BECAK, kendaraan roda tiga yang digerakkan oleh tenaga manusia, bukan sekadar alat transportasi. Di Jember, ia adalah saksi bisu perjalanan waktu.
Becak adalah simbol tradisi yang masih bertahan di tengah derasnya arus modernisasi dan teknologi. Dikenal sebagai Kota Karnaval, Jember memiliki kekayaan budaya. Termasuk becak yang juga menjadi bagian identitas lokal unik.
Sejarah becak di Indonesia berakar dari pendudukan Jepang pada abad ke-19, yang kemudian mengalami modifikasi dan adaptasi di berbagai daerah, termasuk Jember.
Di sini, becak kayuh masih eksis, terutama di kawasan keramaian kota, seperti di sekitar stasiun dan pusat-pusat aktivitas masyarakat.
Meski keberadaannya mulai tersaingi oleh kendaraan bermotor dan ojek online, becak tetap punya tempat tersendiri di hati warga dan wisatawan.
Menariknya, Jember memiliki inovasi berupa becak wisata. Selain mengantar penumpang, becak tersebut juga dilengkapi atribut khas Jember seperti gambar objek wisata unggulan, batik khas, dan daun tembakau, simbol kekayaan budaya daerah.
Kehadiran becak wisata ini menjadi bagian dari strategi mempromosikan pariwisata lokal, terutama saat event besar seperti Jember Fashion Carnaval (JFC). Sayangnya, peran becak wisata ini belum optimal karena masih sebatas moda pengantar tanpa adanya aktivitas wisata yang lebih interaktif dan edukatif.
Di sisi lain, keberadaan tukang becak menghadapi tantangan berat. Persaingan dengan ojek online yang menawarkan kecepatan dan fleksibilitas membuat pengemudi becak harus berjuang keras untuk mempertahankan mata pencarian mereka.
Di Jember, terutama di sekitar stasiun kereta, tukang becak masih menjadi pilihan transportasi lanjutan bagi sebagian penumpang, meski jumlahnya terus berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa becak masih punya fungsi sosial ekonomi penting. Terutama bagi komunitas yang belum tersentuh teknologi modern.
Selain itu, becak juga menjadi bagian dari karnaval dan festival budaya di Jember. Misalnya, karnaval becak hias yang melibatkan berbagai kecamatan, seperti Kecamatan Silo, yang turut memeriahkan acara dengan tema-tema kreatif. Kegiatan ini memperlihatkan kreativitas masyarakat, juga mengangkat becak sebagai ikon budaya yang hidup dan dinamis.
Namun, kita juga perlu melihat dari sisi tata kota dan perkembangan infrastruktur. Perubahan tata ruang dan kebutuhan mobilitas modern membuat keberadaan becak di jalanan kota menjadi semakin terbatas.
Pemerintah daerah pernah melakukan modifikasi becak untuk mempercantik tampilan dan meningkatkan daya tarik wisata. Tapi, tanpa dukungan kebijakan yang kuat, keberlangsungan becak tetap rentan.
Selain itu, aspek keselamatan dan kenyamanan pengguna juga perlu diperhatikan agar becak bisa bersaing dengan moda transportasi lain.
Becak bukan sekadar alat transportasi, melainkan bagian dari warisan budaya yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan kearifan lokal. Pengemudi becak adalah sosok pekerja keras yang mengandalkan tenaga dan ketulusan hati untuk menghidupi keluarga. Kehadiran mereka mengingatkan kita pada nilai-nilai solidaritas dan kebersamaan yang mulai terkikis oleh modernisasi.
Maka dari itu, menjaga keberadaan becak di Jember bukan hanya soal mempertahankan tradisi. Tetapi, juga soal menjaga keberagaman sosial dan ekonomi masyarakat.
Pemerintah dan masyarakat perlu berkolaborasi mengembangkan konsep becak wisata yang lebih inovatif dan berkelanjutan. Misalnya, dengan mengintegrasikan narasi sejarah, budaya, dan destinasi wisata dalam rute becak. Hal ini akan memberikan nilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi tukang becak.
Di era di mana teknologi dan kendaraan bermotor mendominasi, becak hadir sebagai pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus tradisi.
Justru, tradisi yang dikelola dengan baik bisa menjadi kekuatan untuk membangun identitas dan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Sebagai warga Jember, sudah saatnya kita memberi apresiasi lebih pada becak dan pengemudinya.
Mari kita dukung keberadaan becak sebagai bagian dari wajah kota yang ramah, humanis, dan penuh warna. Sebab, di balik kayuhan pedal dan suara gemerincing rantai itu, tersimpan cerita perjuangan dan harapan yang tak lekang oleh waktu. (*)
*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Jember, FKIP, Pendidikan Sejarah.
Editor : Sidkin