Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Persepsi Gen Z Terhadap Perdebatan 1 Juni 1945, Opini oleh Muchamad Taufiq 

Sidkin • Senin, 2 Juni 2025 | 16:00 WIB
Muchamad Taufiq, Akademisi di ITB Widya Gama Lumajang dan Sekretaris DHC BPK’45 Lumajang.
Muchamad Taufiq, Akademisi di ITB Widya Gama Lumajang dan Sekretaris DHC BPK’45 Lumajang.

 

“Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa, namanya ialah Panca Sila. Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.” Itulah potongan kalimat Pidato Soekarno dalam Sidang Pertama Rapat besar tanggal 1 Juni 1945 di Gedung Tyuuoo Sang-In (Departemen Luar Negeri pada tahun 1995).

Sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia dengan acara Pembicaraan tentang Dasar Negera Indonesia (lanjutan) yang dipimpin oleh Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat. Perdebatan indah dan luar biasa ini dilakukan oleh para tokoh pendiri bangsa tepatnya 80 tahun yang lalu.

Wacana para pendiri negara yang merupakan sumber tafsiran historis yang paling otentik masih dapat kita baca pada buku Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 28 Mei 1945 sampai 22 Agustus 1945 merupakan edisi ketiga yang diterbitkan oleh Sekretariat Negara Republik Indonesia Tahun 1995.

Meminjam istilah Prof Dr Taufik Abdullah yang memberikan Pengantar dalam buku risalah itu, “sejarah adalah perdebatan.”

Selanjutnya dalam alinea lain ditulis: Tetapi tambahan contoh tidak akan mengubah argument dasar, bahwa perdebatan adalah hal yang biasa ketika kita berhadapan dengan apa yang disebut ”sejarah” itu.  Malah bisalah dikatakan bahwa perdebatan kesejarahan yang sehat bukan saja membantu perkembangan ilmu sejarah dan dapat pula memperluas pengetahuan masyarakat tentang sejarah, tetapi juga, dan lebih penting, memperdalam kesadaran sejarah.

Membahas frasa kata “memperdalam kesadaran kesejarahan” menjadi sesuatu yang sangat menarik sekaligus miris ketika itu kita bahas sekarang. Gen Z (kelahiran 1997-2012) dan dalam bahasa sehari-hari dikenal sebagai Zoomers, sebagian besar anggota Gen Z adalah anak-anak dari generasi baby boomers yang lebih muda, generasi X dan generasi milenial.

Sebagai generasi sosial pertama yang tumbuh dengan akses ke internet dan teknologi digital portabel sejak usia muda, Gen Z, meskipun belum melek digital, telah dijuluki "digital native" atau orang-orang yang tumbuh bersamaan dengan reformasi digital.

Di seluruh dunia, Gen Z menghabiskan lebih banyak waktu pada perangkat elektronik dan lebih sedikit waktu untuk membaca buku dibandingkan sebelumnya yang berdampak pada rentang perhatian, kosakata, prestasi akademik, dan kontribusi ekonomi masa depan.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh McKinsey, Gen Z memiliki ciri khas melek teknologi, kreatif, menerima perbedaan, peduli terhadap sesama, dan senang berekspresi. Sementara kekurangan Gen Z antara lain; cenderung fear of missing out (FOMO), kecemasan dan tingkat stres yang tinggi, mudah mengeluh, hingga self proclaimed.

Gen Z menjadikan hal ini sebagai hambatan untuk maju. Gen Z juga disebut sebagai generasi strawberry karena terkesan manja dan mudah tertekan. Pertanyaannya sekarang, apakah Gen Z memiliki ketertarikan dalam problematika pendidikan kebangsaan, demokrasi, hukum, multikultural dan kewarganegaraan?

Bagaimanakah cara Gen Z mendukung terwujudnya warga negara yang sadar akan hak dan kewajiban, serta cerdas, terampil dan berkarakter sehingga dapat diandalkan untuk membangun bangsa dan negara berdasarkan Pancasila dan UUD Negara RI tahun 1945?

Kembali pada semangat bahwa “sejarah adalah perdebatan” maka yang harus terjadi saat ini adalah perdebatan-perdebatan yang positif dan solutif. Perdebatan untuk menemukan cara terbaik mewujudkan keadilan sosial bagi masyarakat.

Perdebatan yang memberikan konklusi sehingga dapat diterapkan untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik. Bukan perdebatan yang tak berujung pangkal karena sejak awal perdebatan itu tidak memiliki tujuan dan tidak berdasar good faith.

Perdebatan itu sendiri dapat berwujud pergulatan batin Gen Z dalam mengaktualisasikan dirinya. Di masa yang seharusnya sudah mulai on the track dalam menentukan jalan hidup, justru Gen Z terjebak dalam berbagai macam pergaulan dan relasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Terlibat kekerasan, bullying, dan yang paling berbahaya terlibat penyalahgunaan narkoba bahkan menjadi bagian jaringan narkoba.

Pengungkapan BNN terhadap adanya sindikat narkoba dengan menggagalkan penyelundupan narkoba sebanyak dua ton jenis sabu baru-baru ini merupakan sinyal yang jelas bahwa Gen Z dan masyarakat Indonesia sedang menjadi target pelemahan karakter dan life style setidaknya untuk 15 sampai 20 tahun mendatang,

Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 menetapkan bahwa 1 Juni sebagai Hari libur nasional untuk memperingati “lahirnya istilah Pancasila”.

Saat itu, Soekarno menyampaikan, “Saudara-saudaraku, apakah prinsip kelima? Saya telah mengemukakan empat prinsip; Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme, atau perikemanusiaan, Mufakat, atau demokrasi, Kesejahteraan Sosial.”

Selanjutnya beliau menyatakan, “bahwa prinsip kelima daripada negara kita ialah ketuhanan yang berkebudayaan”. Selanjutnya Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945 menetapkan Pembukaan UUD 1945 yang di alinea keempat memuat nilai-nilai Pancasila sebagaimana Teks Pancasila yang ada sekarang.

Berdasarkan Surat Edaran Kepala BPIP Nomor 3 Tahun 2025, tema resmi yang diusung untuk peringatan Hari Lahir Pancasila adalah "Memperkokoh Ideologi Pancasila Menuju Indonesia Raya". Bangkitlah pemuda, jayalah Indonesia. (*)

 

* Penulis adalah akademisi ITB Widya Gama Lumajang, Pengda APHTN-HAN Jatim dan Sekretaris DHD BPK’45 Lumajang

Editor : Sidkin
#perdebatan #hari lahir pancasila #Gen Z #Hari Lahir Pancasila 2025 #pancasila