Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Transgenik Bukan Solusi Berkelanjutan untuk Ketahanan Pangan

Dwi Siswanto • Minggu, 15 Juni 2025 | 19:32 WIB

Kawasan JLS Curahnongko Tempurejo ini jadi jujugan favorit anak-anak muda. Mulai sekadar nongkrong, memancing, sampai adu mekanik motor.
Kawasan JLS Curahnongko Tempurejo ini jadi jujugan favorit anak-anak muda. Mulai sekadar nongkrong, memancing, sampai adu mekanik motor.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai krisis pangan dunia, tanaman hasil rekayasa genetika sering dipandang sebagai solusi yang cepat dan efisien. Dengan janji hasil yang melimpah dan ketahanan terhadap hama, teknologi ini terlihat sangat menarik.

Suatu teknologi yang dapat memberi manfaat bagi kesejahteraan masyarakat, tidaklah mutlak tanpa resiko.

Tanaman transgenik bukanlah pilihan terbaik untuk menjaga ketahanan pangan karena bisa membahayakan kesehatan, merusak keanekaragaman hayati, memperburuk ketimpangan ekonomi, serta mengabaikan praktik pertanian yang lebih adil dan berkelanjutan.

Baca Juga: Hotel hingga Penginapan di Gresik Sudah Terpesan, Semua Kamar Penuh Jemaah Haul Habib Abu Bakar Assegaf 2025

 

RESIKO KESEHATAN YANG MASIH DIPERDEBATKAN 

Dampak kesehatan dari konsumsi tanaman transgenik masih menjadi bahan perdebatan.

Walaupun WHO dan FAO menyatakan bahwa GMO yang telah menjalani uji keamanan aman untuk dikonsumsi, sejumlah penelitian menunjukkan adanya risiko potensial.

Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Environmental Sciences Europe mengindikasikan bahwa beberapa jenis jagung yang dimodifikasi secara genetik dapat mengakibatkan efek toksik pada hati dan ginjal hewan coba.

Nordlee dan rekannya melaporkan bahwa kacang brazil sebagai salah satu produk GMO ditarik dari peredaran karena menyebabkan alergi pada konsumen, reaksi tersebut diduga penyebabnya karena modifikasi gen tertentu.

Karena dampak terhadap kesehatan manusia belum sepenuhnya diketahui dan tidak ada konsensus ilmiah yang jelas, pendekatan yang hati-hati tetap harus diutamakan. Lebih jauh lagi, masyarakat berhak untuk mengetahui dan memilih jenis makanan yang mereka konsumsi, termasuk hak untuk menolak GMO jika dirasa belum cukup aman.

 

ANCAMAN TERHADAP KEANEKA RAGAMAN HAYATI

Tanaman transgenik berpotensi mengancam keanekaragaman hayati yang kritis untuk ketahanan pangan. Banyak petani mulai menggunakan benih transgenik karena dianggap lebih baik, sehingga varietas lokal yang sudah beradaptasi dengan kondisi setempat mulai tidak diminati.

Di Meksiko, penyebaran jagung transgenik telah mencemari kekayaan genetik jagung lokal, meskipun negara ini merupakan asal dari jagung di seluruh dunia.

Keanekaragaman genetik merupakan bentuk perlindungan alami terhadap perubahan iklim dan hama baru. Hilangnya keanekaragaman tersebut akan melemahkan ketahanan ekosistem pertanian dalam jangka waktu lama.

Tidak hanya itu, tanaman transgenik ini akan merubah struktur dan tekstur tanah yang berdampak pada kuantitas dan kualitas produksi tanaman.

 

KETIMPANGAN SOSIAL DAN KETERGANTUNGAN EKONOMI

Tanaman transgenik memperburuk ketimpangan kekuasaan dalam sistem pangan. Benih yang dimodifikasi memiliki perlindungan paten, sehingga petani tidak diizinkan untuk menyimpan atau menanam kembali benih yang dihasilkan dari panen mereka.

Kasus Percy Schmeiser di Kanada menunjukkan bagaimana petani bisa dirugikan akibat benih transgenik yang berasal dari ladang tetangga menyebar ke lahan mereka tanpa sengaja.

Ketergantungan ini memperlemah posisi petani kecil dan memperkuat kontrol perusahaan besar atas produksi pangan global.

Jika perusahaan besar menguasai sumber benih, maka masa depan pangan dunia tidak lagi berada di tangan rakyat, tetapi di tangan segelintir korporasi.

Sementara itu, ketahanan pangan seharusnya berlandaskan pada kemandirian, keadilan, dan keberdayaan komunitas lokal.

 

Dari perspektif Islam

Dari sudut pandang Islam, penggunaan tanaman transgenik perlu dipertimbangkan dengan sangat hati-hati.

Islam menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem (mizan), sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ar-Rahman: 7-9, “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).

Supaya kamu tidak melampaui batas terhadap neraca itu.

Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” Ayat ini menegaskan bahwa setiap tindakan manusia, termasuk dalam pemanfaatan teknologi dan pengelolaan lingkungan, harus dilakukan secara adil dan tidak merusak keseimbangan alam.

Selain itu, menurut prinsip maslahah dan mafsadah dalam bioetika Islam, setiap inovasi harus membawa manfaat yang lebih besar daripada mudaratnya.

Jika tanaman transgenik menimbulkan risiko kerugian, baik bagi kesehatan, keanekaragaman hayati, maupun keadilan ekonomi, maka penggunaannya dapat dilarang. 

Dengan mempertimbangkan semua faktor tersebut, dapat disimpulkan bahwa tanaman transgenik bukanlah solusi jangka panjang untuk ketahanan pangan global.

Mereka memang memberikan hasil yang cepat, namun dengan resiko yang tinggi dan berlapis.

Ketahanan pangan yang sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan volume produksi, tetapi juga mengenai keadilan, keberlanjutan, kemandirian, dan kedaulatan pangan.

Dunia memiliki banyak teknologi, tetapi sering kali kurang memiliki keberanian untuk mengambil pilihan yang lebih adil, bijak, serta selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan, ekologis, dan spiritual.*

 

Penulis adalah mahasiswa UIN KHAS Jember, Unzila Nur fadilah (222101080043), Dewi Antika Khasanah (224101080006), dan Karomathul Muhtadiyah (224101080014)

 

 

 

 

Editor : Dwi Siswanto
#who #fao #kesehatan