Kecerdasan buatan (artificial intelligence atau akal imitasi alias AI) telah menunjukkan taringnya. Bukan hanya sekadar alat bantu teknologi, AI kini menjelma menjadi mitra berpikir yang mampu menyusun kalimat, menganalisis data, bahkan menyarankan solusi.
Algoritma yang menopangnya semakin canggih sebab data yang dimiliki AI seperti tidak berujung. Hasilnya, pengetahuan seakan hadir lebih cepat, lebih mudah, dan lebih luas. Namun di balik kemudahan itu tersimpan godaan besar bagi dunia keilmuan.
Tak bisa dinafikan bahwa hampir semua kalangan telah merasakan manfaat dari AI. Mahasiswa menggunakannya untuk merangkum literatur, dosen memanfaatkannya untuk mengembangkan bahan ajar, peneliti mengandalkannya untuk mengolah data dalam jumlah besar.
AI menjadi sahabat baru dalam dunia pendidikan dan keilmuan. Namun, justru karena keakrabannya yang semakin intens muncul tantangan baru khususnya bagi para akademisi.
Konsep Klasik
Menggunakan AI memang bukanlah hal yang salah. Dalam konteks pembaruan pengetahuan sebagaimana konsep klasik yang dipegang oleh banyak akademisi muslim yakni, “al-muhafazatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah: menjaga yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik.
Artinya, AI bisa menjadi bagian dari proses belajar asalkan tetap mengindahkan prinsip-prinsip keilmuan yang telah lama dijunjung. Namun, problem utama dalam penggunaan AI dalam konteks keilmuan bukan terletak pada teknologinya melainkan pada sanad keilmuan.
Dalam tradisi ilmu khususnya dalam khazanah keislaman, ilmu tidak sekadar kumpulan informasi. Ilmu merupakan hasil dari proses panjang pencarian, pembelajaran, dan pemahaman yang disampaikan dari guru ke murid serta dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ada etika, ada adab, ada kedalaman rasa dan nalar. Itulah yang disebut sanad. Sanad bukan hanya soal otoritas tetapi juga soal keberkahan. Ilmu yang bersanad diyakini memiliki daya guna yang lebih besar karena dibarengi dengan proses tazkiyah (penyucian diri) dan tanggung jawab moral.
Ketika seseorang belajar dari seorang guru, dia tidak hanya menyerap isi buku tapi juga sikap, semangat, dan nilai-nilai. Di sinilah titik yang sulit digantikan oleh AI.
Mesin mungkin bisa merangkum dan menyarikan buku tetapi tidak bisa memberikan keteladanan. Terima atau tidak, mesin bisa merangkai argumen tetapi tidak bisa mewariskan integritas intelektual.
Maka menjadi penting untuk menyadari bahwa meskipun AI mampu menghadirkan pengetahuan, ia tidak selalu mampu menghadirkan ilmu. Sebab, pengetahuan bisa bersifat datar sedang ilmu selalu memiliki kedalaman.
Pengetahuan bisa dikumpulkan oleh mesin, tetapi ilmu mesti dicerna oleh manusia. Di titik inilah AI menggoda. Ia membuat proses pencarian ilmu tampak lebih sederhana bahkan menyenangkan.
Namun bila tidak hati-hati, kita bisa tergelincir pada penggampangan proses ilmiah. Godaan terbesar dari AI ialah membuat manusia tergoda untuk melewati proses. Padahal, dalam dunia keilmuan proses merupakan ruh.
Inilah pentingnya kembali menimbang etika penggunaan AI. Dunia akademik memerlukan panduan yang jelas dalam pemanfaatan teknologi ini, bukan untuk membatasi tetapi untuk menjaga marwah keilmuan.
Sanad Digital
Kita juga perlu mengembangkan semacam sanad digital yakni, upaya untuk melacak dan memverifikasi asal-usul pengetahuan yang disampaikan oleh AI. Siapa sumbernya, bagaimana otoritasnya, apakah sesuai dengan konteks, dan apakah bisa dipertanggungjawabkan?
Semua pertanyaan ini menjadi penting karena AI tidak selalu menjelaskan dari mana ia mendapatkan informasinya. Sebab, tanpa kehati-hatian oleh jadi kita yang terlalu mengandalkan AI menyebarkan informasi yang tidak sahih bahkan menyesatkan. AI menggoda, karena ia menawarkan kemudahan yang luar biasa. Tapi ilmu tidak selalu bertumbuh dari kemudahan.
Ilmu justru sering lahir dari kegelisahan, kesulitan, bahkan kesunyian dalam proses belajar. Di sinilah peran manusia sebagai pencari pengetahuan harus ditegaskan kembali. Sekali lagi, AI adalah alat bukan guru. Ia adalah pembantu bukan pemegang otoritas.
Memang betul AI bisa mempercepat kerja tapi tidak bisa menggantikan perenungan. Dengan demikian, AI bukanlah ancaman bagi ilmu jika kita mampu menempatkannya secara tepat.
Seperti halnya pisau di tangan koki, AI di tangan akademisi bisa menjadi alat produktif. Tetapi jika pisau itu diberikan kepada yang belum tahu cara menggunakannya yang terjadi justru kerusakan.
Maka literasi teknologi dan literasi keilmuan harus berjalan seiring. Akademisi yang baik bukan hanya tahu cara menggunakan AI, tetapi juga tahu kapan tidak menggunakannya.
Baca Juga: Kedai Kopi: Ruang Ketiga Pembangunan Literasi di Jember, Opini oleh Akhmad Iqbal
Akhirnya, kita harus menyadari bahwa AI menggoda bukan karena ia salah, tetapi karena manusialah yang sering tergoda untuk melepas prinsip-prinsip keilmuan. Maka tugas kita bukan menolak AI, tetapi memagari keilmuan kita agar tidak tercerabut dari akarnya yakni, sanad, adab, dan proses. (*)
*) Penulis adalah Dosen Universitas Islam Jember, Mahasiswa Aktif Program Doktoral UIN KHAS Jember, dan Sekjen ISNU Cabang Jember.
Editor : Sidkin