Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Literasi Keuangan : Bagaimana Mengukurnya ? Opini oleh Hari Sukarno, Dosen Jurusan Manajemen FEB Unej

Dwi Siswanto • Rabu, 16 Juli 2025 | 13:55 WIB

 

Hari Sukarno
Hari Sukarno
 

 

Seharian tadi menguji dua mahasiswa doktoral. Mahasiswa pertama dinyatakan lulus dan berhak menyematkan gelar doktor.  Mahasiswa kedua, proposal disertasinya lolos ke tahap berikutnya.

Fenomenanya, salah satu variabel penelitian yang mereka gunakan adalah literasi keuangan. Sepertinya sedang trending topic, akhir-akhir ini banyak mahasiswa mengusung literasi keuangan masyarakat sebagai tema sentral tugas akhir kuliahnya.

Bahkan beberapa hari lalu, koran inipun banyak memberitakan tentang literasi keuangan. Misalnya, tema talk show A.Widyaningrum di BI yang mengaitkan Kesehatan Mental Gen Z dengan literasi keuangan, Perpustakaan BI menyelenggarakan talk show bedah buku pada Hari Buku Sedunia.

Dua kegiatan tersebut membuktikan kepedulian BI menanamkan literasi keuangan kepada masyarakat. Tak berlebihan pula seperti kebijakan pak Purwono  selaku Kepsek SDN Ajung 02 dengan penciri sekolah unggul berupa Cha ching Kurikulum. Keunggulan tersebut diklaim sebagai model pengenalan dini literasi keuangan.

Sementara itu, hasil SNLIK 2024 yang diselenggarakan OJK bersama BPS menunjukkan indeks literasi keuangan penduduk Indonesia sebesar 65,43 persen, sementara indeks literasi keuangan syariah sebesar 39,11 persen. Artinya, penduduk Indonesia telah memiliki 65,43 persen pengetahuan dan keterampilan keuangan.

Yakni meliputi produk dan layanan jasa keuangan serta cara mengelola uang mereka. Termasuk juga, keterampilan dan pengetahuan berinvestasi, menabung, berutang dan konsep dasar keuangan seperti bunga maupun inflasi.

Dengan kata lain, masih sekitar sepertiga lebih materi keuangan yang belum bisa dikuasai masyarakat Indonesia. Ibarat seorang murid yang bersekolah, hingga saat survei tersebut dilakukan ia telah menuntaskan 65,43 persen materi keuangan. Kok tahu, bagaimana mengukurnya ?

Secara sederhana, literasi keuangan merupakan kemampuan seseorang memahami dan menggunakan berbagai keterampilan keuangan secara efektif. Ini termasuk kemampuan mengelola uang, membuat keputusan keuangan yang cerdas, merencanakan masa depan keuangan, dan memahami konsep-konsep keuangan dasar.

Jadi kata literasi tidak hanya bicara soal bisa membaca dan menulis saja, tapi juga tentang kemampuan adaptasi dan pemahaman yang lebih mendalam di berbagai aspek, misalnya aspek keuangan.

Kata kuncinya adalah kemampuan memahami dan mengelola suatu informasi. Tinggi-rendahnya kemampuan seseorang tentu bisa diukur. Yaitu dengan mengujinya atau mengajukan pertanyaan, misalkan ujian lisan, menjawab soal ujian tulis, kasuistis ataupun uji keterampilan.

Jawaban mereka yang salah maupun benar, jawaban tidak tahu atau memilih tidak mau menjawab adalah tetap sah dan mencerminkan kemampuan yang bersangkutan.

Contoh ekstrem, andaikan semua jawaban ujiannya adalah salah, sehingga dapat dikatakan bahwa kemampuannya tidak ada atau indeks literasinya nol persen.

Jika soal ujiannya tentang keuangan maka indeks literasi keuangan orang tersebut adalah nol persen.

Bagaimana jika jawaban ujiannya benar semua ? Tentu saja indeks literasi keuangannya adalah 100 persen.

Analog dengan ilustrasi tersebut maka angka indeks 65,43 persen diatas sudah dapat dimengerti.

Dengan demikian, hasil perhitungan indeks literasi keuangan bisa tinggi maupun rendah.

Selanjutnya, tentang materi keuangan yang diujikan. Menurut Mitchel & Lusardi (2022) literasi keuangan memiliki indikator: mampu menghitung suku bunga, mengerti apa makna dampak inflasi, paham ragam risiko keuangan, paham tentang bunga obligasi dan bunga majemuk serta paham tentang hipotek.

Chen dan Vape (1998) mengkategorikan literasi keuangan menjadi tiga, yaitu kategori rendah (kurang dari 60 persen), sedang (60 – 80 persen) dan tinggi (lebih dari 80 persen).

Singkatnya, orang yang memiliki literasi keuangan tinggi cenderung punya kontrol yang lebih baik atas hidup finansial mereka, bisa menghindari utang yang tidak perlu, dan mampu mencapai tujuan keuangan yang diinginkan.

Pertanyaan berikutnya, apa urgensi indeks tersebut ? Angka indeks ini sangat penting bagi OJK dan Pemerintah. Sebagai subyek, mereka berdua akan mendasarkan semua kebijakan dan program peningkatan literasi keuangannya pada indeks tersebut agar lebih tepat sasaran.

Kelompok masyarakat mana yang masih rendah literasinya sehingga perlu didampingi. Sebaliknya, literasi yang tinggi akan mendukung inklusi keuangan yang sehat.

Masyarakat yang paham akan lebih bijak dalam memanfaatkan akses layanan keuangan yang ada, sehingga mengurangi risiko terjerat masalah seperti pinjaman online ilegal atau investasi bodong.

Pada akhirnya, peningkatan literasi keuangan diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk mengelola keuangannya dengan lebih baik, menabung, berinvestasi, dan merencanakan masa depan, yang semuanya berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan individu dan keluarga.

Berdasarkan pemaparan tersebut maka indeks 39,11 persen diatas adalah hasil pengukuran literasi keuangan syariah juga dapat dimengerti.

Lalu bagaimana dengan istilah literasi digital, literasi pajak, literasi budaya, literasi sains dan literasi numerasi yang bertaburan di ruang publik ? Tentunya juga bisa diukur.*

Editor : Dwi Siswanto
#hari buku sedunia #ojk #FEB Unej #literasi keuangan #mental gen z #suku bunga #literasi buku