SAYA membayangkan diri saya sedang duduk di teras rumah, ditemani segelas teh hangat. Di depan mata, sawah hijau membentang, dan suara burung berkicau pelan. Tiba-tiba, tetangga sebelah, sebut saja namanya Pak Slamet, lewat sambil tersenyum lebar. "Eh, tahu, nggak," katanya, "Sekarang ke dokter gratis, cuma pakai KTP!" Saya tertawa kecil, tapi dalam hati, saya tahu ini bukan khayalan. Ini kabar nyata, berkat Universal Health Coverage (UHC) yang baru saja diluncurkan di Kabupaten Jember. Dan, cerita ini, menurut saya, adalah sesuatu yang layak menyebar ke seluruh dunia.
UHC, kalau diterjemahkan ke bahasa yang lebih santai, adalah sistem yang memastikan setiap orang—tanpa terkecuali—bisa mendapat layanan kesehatan yang layak tanpa harus pusing memikirkan biaya. Di Jember, ini bukan sekadar wacana. Mulai 1 April 2025, Pemerintah Kabupaten Jember bersama BPJS Kesehatan meluncurkan program UHC Prioritas. Cukup tunjukkan KTP, warga Jember bisa berobat gratis, dari periksa mata sampai operasi besar. Bayangkan betapa leganya hati orang-orang seperti Pak Slamet, yang dulu harus menahan sakit karena tak punya cukup uang untuk ke dokter.
Saya teringat salah seorang teman saya, yang tinggal di pelosok Jember, ketika anaknya tiba-tiba demam tinggi di tengah malam. Dulu, ia pasti panik, bukan cuma karena khawatir sama anaknya, melainkan juga karena dompetnya tipis dan saldo di rekeningnya bikin meringis. Sekarang, dengan UHC, ia bisa langsung bawa anaknya ke puskesmas atau rumah sakit tanpa mikir dua kali. Gratis. Cuma bawa KTP, selesai! Hal seperti ini yang bikin saya yakin UHC adalah game changer.
Namun, apa, sih, rahasia di balik UHC Jember? Kalau saya amati, ini soal komitmen dan kerja sama. Pemerintah Kabupaten Jember melakukan efisiensi anggaran di berbagai sektor, lalu mengalihkan dana itu untuk kesehatan warganya. Mereka juga bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, memastikan 98 persen warga Jember terdaftar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), meski cuma 81 persen yang aktif. Angka ini luar biasa untuk kabupaten sebesar Jember, yang penduduknya lebih dari 2,6 juta jiwa. Bayangkan, kini semua orang punya "tiket" untuk berobat tanpa khawatir biaya.
Saya suka membayangkan UHC ini seperti jaring pengaman raksasa. Kalau hidup adalah tali yang kita lintasi, maka penyakit adalah angin kencang yang bisa bikin kita jatuh. UHC adalah jaring yang bakal menangkap kita, memastikan kita tidak hancur hanya karena sakit. Di Jember, jaring ini sudah mulai kuat. Namun, kenapa saya bilang UHC harus diterapkan di seluruh dunia? Mari kita tarik napas dalam-dalam dan pikirkan.
Pertama, kesehatan adalah hak, bukan privilege. Saya pernah ke dokter mata, dan, di ruang tunggu, ada emak-emak yang cerita anaknya tak bisa sekolah karena matanya buram. Kacamata sederhana bisa menyelesaikan masalah, tapi dia tak mampu membelinya. Kalau UHC ada di mana-mana, cerita seperti ini tak akan ada lagi. Setiap anak, setiap orang tua, bisa mendapat perawatan yang mereka butuhkan, tanpa harus memilih antara makan atau obat.
Kedua, UHC bukan cuma soal keadilan, tapi juga soal ekonomi. Orang sehat bekerja lebih baik, belajar lebih giat, dan bermimpi lebih besar. Bayangkan sebuah desa di mana semua orang sehat karena bisa ke dokter kapan saja.
Anak-anak tak absen sekolah karena demam, ibu-ibu tak mati muda karena tak mampu cek ke dokter kandungan, dan bapak-bapak tak bangkrut karena operasi. Desa itu pasti lebih maju, bukan? Sekarang bayangkan itu terjadi di seluruh dunia. Ekonomi global akan melonjak karena orang-orang tak lagi terjebak dalam lingkaran kemiskinan akibat biaya kesehatan.
Saya teringat diskusi dengan seorang dokter. Dia bilang, bila ada UHC, puskesmas bakal makin ramai, tapi pasien bakal datang lebih awal—sebelum penyakitnya parah. Ini poin ketiga: UHC mendorong pencegahan, bukan cuma pengobatan. Orang jadi tidak takut ke dokter karena biayanya gratis. Jadi, penyakit kecil tidak menjadi besar. Di negara-negara tanpa UHC, banyak yang menunda berobat sampai sakitnya tak tertahankan. Akibatnya, biaya pengobatan jadi lebih mahal, dan nyawa sering tak terselamatkan.
Keempat, UHC adalah soal kemanusiaan. Saya pernah baca cerita tentang seorang pria di negara tanpa jaminan kesehatan, yang harus menjual rumahnya untuk membayar biaya kemoterapi istrinya. Di dunia yang adil, cerita seperti ini tidak boleh ada. UHC memastikan bahwa cinta dan harapan tak akan dikalahkan oleh tagihan rumah sakit.
Di Jember, saya harapkan cerita-cerita bahagia bakal bermunculan: Seorang nenek yang akhirnya bisa operasi katarak, seorang ibu yang melahirkan dengan selamat, seorang ayah yang sembuh dari sakit jantung. Ini bukan sekadar statistik—ini nyawa, ini harapan.
Namun, tentu saja, UHC bukan sulap. Di Jember pun, masih ada tantangan. Ada warga yang belum aktif di JKN, ada puskesmas yang perlu lebih banyak dokter, dan ada rumah sakit yang kadang kewalahan menangani pasien. Di dunia yang lebih luas, tantangannya lebih besar lagi: Dana, infrastruktur, korupsi, atau sekadar kemauan politik. Namun, bukankah semua hal besar memang dimulai dari langkah kecil? Jember sudah membuktikan: Bahwa, dengan komitmen, UHC bukanlah mimpi kosong.
Saya suka membayangkan dunia di mana UHC adalah norma, seperti air bersih atau listrik. Bayangkan seorang anak di Ethiopia bisa ke dokter mata tanpa biaya, seorang ibu di Sri Lanka bisa melahirkan dengan aman, atau seorang kakek di Bolivia bisa minum obat diabetes tanpa khawatir dompetnya menipis. Dunia seperti itu bukan utopia—itu mungkin, asal kita mau bergerak bersama.
Balik lagi ke Jember, saya kembali membayangkan Pak Slamet. Ia berkata seperti ini: "Dulu, sakit itu beban. Sekarang, sakit cuma urusan dokter." Kalimat sederhana itu, bagi saya, adalah esensi UHC. Sakit tidak lagi menjadi hukuman, tapi tantangan yang bisa diatasi bersama. Kalau Jember bisa, kenapa dunia tidak? Mari kita mulai dari sini, dari secangkir teh di teras, dari cerita tentang Pak Slamet, dan dari mimpi bahwa setiap orang berhak sehat. Karena, pada akhirnya, kesehatan itu bukan sekadar hidup—itu adalah cara kita menghormati kemanusiaan.
Penulis adalah blogger yang tinggal di Jember
Editor : Dwi Siswanto