Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Suwar Suwir

Fenomena Tren Velocity, Antara Esensi dan Eksistensi, OPINI Oleh: Hidayat Nor Wahit  

Dwi Siswanto • Selasa, 22 April 2025 | 03:35 WIB

 

Hidayat Nor Wahit
Hidayat Nor Wahit

HADIRNYA Tiktok telah menjadi salah satu platform media sosial yang paling krusial di kalangan anak muda sekarang, dengan berbagai tren yang berkembang pesat membuat Tik Tok semakin meruak banyak peminat. Sehingga memengaruhi negara Indonesia dalam berbagai aspek, seperti budaya, sosial, pariwisata, dan politik.

Salah satu tren yang sedang naik daun dan peminatnya bukan hanya dari kalangan anak muda saja, tetapi orang tua juga sudah ikut lumrah meramaikan trennya. Bahkan Presiden Indonesia melakukan tren tersebut bersama para jurnalis di Istana. Namanya yaitu Velocity. Sebuah fitur yang memungkinkan pengguna mempercepat dan memperlambat klip video dengan irama musik tertentu.

Velocity merupakan istilah dalam kosakata bahasa Inggris. Yang mana, arti velocity dalam bahasa Indonesia sebagai kecepatan atau akselerasi. Untuk lebih detailnya, velocity merupakan teknik mengedit atau efek video yang dapat memodifikasi kecepatan klip pada rentang frame tertentu. Sehingga video yang asli diubah dan dicepatkan atau dilambatkan. Biasanya, dalam dunia pengeditan video, tujuan penggunaan velocity adalah untuk membuat bagian khusus yang dapat menonjolkan momen atau menambah gaya pada video.

Sedangkan berdasarkan tren di Tiktok, velocity diartikan sebagai sebutan buat video joget dengan gaya transisi yang memiliki efek memperlambat kecepatan. Pengguna bisa menambahkan efek velocity pada rentang frame tertentu untuk menonjolkan gaya atau aksi dengan slow motion di video Tiktok.

Efek Fomo Tren

Menurut Ardiansyah M. Akbar N. (2025). Bahwa seorang yang cenderung ikut-ikutan tren karena fomo untuk eksistensi diri dalam media. Orang tersebut akan mudah sekali untuk digiring opininya dan cenderung dihasut untuk mengikuti sesuatu jika sudah dilakukan banyak orang. Hal ini dapat membuat otak manusia mulai terbiasa dengan stimulus cepat dan dangkal, sehingga menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang memerlukan konsentrasi dan refleksi lebih dalam.

Selain berdampak pada aspek kognitif, efek fomo tren terutama velocity juga merepresentasikan fenomena hiperestetika, yaitu glorifikasi bentuk visual secara berlebihan. Konten yang dibuat dengan teknik ini sering kali tidak mengutamakan pesan, nilai, atau narasi substantif, melainkan mengedepankan efek visual sebagai daya tarik utama. Dalam jangka panjang, hal ini mengarah pada erosi makna dalam produksi konten digital.

Kreator digital pun kerap merasa terdorong untuk mengikuti format yang sama demi mencapai engagement yang optimal sebuah bentuk konformitas algoritmik yang mengancam keragaman ekspresi kreatif. Tanpa disadari, Tiktok sebagai ruang kreatif mulai terjebak dalam sirkulasi konten homogen yang secara visual spektakuler namun secara naratif miskin.

Secara sosiokultural, tren velocity mencerminkan pergeseran preferensi estetika ke arah visual over substance. Kreator digital terdorong untuk mengutamakan bentuk daripada makna demi mempertahankan engagement algoritmik. Dalam konteks ini, terjadi apa yang disebut sebagai hiperestesia yakni glorifikasi bentuk visual yang ekstrem sebagai ganti dari narasi, refleksi, atau nilai substantif dalam konten. Hal ini berpotensi memarjinalkan konten edukatif, naratif, atau kontemplatif yang memerlukan ruang temporal dan atensi yang lebih luas.

Sedangkan dari perspektif ekologi media, tren ini mempercepat siklus produksi dan konsumsi konten digital, menciptakan semacam “ekonomi perhatian” yang eksploitatif. Kecepatan menjadi komoditas utama, yang pada akhirnya memicu content fatigue, penurunan kualitas, dan homogenisasi ekspresi kreatif. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengikis keragaman budaya digital dan menguatkan dominasi format-format visual yang seragam dan transaksional.

Tangan Metal, Lidah Menjadi Liar

Dalam ranah budaya populer, simbol tangan metal sejatinya memiliki akar dalam subkultur musik metal dan rock sebagai bentuk ekspresi pemberontakan, identitas, dan perlawanan terhadap arus utama. Namun dalam konteks Tiktok, simbol ini mengalami desakralisasi makna dan direduksi menjadi gestur kosong yang ditiru secara masif tanpa pemahaman kontekstual.

Menjulurkan lidah secara eksplisit dalam video pendek, apalagi bila dilakukan secara berlebihan atau dikombinasikan dengan ekspresi agresif dapat dikategorikan sebagai bagian dari budaya shock value, yaitu kecenderungan untuk menarik perhatian dengan cara yang ekstrem, provokatif, atau bahkan menjurus ke seksualisasi terselubung.

Tren ini juga mencerminkan pergeseran standar ekspresi dalam ruang publik digital. Di satu sisi, kebebasan berekspresi adalah pilar utama dalam ruang kreatif. Namun di sisi lain, ketika ekspresi yang dipromosikan justru mendorong gaya yang vulgar, agresif, atau tidak sesuai dengan norma kesopanan umum maka terjadi normalisasi perilaku ekshibisionistik yang potensial memengaruhi penonton muda.

Sebagai platform dengan mayoritas pengguna dari kalangan remaja dan usia remaja, Tiktok memiliki tanggung jawab moral terhadap apa yang dianggap sebagai “tren.” Tanpa filter nilai, tren seperti ini dapat menciptakan ambiguitas etika, di mana batas antara ekspresi, provokasi, dan eksploitasi menjadi kabur.

Bukan berarti semua bentuk ekspresi di media sosial harus dibatasi. Namun, dalam menghadapi tren-tren viral seperti ini, perlu ada literasi budaya digital yang lebih kuat baik dari pengguna, kreator, maupun platform. Kebebasan berekspresi bukan berarti nihil tanggung jawab. Dan kreativitas bukan sekadar soal “ikut ramai,” tetapi tentang menciptakan makna baru yang memperkaya ruang digital kita.

Daripada terus mendorong ekspresi yang kosong makna dan cenderung banal, lebih baik kita mengarahkan tren ke arah yang lebih reflektif, inklusif, dan bermartabat. Media sosial seharusnya menjadi ruang evolusi budaya, bukan regresi ekspresi. Jadi, tren velocity dan ekspresi digital serupa di Tiktok perlu dikritisi dan diarahkan agar tidak merusak struktur serta kultur sosial, budaya, dan nilai moral masyarakat. Wallahu A’lam.

*) Penulis adalah mahasiswa UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

 

 

Editor : Dwi Siswanto
#eksistensi #tiktok #presiden indonesia #Velocity