DI banyak pantai di utara Jawa, saya menyaksikan sesuatu yang sering luput dari sorotan berita dan perdebatan kebijakan: nelayan kecil yang terus hidup dalam pusaran ketidakadilan struktural.
Mereka tidak berteriak, tidak menulis surat pembaca, tidak tampil di televisi. Tapi mereka melawan—dengan cara mereka sendiri.
Ada empat kata kunci yang saya pelajari selama tinggal di tengah komunitas mereka: nrimo, ngalah, ngalih, dan ngamuk.
Empat sikap ini bukan sekadar warisan budaya Jawa. Melainkan strategi bertahan hidup di tengah sistem perikanan yang timpang. Mereka bukan ekspresi pasrah, melainkan bentuk everyday resistance—perlawanan sehari-hari yang senyap, tetapi berdampak.
Baca Juga: Ancaman Perubahan Iklim bagi Nelayan Opini : Kusnadi
Realitas Pahit Nelayan Kecil
Pantai Utara Jawa telah lama menjadi pusat aktivitas perikanan rakyat. Namun, dalam dua dekade terakhir, nelayan kecil justru semakin terdesak oleh kapal-kapal besar, kebijakan yang tidak berpihak, dan sistem pemasaran hasil laut yang eksploitatif.
Banyak dari mereka hanya memiliki perahu kecil tanpa pendingin, tanpa asuransi, dan tanpa akses pada pasar yang adil.
Di balik statistik kemiskinan dan konflik sumber daya, ada cerita-cerita nelayan yang setiap hari harus memilih: menantang arus atau menunggu gelombang mereda.
Dalam kondisi seperti inilah, lahir strategi sosial dan kultural yang khas. Bukan karena mereka tak mampu melawan, melainkan karena perlawanan tidak selalu harus dimulai dengan amarah.
Baca Juga: Anak-Anak yang Merindu Kehadiran Negara, Opini oleh Dr. Fina Rosalina
Nrimo: Antara Ketabahan dan Strategi Psikologis
Banyak orang luar menganggap nrimo sebagai bentuk ketundukan, bahkan fatalisme. Tapi, di masyarakat nelayan, nrimo adalah bentuk resiliensi. Mereka tahu bahwa tidak semua bisa dilawan, tidak semua bisa dimenangkan.
Maka nrimo menjadi cara untuk menjaga kesehatan jiwa, menghindari stres berlebih, dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan—seperti menjaga solidaritas dan gotong royong.
Dalam banyak kasus, sikap nrimo justru menjadi penopang kehidupan kolektif.
Ia menjaga komunitas dari kehancuran moral ketika harga ikan jatuh, ketika laut enggan bersahabat, ketika janji kebijakan hanya tinggal suara. Nrimo bukan berarti tak sadar, tetapi sadar bahwa bersabar bisa jadi kekuatan.
Ngalah: Strategi Menghindari Benturan
Berikutnya adalah ngalah. Ini bukan sekadar menghindar dari konflik, melainkan strategi sosial untuk tetap hidup tanpa menciptakan musuh baru.
Dalam dunia perikanan, nelayan kecil sering kali harus berhadapan dengan kapal-kapal industri atau aparat yang punya wewenang. Mereka tahu, konflik terbuka bisa berujung penangkapan, intimidasi, atau kehilangan akses melaut.
Ngalah adalah pilihan cerdas ketika posisi tawar rendah. Banyak nelayan memilih pindah lokasi tangkapan daripada memicu bentrokan.
Mereka paham bahwa menghindar sesaat bisa lebih baik daripada kalah total. Dan, ketika sistem tidak memberi perlindungan hukum, ngalah menjadi jalan selamat.
Baca Juga: Pertambangan dan Etika Islam di Raja Ampat, Opini oleh M. Badruz Zaman
Ngalih: Adaptasi sebagai Perlawanan Diam-Diam
Tapi mereka tidak hanya menunggu. Di banyak desa pesisir, saya menemukan nelayan yang ngalih—berpindah jalur, beralih profesi, bahkan mengganti alat tangkap. Ini bukan sekadar bertahan, tapi upaya membangun strategi baru.
