Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Jaga Marwah Haji, Hentikan Viral yang Tak Mendidik, Opini oleh Abdul Wasik

Sidkin • Kamis, 22 Mei 2025 | 16:00 WIB
Opini oleh Abdul Wasik, Pengurus Rabithah Ma
Opini oleh Abdul Wasik, Pengurus Rabithah Ma

MUSIM haji bukan sekadar agenda tahunan keagamaan. Ia adalah puncak dari perjalanan spiritual seorang muslim, yang menguras seluruh daya—lahir dan batin—untuk menunaikan rukun Islam kelima. Jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia datang ke Tanah Suci membawa harapan, air mata, dan cinta kepada Sang Khalik.

Di tengah gema takbir dan kesakralan ibadah, jemaah haji Indonesia selalu menjadi sorotan. Selain karena jumlahnya yang besar, mereka juga datang dari latar budaya dan sosial yang sangat beragam.

Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, marwah haji sedikit banyak ternodai oleh fenomena viral yang tidak mendidik. Setiap musim haji, selalu saja muncul video, potret, atau cuplikan cerita yang mengundang keprihatinan. Ada jemaah yang kehilangan sandal, tersesat, terlihat bingung, atau bahkan cerita-cerita irasional yang jauh dari akal sehat seperti jemaah yang konon katanya berubah menjadi ular.

Baru-baru ini, beredar kabar bahwa sekelompok jemaah asal Lombok, NTB, mengaku ingin pulang sebelum waktunya karena merasa tidak kerasan. Apakah kisah-kisah seperti ini pantas dijadikan konsumsi publik secara luas?

Publik perlu kita edukasi secara serius bahwa tidak semua hal layak dan patut untuk diviralkan. Tidak semua cerita harus dibuka ke ruang digital yang bebas tanpa kontrol. Terlebih ketika informasi tersebut masih simpang siur, bersumber dari video pendek tanpa konteks, atau bahkan berasal dari suara latar yang tak dapat diverifikasi.

Sebagai umat Islam, kita dituntut menjaga kehormatan, apalagi kepada sesama saudara yang sedang menunaikan ibadah mulia di rumah Allah. Apakah pantas seorang tamu Allah diperolok hanya karena kehilangan arah atau menunjukkan ekspresi bingung di depan kamera?

Kita harus memahami bahwa ibadah haji bukan hanya tentang ritual, tapi juga tentang ujian jiwa. Tidak sedikit jemaah yang harus menghadapi panasnya cuaca ekstrem, medan yang berat, tekanan psikologis karena jauh dari keluarga, hingga ketegangan batin dalam menyempurnakan manasik.

Dalam kondisi seperti itu, sangat wajar jika muncul letupan emosi, kegelisahan, atau kebingungan. Tugas kita bukan mempermalukan mereka, tetapi mendoakan dan menjaga marwah ibadah mereka. Sebab sejatinya, mereka tengah berjuang menunaikan kewajiban sakral yang bisa jadi belum tentu kita sendiri mampu melaksanakannya.

 

Larangan Membuka Aib dalam Perspektif Syariah

Dalam perspektif agama, tindakan menyebarkan aib atau kekurangan orang lain adalah perbuatan tercela yang diancam langsung oleh Allah. Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Barang siapa yang membuka aib seorang Muslim, maka Allah akan membuka aibnya, meskipun ia berada di dalam rumahnya.” (HR. Ibn Majah).

Ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi peringatan keras bahwa membuka aib saudara seiman adalah bentuk pengkhianatan terhadap prinsip ukhuwah islamiyah.

Lebih tegas lagi, Allah berfirman dalam Alquran surat An-Nur ayat 19: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.”

Ayat ini menunjukkan betapa seriusnya dosa menyebar keburukan yang merusak kehormatan orang lain, apalagi di tengah masyarakat beriman. Maka ketika kita memviralkan kekurangan jamaah haji, kita sedang membiarkan nilai-nilai kesucian agama dirusak oleh syahwat konten dan nafsu jempol.

Fenomena ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Diperlukan kesadaran kolektif antara pemerintah, media, petugas haji, dan masyarakat sipil untuk menahan diri. Pemerintah—dalam hal ini Kementerian Agama RI—perlu memberikan pembinaan komunikasi kepada petugas haji agar memiliki standar etika dalam dokumentasi dan penyebaran informasi.

Media massa harus lebih selektif dalam memberitakan peristiwa-peristiwa haji. Berita-berita yang bernada sensasional dan membuka kelemahan jemaah hanya akan memperburuk citra haji Indonesia. Lebih dari itu, masyarakat juga harus dididik untuk bijak bersosial media, memilah mana konten yang bermanfaat dan mana yang bisa merusak.

Kita juga mengajak para dai, ustaz dan tokoh masyarakat untuk menyampaikan pentingnya hifzh al-‘ird (menjaga kehormatan) dalam khotbah-khotbah dan pengajian. Ini bagian dari maqāṣid al-syarī‘ah yang sering kita abaikan.

Saat kita begitu antusias menjaga nyawa (hifzh al-nafs) dan harta (hifzh al-māl), seharusnya kita juga konsisten menjaga harga diri dan martabat orang lain. Apalagi yang tengah menunaikan ibadah yang sangat agung.

Hormatilah tamu Allah, karena bisa jadi doa mereka lebih dekat dengan langit dibanding cibiran dan olok-olok kita yang jauh dari Tanah Suci.

Pada akhirnya, musim haji seharusnya menjadi momen perbaikan spiritual dan sosial, bukan ladang mempermalukan sesama.

Mari kita luruskan niat, benahi sikap, dan jaga lisan serta jari-jari kita dari hal yang merendahkan nilai ibadah. Jadikan media sosial sebagai sarana dakwah, bukan fitnah. Mari bersama kita jaga marwah haji Indonesia dengan menebarkan inspirasi, bukan sensasi. (*)

 

*) Penulis adalah Pengurus Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama Jawa Timur Dan Dosen IAI At Taqwa Bondowoso

Editor : Sidkin
#opini #marwah #haji #jemaah haji indonesia #jemaah haji #viral