak pada sifat ujub dan takabur, hingga merasa derajat orang lain lebih rendah daripada derajat dirinya sendiri. Sikap introspeksi diri akan melahirkan kepekaan dan kepedulian terhadap diri sendiri dan sesama.
Hingga muncullah penilaian dan simpati orang, karena orang yang peka dan peduli akan selalu menimbang dirinya untuk bisa menghibur dan menyenangkan hati orang. Dengan itu, maka kehadirannya akan dinantikan dan ketiadaannya akan dirindukan.
Orang yang sanggup mengintrospeksi diri juga tergolong manusia yang memiliki kualitas ketakwaan yang tinggi. Menurut KH Abdurrahman Wahid, orang yang bagus kualitas imannya, ia tidak akan kering hidupnya dari karya dan karsa.
Karena yang terpikir olehnya adalah bagaimana harus berkarya dan hidup produktif, sehingga terus-menerus bermetamorfosis untuk melahirkan karya-karya terbaik yang dapat disumbangkan bagi kemaslahatan umat. “Orang yang benci terhadap agama orang lain, berarti dia telah menuhankan agama, dan bukan menuhankan Allah,” demikian tegas Gus Dur.Baca Juga: Gus Dur Pernah Singgah dan Ngopi di Sebuah Makam di Gumitir. Makam Ulama Siapakah di Sana?
Dalam terminologi tasawuf, orang yang sudah rajin beribadah serta melaksanakan ajaran-ajaran agama secara intensif, sangat dianjurkan pula untuk membenahi diri secara terus-menerus. Apakah salatnya sudah berpengaruh dalam membina jiwa agar menjauhi hal-hal yang bersifat munkar?
Apakah zakatnya sudah menumbuhkan rasa empati dan belas kasih kepada sesama manusia, sehingga ia lebih menempatkan orang-orang lemah dan miskin sebagai orang yang berhak atas pembagian nafkah (derma)? Apakah hajinya telah menumbuhkan sikap egaliter dan toleran, hingga menyuburkan mental ukhuwah imaniyah, serta menumbuhkan kesadaran untuk berjuang dalam kebenaran dan kebaikan? Lalu, apakah puasanya mampu membentengi diri dari segala godaan hawa nafsu dan angkara murka? (*)
*) Penulis adalah Pengasuh Ponpes Nurul Falah (Tebuireng 09), Rangkasbitung, Banten.
Editor : Dwi Siswanto