PERAYAAN 1 Muharam 1447 Hijriah, atau yang lebih dikenal sebagai tahun baru Islam, menjadi momen penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada tahun 2025, perayaan ini jatuh pada tanggal 27 juni menurut kalender masehi.
Namun, dalam era digital yang terus berkembang dengan pesat, perayaan ini sekaligus juga memberi kesempatan bagi umat Islam untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut dan memanfaatkan sebagai sarana untuk memperkuat moderasi beragama.
Oleh karena itu, perayaan tahun baru Islam menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan bagaimana kita dapat menghadapi tantangan dan peluang yang ditawarkan oleh era digital.
Era digital membawa perubahan besar dalam cara kita belajar dan mengakses informasi, termasuk pendidikan Islam. Teknologi digital membuka peluang besar untuk membuat pembelajaran lebih mudah diakses, menarik, dan fleksibel.
Namun, era ini menghadirkan sebuah tantangan seperti kesenjangan akses teknologi dan konten agama yang tidak tervalidasi.
Generasi muslim berkualitas adalah generasi yang tidak hanya menguasai teknologi. Tetapi juga memiliki pemahaman agama yang kuat, akhlak yang baik, dan mampu menyaring informasi dengan bijak.
Inilah yang diajarkan Islam menggunakan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab serta dapat memilih informasi antara yang benar dan salah.
Pendidikan Islam di era digital harus bisa menggabungkan nilai-nilai Islam dengan kemajuan teknologi agar generasi muda menggunakan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat dan kebaikan.
Meski, tahun baru Islam merupakan momentum penting untuk hijrah dan refleksi diri, apabila perayaannya tidak sesuai dengan syariat Islam, tentu akan merusak nilai di dalamnya. Misalnya, perayaannya menggunakan kembang api dengan berlebihan, atau musik keras biasanya dikenal dengan “sound horeg”.
Baca Juga: Jangan Dilanggar Kalau Tak Ingin Kena Sial, Ini 7 Pantangan Malam 1 Suro dalam Tradisi Jawa
Bagi sebagian orang yang minim pemahaman agama atau tidak memiliki akses terhadap informasi yang benar, perayaan semacam itu dianggap wajar. Sebaliknya, bagi sebagian orang yang telah paham dalam agamanya dan menyaring suatu informasi dengan bijak itu adalah suatu yang telah melewati batas.
Sebagai generasi muslim berkualitas di era digital ini, kita sebagai umat Islam perlu terus belajar dan mengembangkan diri agar tidak ketinggalan.
Menghadapi perubahan teknologi yang cepat dan inovasi yang terus muncul, penting bagi umat Islam untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan.
Kita harus terbuka untuk mempelajari hal-hal yang baru dan menggunakan teknologi yang sudah ada saat ini untuk kebaikan bersama.
Mempelajari hal baru di era digital ini bukan hanya tentang memahami teknologi terbaru, tapi juga tentang bagaimana kita bisa menggunakan teknologi untuk kehidupan sehari-hari dan agama kita.
Sebagai generasi muslim berkualitas perlu tahu cara menggunakan aplikasi media sosial dan platform online untuk memperdalam pemahaman agama, berinteraksi dengan sesama muslim, dan berbagai nilai-nilai Islam dengan orang lain.
Selain itu, kita juga perlu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan memanfaatkannya untuk kebaikan bersama.
Beradaptasi bukan hanya tentang mengikuti tren teknologi, tapi juga tentang mencari cara baru untuk menyampaikan pesan agama kepada lebih banyak orang. Contohnya, kita bisa menggunakan live streaming untuk ceramah agama atau diskusi online yang bisa diikuti oleh orang dari berbagai tempat.
Dengan begitu, kita bisa memanfaatkan teknologi untuk memperkuat iman dan memperluas jangkauan.
Meskipun teknologi dapat memberikan kemudahan yang luar biasa, kita harus selalu ingat untuk tidak terjebak dan mengabaikan aspek spiritual dalam kehidupan kita.
Sikap kritis, kesadaran diri dan penggunaan teknologi dengan penuh tanggung jawab menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara nilai-nilai agama dan era digital.
*) Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam KH. Achmad Muzakki Syah Jember.
Editor : Sidkin