Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Gaya Belajar Peserta Didik Pada Pembelajaran Berdiferensiasi Hanya Mitos? Opini : Ahmad Falah

Halo Jember • Senin, 14 April 2025 | 19:00 WIB

 

Ahmad Falah
Ahmad Falah

HALOJEMBER - Baru-baru ini berkembang kritik dalam dunia pendidikan mengenai salah satu aspek dalam pembelajaran berdiferensiasi.

Diferensiasi yang dikritik adalah dalam hal gaya belajar siswa yang dianggap sebagai sesuatu yang tidak efektif untuk diterapkan dalam kelas.

Selain itu juga dipertanyakan keabsahannya, karena seolah mengungkung siswa dengan gaya belajar atau modalitas belajar tertentu.

Sebelum beranjak lebih jauh mengenai isu ini, baiknya penulis paparkan terlebih dahulu mengenai pembelajaran berdiferensiasi dan perihal gaya belajar dalam pendidikan.

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan model pembelajaran yang mengakomodasi keberagaman peserta didik dan tidak menyamaratakan semua individu yang ada di kelas.

Tujuannnya agar pembelajaran yang dilakukan dapat diterima dengan baik oleh semua siswa dengan keragamannya. Pembelajaran berdiferensiasi bahkan menjadi salah satu hal yang ditekankan pada Kurikulum Merdeka di Indonesia.

Hal tersebut dengan kesadaran bahwa setiap siswa memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda dan perlu diakomodasi dan difasilitasi.

Bahkan hal ini sejalan dengan filosofi pendidikan menurut Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara mengenai kodrat alam dan kodrat zaman dalam pembelajaran.

Kodrat alam yang dimaksud adalah bahwa pendidikan hendaknya memfasilitasi potensi, keunikan dan keberagaman peserta didik

Selanjutnya adalah aspek dalam pembelajaran berdiferensiasi yang cukup populer untuk dipelajari dan diterapkan adalah gaya belajar siswa.

Gaya belajar merupakan cara atau metode paling efektif bagi seseorang dalam memahami sesuatu dan mengimplementasikan hasil berpikirnya. Gaya belajar dipetakan menjadi 3 jenis yaitu visual, auditori, dan kinestetik.

Namun penulis berpandangan bahwa terdapat satu gaya belajar lagi yaitu multimodal, artinya gabungan antara dua gaya belajar. masing-masing gaya belajar memiliki kecenderungan cara memproses sesuatu yang berbeda.

Visual yang lebih mudah memahami sesuatu melalui grafis atau indra penglihatan, kemudian auditori melalui suara dan indra pendengaran. Terakhir adalah kinestetik yang lebih suka mempraktikkan sesuatu secara langsung.

Namun terdapat satu lagi yang mungkin belum populer bagi sebagian orang yaitu multimodal, kecenderungan yang berupa gabungan antara beberapa gaya belajar seperti auditori-visual dan lainnya.

Gagasan dan model pembelajaran tersebut terlihat dan dirasa sangat potensial dan efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa dan kemampuan siswa dalam belajar.

Karena siswa mengetahui bagaimana cara efektif dalam memproses sebuah informasi dan pengetahuan baru.

Selain itu dengan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan gaya belajar peserta didik juga membuat peserta didik merasa dihargai sebagai individu yang memiliki keunikan masing-masing dan minim judging dari guru apabila terdapat siswa yang tidak begitu cepat dalam memahami sebuah materi.

Salah kaprah

Akan tetapi, sebuah polemik muncul dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan gaya belajar tersebut. Dalam penerapan yang penulis amati adalah pelaksanaan yang kurang persiapan dan terlalu memaksakan dalam pelaksanaan pembelajaran dengan model tersebut.

Adanya pemetaan gaya belajar yang belum tepat, kemudian penyampaian perihal gaya belajar tersebut kepada siswa yang belum jelas. Sehingga alih-alih siswa merasa mengenali potensi mereka dalam belajar, malah menjadikan mereka merasa terkungkung dalam sebuah gaya belajar tertentu dan merasa tidak paham jika media atau cara penyampaiannya tidak sesuai gaya belajarnya.

Beberapa salah kaprah dalam penerapan tersebut bukannya menjadi sebuah potensi besar dalam pembelajaran, malah menjadi bumerang dan menghambat pembelajaran.    

Beberapa polemik yang terjadi tersebut menurut penulis disebabkan oleh kurangnya kematangan dalam pemahaman mengenai gaya belajar dan penerapannya dalam pembelajaran berdiferensiasi di kelas.

Praktik yang seringkali ditemui dalam penerapannya adalah guru menyediakan media pembelajaran yang bermacam-macam sesuai dengan gaya belajar peserta didik. Namun hal itu kurang efektif karena akan tercipta dikotomi dalam kelas, dan membuat siswa malah menjadi dibedakan. Hal ini melenceng dari konsep pembelajaran diferensiasi yang semestinya

Ketika pembelajaran yang demikian memperoleh hasil yang kurang maksimal dan membuat guru merasa kesulitan, maka mulai muncullah suara-suara sumbang mengenai gaya belajar yang dianggap bukan sesuatu yang tepat dan dianggap hanya persepsi saja.

Padahal yang menyebabkan pembelajaran berdasarkan gaya belajar terkesan tidak efektif adalah kesalahan dalam pemetaan dan penerapannya.

Beberapa catatan penulis yang mungkin dapat sedikit meluruskan salah kaprah dan miskonsepsi mengenai gaya belajar siswa dalam pembelajaran adalah bahwa pemetaan dalam gaya belajar siswa perlu dikaji dan benar-benar sudah sesuai dalam memetakan hal tersebut.

Kemudian pemahaman dan memberikan pemaparan pada siswa bahwa gaya belajar adalah cara efektif bagi setiap individu dalam mempelajari sesuatu, namun merupakan sesuatu yang dinamis sehingga dapat berubah.

Selain itu adalah bahwa gaya belajar yang dimiliki siswa tidak harus diimplementasikan dalam semua pelaksanaan pembelajaran. Hal ini agar siswa juga memperoleh pembelajaran dengan model atau gaya pembelajaran yang lain.

Jadi apakah gaya belajar siswa hanyalah sebuah mitos belaka? Atau kita yang belum mampu mengimplementasikannya?

 

Penulis saat ini sebagai tenaga pendidik mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Jember.

 

 

Editor : Halo Jember
#Pembelajaran Berdiferensiasi #gaya belajar #pendidikan