MEMANG, masih minim literasi saya tentang ruh agenda Sekolah Unggul ala Radar Jember di 2025 ini seutuhnya. Setelah saya utak-atik logika dan kebermanfaatan–dan tentunya–dengan sedikit informasi yang penulis dapat (dari sumber-sumber yang tepercaya tentunya) ada greget keinginan penulis untuk sedikit mengapresiasi gerakan media tertua yang ada di Jember ini.
Ya, bakal ada beberapa sekolah yang menurut Radar Jember akan diberi fasilitas publikasi di media yang dimilikinya. Plus beberapa atensi lain yang mengikuti, sebagai bentuk kepedulian media mainstream ini melihat perkembangan sekolah yang ada di Jember. Mulai dari setingkat PAUD sampai menengah atas dan kejuruan.
Dari audiensi saya dengan tim seleksi Sekolah Unggul Radar Jember 2025, banyak yang penulis tangkap atas kecerdasan koran legendaris ini untuk berperan aktif memajukan dunia pendidikan, utamanya di Jember.
Tulisan ini mencoba untuk merangkaikan tangkapan penulis dari puzzle-puzzle yang mungkin belum sepenuhnya familier tertata di benak publik.
Yang harus diapresiasi dulu atas ide Sekolah Unggul ala Radar Jember ini adalah keinginan media ini memberikan apresiasi di dunia pendidikan di Jember. Bersyukur, sebagai pilar demokrasi keempat dalam hidup berbangsa, Radar Jember memulai lebih dalam lagi untuk berniat mengambil peran sebagai fasilitator dan inovator atas gerakan pendidikan di Jember.
Penting digarisbawahi, bahwa dengan topangan media sebagai pilar demokrasi memberikan energi yang kuat bagi insan pendidikan untuk memiliki tambahan wadah dalam mengekspresikan segenap kreativitas, karya, dan inovasi yang dimiliki dalam mengaktualisasikan perannya sebagai pelaku pendidikan.
Penulis melihat energi yang terbarukan ini tidaklah sederhana. Bahkan teryakini jika akan menjadi memberikan efek domino yang cukup signifikan bagi perkembangan pendidikan, di Jember khususnya.
Kita harus memaklumi jika permasalahan dunia pendidikan amatlah kompleks. Tidak perlu penulis sebutkan satu per satu betapa kompleksnya sebab-musabab apa permasalahan itu.
Cukuplah penulis sampaikan bahwa menarik gerbang pendidikan yang dimulai dari hulunya (muatan kurikulum, kompetensi GTK, keidealan 8 standar pendidikan), prosesnya, respons orang tua, sampai pada hilirnya berupa input yang ada–utamanya pada kualitas karakter–acapkali dipertanyakan dengan kritis oleh publik.
Kekritisan itu sering kali menjadi asupan gizi bagi dunia pendidikan dan tak jarang pula menjadi dilema yang berkepanjangan.
Pelaku pendidikan yang dianggap sebagai masyarakat akademik, tentu melihat kekritisan publik dalam menyoroti keberadaan perjalanan pendidikan bisa menjadi challenge bahkan otokritik yang patut saban hari harus dipetakonsepkan untuk diperbaiki.
Di titik inilah, turun tangannya media, apalagi sekaliber Radar Jember, mau tidak mau, akan memberikan sebuah warna motivasi tersendiri bagi pelaku pendidikan. Permasalahan sudah pasti terus ada.
Namun, begitu ada tambahan peran dari media untuk berempati memberikan pencerahan dan apresiasi, tentu menjadikan wilayah beban yang ditanggung pelaku pendidikan sedikit terbantukan.
Lebih dari itu, pemahaman atas proses sebuah lembaga yang di kalangan masyarakat masih lebih dominan dilihat parsial, hanya dari sisi akademik saja, setidaknya, dengan gelaran Sekolah Unggul yang digagas Radar Jember ini publik diajak untuk diberi wawasan baru jika keunggulan itu bersifat semesta.
Kesemestaan itu (dalam dunia pendidikan) ukurannya jelas, yaitu bermuara pada pelayanan. Lebih mengerucut lagi, publik harus tercerahkan dan tahu jika melayani siswa harus dengan elegan, berhati, ramah, dan kontekstual.
Elegan, berhati, dan konstekstual inilah yang harus dipahamkan kepada masyarakat merupakan keunggulan sebuah lembaga pendidikan dengan harapan hasilnya adalah seperti dalam UU Sisdiknas, yaitu menciptakan manusia Indonesia seutuhnya.
