BEBERAPA bulan ini, kedai kopi atau kafe menjamur dan nyaris di setiap sudut Kota Jember. Itu terlihat dengan banyaknya penikmat kopi yang didominasi oleh kalangan pemuda sekaligus pelajar di Jember yang antre dan beramai-ramai berkumpul di setiap kedai kopi.
Hal ini menjadi peluang bagaimana bisa memanfaatkan “ruang ketiga”—bukan rumah, bukan sekolah atau kantor—menjadi tempat untuk membangun literasi kabupaten ini.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Jember mendapatkan akumulasi peningkatan nilai yang signifikan dari 37,6700 per Februari 2024 menjadi 55,4500 per Februari 2025.
Pada titik ini penting untuk kita perhatikan potensi besar kabupaten ini untuk bisa meningkatkan kembali pembangunan literasi masyarakatnya. Sebab, masih kalah dari kabupaten tetangga, seperti Banyuwangi yang memperoleh angka 70,7000 dan menyentuh angka 75,7000 dalam skor indeks pembangunan literasi masyarakatnya.
Padahal, Jember memiliki banyak fasilitas yang lebih unggul dari dua kabupaten tentangganya, terutama dalam sektor perguruan tinggi. Hal ini menjadi ironis dan perlu menjadi perhatian kita bersama selaku warga Jember.
Bagi saya, peluang memanfaatkan kedai kopi dalam meningkatkan literasi masyarakat Jember bisa menjadi alternatif dalam membangun kabupaten ini lebih baik khususnya di bidang pembangunan literasi.
Kedai Kopi sebagai Ruang Pembangunan Literasi
Pada prinsipnya kedai kopi memiliki potensi besar dalam membangkitkan literasi. Bukan sekadar tempat menyeduh biji kopi robusta ataupun arabika. Tetapi, ia bisa menjadi katalisator pembangunan literasi, terutama di Jember dengan budaya akademik yang tinggi, sebab banyaknya perguruan tinggi yang berdiri.
Tetapi yang terlihat, di kedai-kedai kopi Jember yang padat hanya diisi oleh anak muda (umum: masyarakat) untuk melakukan kegiatan foto selfie, membuat konten, atau berselancar di sosial media masing-masing.
Sehingga tidak ada percakapan yang berdampak terhadap tumbuh kembangnya literasi kota ini. Dari fenomena yang terlihat belum ada yang mencoba atau menyentuhnya menjadi ruang strategis dalam menumbuhkan budaya baca dan tulis.
Baca Juga: Ikut Panen, Wabup Djoko Dorong Kopi Sidomulyo Kembali Jadi Komoditas Ekspor
Coba banyangkan bila dalam satu kedai kopi kecil di salah satu sudut Jember, pada suatu sore ada sekumpulan anak muda atau mahasiswa yang berdiskusi tentang buku—katakanlah sebagai contoh buku dari Pramoedya Ananta Toer—sambil menyeruput kopi tubruk.
Atau malam minggu di pinggiran sudut toko-toko yang sudah tutup di mana ada penjual kopi ada suatu komunitas yang membedah buku puisi serta ditemani dengan musik dan kopi.
Hal tersebut sangat jarang ditemukan atau bahkan nyaris tidak ada di kabupaten ini. Yang terjadi justru terjadi aktivitas main game bersama atau sekadar aktif di dunia media sosialnya masing-masing.
Bukan hanya angan-angan belaka. Di kota-kota dengan indeks literasi yang tinggi, semisal di Yogyakarta, kegiatan-kegiatan tersebut banyak ditemukan. Bahkan dalam sejarah Revolusi Prancis di mulai dari kedai kopi kuno yang bernama Café de Foy.
Maka perubahan yang bisa kita lakukan dalam membangun literasi di Jember ini, tentu yang pertama, dari pemerintah bisa mengaitkan ruang-ruang sosial seperti kedai kopi dalam agenda literasi lokal.
Dengan potensi ribuan mahasiswa dan pelajar, serta geliat seni-budaya yang ada di Jember bisa menjadi bekal bagaimana kegiatan-kegiatan tersebut bisa hadir dalam percakapan di kedai-kedai kopi yang ada di Jember.
Kedua, selayaknya pemilik kedai kopi sadar akan pentingnya literasi. Perlu penyediaan sedikit ruang di dalam kegiatan ekonominya untuk menyediakan rak buku bacaan atau bila ada satu malam dalam seminggu atau sebulan didedikasikan untuk kegiatan diskusi karya hingga kelas menulis. Pun bisa bekerja sama dengan komunitas literasi seperti mengadakan program ngopi sambil membaca.
Langkah kecil tersebut bisa memberi dampak perubahan. Terutama jika didukung oleh pemerintah daerah, komunitas literasi, pegiat budaya, dan pelaku UMKM kedai kopi yang ada di Jember.
Tentu tidak semua kedai kopi harus berubah menjadi “perpustakaan”. Tetapi, sejatinya kedai kopi memiliki peluang menjadi “ruang ketiga” dalam menyisipkan elemen literasi, sekecil apa pun.
Terakhir, mewujudkan Jember sebagai daerah dengan indeks literasi yang tinggi bukanlah pekerjaan semalam. Tapi, dengan melihat kota-kota dengan indeks literasi yang tinggi seperti Yogyakarta dengan menjadikan kedai kopi sebagai simpul kebudayaan, jalan itu terasa mungkin.
Jika Jember mau, kedai-kedai kopi yang tumbuh di setiap sudutnya, hal ini akan bisa menjadi awal kebangkitan literasi yang sesungguhnya. (*)
*) Penulis adalah pengajar filsafat dan Sekretaris LP2M Universitas Islam KH. Achmad Muzakki Syah (UNIKHAMS) Jember.
Editor : Sidkin