Ada yang mulai menekuni budi daya ikan, ada yang menjadi buruh pelabuhan, bahkan ada yang menjual es batu di pasar ikan.
Ngalih adalah bentuk kecerdikan sosial. Saat sistem tak memberikan ruang, mereka menciptakan ruang sendiri. Saat tengkulak menekan harga, mereka mencari pembeli langsung. Saat cuaca ekstrem datang, mereka membuat usaha kecil di rumah.
Sikap ini tidak terdengar lantang, tapi justru menunjukkan fleksibilitas luar biasa dalam menghadapi tekanan struktural.
Baca Juga: Prompt AI, Fake Videos, dan Masa Depan Industri Digital, Opini oleh Ali Mursyid Azisi
Ngamuk: Ketika Diam Tak Lagi Cukup
Namun, tidak semua bisa dihindari. Ada saatnya nrimo dan ngalah tidak lagi cukup.
Ketika kapal pukat harimau masuk ke wilayah tangkap nelayan kecil, ketika kebijakan melarang alat tangkap tradisional tanpa memberi solusi, atau ketika nelayan dituduh ilegal di lautnya sendiri—maka ngamuk menjadi jalan terakhir.
Saya mencatat beberapa kasus di mana nelayan melakukan aksi kolektif: membakar jaring trawl, menutup akses pelabuhan, hingga berhadapan langsung dengan kapal-kapal industri.
Ini bukan tindakan spontan. Ia lahir dari akumulasi kekecewaan, frustrasi, dan rasa tidak dianggap. Dalam konteks ini, ngamuk adalah bahasa terakhir agar mereka didengar.
Tentu saja, ngamuk bukan tanpa risiko. Reaksi aparat bisa keras. Stigma dari masyarakat juga muncul.
Tapi bagi sebagian nelayan, hanya dengan ngamuk lah mereka bisa memaksa negara melihat. Dan faktanya, beberapa perubahan kebijakan—seperti evaluasi larangan alat tangkap atau kompensasi bagi nelayan terdampak—bermula dari aksi ngamuk ini.
Mendengar yang Tak Bersuara
Empat sikap ini—nrimo, ngalah, ngalih, ngamuk—bukan empat tahap linear. Seorang nelayan bisa saja menunjukkan semua sikap itu dalam satu bulan, bahkan satu hari.
Ia bisa nrimo saat cuaca buruk, ngalah saat berhadapan dengan kapal besar, ngalih saat tangkapan menurun, dan ngamuk saat haknya benar-benar diinjak.
Inilah yang jarang dibahas dalam desain kebijakan: kompleksitas batin, strategi sosial, dan kecerdikan budaya masyarakat pesisir.
Mereka bukan objek penderita. Mereka adalah aktor sosial yang memiliki strategi dan logika sendiri.
Sayangnya, banyak kebijakan perikanan kita masih buta terhadap dimensi ini. Fokus pada teknologi, produksi, dan statistik. Padahal nelayan kecil bukan sekadar angka.
Mereka adalah manusia dengan nilai, jaringan, dan memori kolektif. Jika kebijakan tidak memahami nrimo, ia akan salah membaca kepasrahan.
Jika tidak memahami ngalah, ia akan mengira tidak ada masalah. Jika tidak melihat ngalih, ia akan abai terhadap daya adaptasi. Dan jika menutup mata dari ngamuk, maka konflik akan terus berulang.
Baca Juga: Pembangunan Inklusif atau Ilusi? Opini oleh Fahurrizal Hidayat
Menjawab dengan Keadilan
Maka, jika kita sungguh peduli pada nelayan kecil, mulailah dengan mendengar. Dengarkan bukan hanya keluhannya, tapi juga logika di balik diamnya.
Rancanglah kebijakan yang berbasis pada pemahaman sosial, bukan hanya ekonometrik.
Libatkan mereka dalam desain tata kelola laut. Berikan akses pada teknologi, pasar, dan perlindungan hukum.
Karena kalau tidak, siklus akan berulang: dari nrimo ke ngamuk, dari diam ke ledakan. Dan ketika suara sunyi tak didengar, maka amuk bisa jadi satu-satunya cara untuk menyapa negara. (*)
*) Penulis adalah Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Argopuro Jember.
Editor : Sidkin