PAGI ini, sambil menyeruput kopi susu di beranda rumah, saya teringat obrolan dengan seorang petani di sebuah desa di Jember. Sebut saja namanya Pak Slamet. Wajahnya penuh garis-garis kerja keras, tapi matanya masih menyimpan semangat. Ia bercerita tentang masa kecilnya, saat koperasi desa jadi penyelamat hidup keluarganya.
“Dulu, kalau butuh modal, ke koperasi. Kalau panen jelek, koperasi yang bantu. Sekarang? Koperasi tinggal nama,” katanya sambil menghela napas.
Cerita Pak Slamet tadi seperti cermin. Koperasi, yang dulu disebut soko guru perekonomian Indonesia, kini banyak yang merana. Padahal, kalau kita mau jujur, koperasi itu bukan sekadar organisasi. Koperasi adalah semangat gotong-royong yang dibungkus dalam bentuk usaha bersama. Oleh karena itu, koperasi desa adalah jiwa ekonomi Indonesia yang harus kita hidupkan kembali.
Pada masa Orde Baru, Koperasi Unit Desa (KUD) adalah tulang punggung petani. Mereka bisa pinjam modal dengan bunga ringan, beli pupuk tanpa takut ditipu tengkulak, dan jual hasil panen dengan harga yang adil. Koperasi jadi tempat petani bersandar, bukan cuma soal uang, melainkan juga harapan.
Namun, entah kenapa, setelah era reformasi, banyak koperasi yang layu. Ada yang dikorupsi pengurusnya sendiri, ada yang kalah bersaing dengan bank dan fintech, dan ada pula yang mati karena generasi muda di desa lebih suka main gadget ketimbang urusan gotong-royong.
Padahal, kalau kita lihat di dunia, koperasi masih jadi andalan di banyak negara. Di Spanyol, koperasi Mondragon bisa jadi raksasa bisnis tanpa meninggalkan nilai kebersamaan. Di India, koperasi susu Amul mengubah nasib jutaan peternak. Di Indonesia? Kita punya sejarah koperasi yang tak kalah heroik, sebenarnya.
Bung Hatta, Bapak Koperasi Indonesia, pernah bilang bahwa koperasi adalah cara rakyat kecil melawan ketimpangan ekonomi. Ia tak ingin petani dan pedagang kecil terus-terusan dikuasai kapitalis besar. Namun, sayang, semangat itu kini seperti api yang tinggal bara.
Mengapa koperasi desa harus bangkit lagi? Pertama, karena desa adalah jantung Indonesia. Lebih dari separuh penduduk kita tinggal di desa, dan ekonomi desa masih bergantung pada pertanian, kerajinan, dan usaha kecil. Kalau koperasi desa kuat, petani tak perlu lagi terjerat rentenir. Emak-emak perajin bisa dapat modal untuk beli bahan baku.
Para pemuda gen Z di desa bisa dilatih untuk mengelola usaha bersama, dari mulai ternak lele sampai bikin produk lokal yang bisa dijual online. Koperasi adalah solusi yang nyata, bukan cuma jargon.
Kedua, koperasi bisa jadi penutup celah ketimpangan. Sekarang, ekonomi kita didominasi kota-kota besar. Jakarta, Surabaya, Bandung, semua berebut kue pertumbuhan. Desa? Banyak yang cuma kebagian remah-remahnya. Koperasi desa yang sehat bisa bikin ekonomi berputar di tingkat lokal. Uang tidak lagi lari ke kota atau ke kantong tengkulak.
Hasil panen, misalnya, bisa diolah jadi produk bernilai tinggi lewat koperasi, seperti kopi kemasan atau camilan suwar-suwir yang berbahan singkong. Ini bukan mimpi, ini cuma soal kemauan.
Namun, menghidupkan koperasi desa memang bukan perkara gampang. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Pertama, soal kepercayaan. Banyak koperasi yang dulu bikin orang kapok karena pengurusnya main curang. Makanya, koperasi yang baru nanti harus transparan, dikelola orang-orang jujur, dan melibatkan anak muda yang melek teknologi.
Kedua, soal modal. Pemerintah perlu membantu dengan suntikan dana awal atau pelatihan, tapi jangan sampai koperasi jadi alat politik. Ketiga, soal pasar. Koperasi harus pandai mencari pembeli, baik lewat pasar lokal maupun platform digital. Kalau perlu, buah alpukat, durian, atau kelapa kopyor, misalnya, dari desa bisa dijual sampai ke supermarket di kota atau bahkan diekspor.
Saya teringat lagi wajah Pak Slamet. Ia bilang, “Kalau koperasi hidup lagi, saya yakin desa kami tak cuma bertahan, tapi bisa maju.” Saya percaya kata-katanya. Koperasi adalah jalan untuk bikin desa tak cuma jadi penonton kemajuan, tapi pelaku utama. Mari kita nyalakan lagi bara semangat gotong-royong itu. Karena, kalau bukan kita, siapa lagi? (*)
*) Penulis adalah Blogger asal Jember.
Editor : Dwi Siswanto