Maka, tak heran jika dari audiensi penulis dengan narahubung Sekolah Unggul ini pihak panitia membidik seluruh sekolah dengan lebih menekankan penjaringan dalam melihat keunikan masing-masing sekolah yang terfokus pada konsep, gaya, dan inovasi yang terstruktur di sekolah tersebut dalam melayani siswa.
Dari fokus itu bisa diurai dengan jelas adanya keunggulan sekolah dalam melayani siswa dan yang terbukti telah menghasil sebuah inovasi pelayanan, sehingga memberikan nilai lebih dalam diri siswa.
Di media ini sudah sering penulis uraikan betapa penting sentuhan sekolah yang harus integral dan komprehensif ketika berbicara tentang pelayanan ke siswa.
Seni mengintegralkan dan mengonprehensifkan masing-masing sekolah dengan segala kearifan lokal dan sumber daya yang dimiliki inilah yang menjadikan pelayanan ke siswa kian terlihat unik dan menantang.
Melihat gemulainya lembaga pendidikan menyikapi hal itulah yang ingin dibidik oleh Radar Jember dengan Sekolah Unggul-nya.
Ketika penulis bertanya, "Muara dari event ini apa?" Memang jawabnya menurut penulis masih kurang pasti dan meyakinkan. Ketika penulis mencoba memberi sedikit masukan bahwa event ini jangan hanya berjalan di tempat dan terkesan euforia sesaat, maka perlu ditindaklanjuti sehingga menghasilkan sebuah histori publik yang kemudian terbukukan.
Pun bisa menjadi kajian tindak lanjut yang tentu akan bermakna atas hasil dari gebrakan ini yang nantinya menjadi salah satu acuan program pemerintah daerah ke depan.
Meski belum ada jawaban atas saran penulis ini, setidaknya penulis beroptimistis bahwa ada media di Jember yang telah bergerak untuk berperan jauh di dunia pendidikan Jember.
Lantas, bagaimana dengan pelaku pendidikan di Jember? Bagaimana dengan peran pengambil kebijakan di Jember?
Untuk mengurai dua pertanyaan tersebut, penulis beranggapan tidaklah mudah menguraikan. Di samping masih perlu melihat bentuk konkret dari agenda Sekolah Unggul ala Radar Jember ini, juga butuh banyak uraian, banyak literasi, dan banyak kajian.
Cukuplah di tulisan ini penulis mengurai aktivitas penyelenggaraan Sekolah Unggul ini dengan segala asa di dalamnya. Lalu, memberikan gambar telah terjadi dinamisasi yang apik yang diperlihatkan media, khususnya Radar Jember, dalam menyambut dinamika pendidikan di Jember.
Sedikit yang mungkin bisa penulis pesankan, sangatlah mubazir jika momen penjaringan dan publikasi Sekolah Unggul ini dengan segala kehebatan dan keunikan inovasi yang terbaca dari masing-masing sekolah, tetapi kemudian berhenti begitu saja.
Pelaku pendidikan harus responsif atas gagasan ini. Menyambut dengan ciri khas sebagai cendekia bahwa geliat Radar Jember ini bisa menjadi asupan gizi bagi sebuah inspirasi, refleksi, dan komparasi atas kiprah yang selama ini dilakukan.
Penting juga bagi regulator pun selayaknya menyambut dengan baik, menjadikan informasi yang ada sebagai bagian dari kekayaan aset inovasi daerah. Lalu, ketiganya beriringan meramu lebih lanjut blueprint ataupun mind map wajah pendidikan Jember yang lebih bernas dan kekinian.
Semoga agenda penjaringan inovasi di lembaga-lembaga pendidikan di Jember sehingga memunculkan figur sekolah yang unggul ala Radar Jember ini menjadi pemicu embrio lanjutan atas hentakan agenda-agenda lain yang juga brilian di kemudian hari.
Tetapi tetap, nilai semuanya harus berfokus pada usaha melayani siswa dengan baik sesuai dengan kondisi yang ada.
Penulis sangat optimistis kelak niscaya akan terjadi lompatan-lompatan prestasi, baik dari sisi akademik, sisi karakter, lebih-lebih sisi respons positif dari orang tua dan masyarakat atas keberadaan pendidikan bagi putra-putrinya di Kabupaten Jember.
Hal ini tentu selaras seperti yang disampaikan Gus Bupati dalam acara Bunga Desaku di wilayah Tanggul, bahwa kemajuan bisa diraih dengan menguatkan sumber daya manusianya lewat dunia pendidikan.
Sehingga akan tercipta orkestra yang indah di seluruh stakeholder yang ada untuk mewujudkan visi misi Bupati Jember Gus Fawait, agar Jember benar-benar baru dan menjadi maju. Insyaallah, wal aamiinin. (*)
*) Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Kepala SMPN 3 Bangsalsari
Editor : Sidkin