Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

HARI BAKTI TNI AU: Menegakkan Kedaulatan Udara, Opini Oleh: Krisnanda Theo Primaditya

Dwi Siswanto • Selasa, 29 Juli 2025 | 16:45 WIB

 

 

Krisnanda Theo Primaditya, Dosen Ilmu Sejarah Universitas Jember
Krisnanda Theo Primaditya, Dosen Ilmu Sejarah Universitas Jember

INDONESIA, negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki komposisi wilayah daratan dan lautan dengan perbandingan sekitar 1:3. Pulau-pulau itu tersebar membentuk gugusan kepulauan Nusantara.

Bentangan wilayah laut yang luas mewajibkan penjagaan dan pengamanan di sektor darat, laut, dan udara.

Tentara menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Baik di darat, laut, maupun udara. Keberadaan tentara menjadi penting karena menjadi simbol ketangguhan dan kesiapsiagaan bangsa dalam menghadapi berbagai ancaman.

Tentara Angkatan Udara Republik Indonesia lahir atas kebutuhan bangsa ini untuk mempertahankan kemerdekaan.

Bermula dari Badan Keamanan Rakyat (BKR) Divisi Udara yang berganti menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) Angkatan Udara pada 9 April 1946. Hingga akhirnya berganti lagi menjadi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara pada 3 Juni 1947.

Hari Bakti TNI AU bukan serta-merta lahir atas dasar keberhasilan maupun pencapaian militer. Hari itu justru berakar dari sebuah peristiwa tragis yang sarat dengan nilai-nilai pengorbanan dan kemanusiaan.

Tanggal 29 Juli 1947 menjadi titik penting dalam sejarah TNI AU, ketika tiga perintis Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI)—Komodor Udara Agustinus Adisutjipto, Opsir Muda Udara Abdul Rahman Saleh dan Opsir Muda Udara Adi Soemarmo—gugur saat menjalankan misi kemanusiaan mengangkut bantuan medis dari India ke Ibu Kota Republik Indonesia di Yogyakarta.

Pesawat Dakota VT-CLA yang mereka tumpangi ditembak jatuh oleh dua pesawat tempur Belanda di langit Maguwo tepat sebelum mendarat.

Seluruh awak pesawat termasuk pilot berkebangsaan Australia dan Inggris serta warga negara India harus meregang nyawa. Irna, Nana, dan Soedarini dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia (2008) mengisahkan peristiwa itu secara dramatis.

Peristiwa gugurnya perintis AURI mengguncang kesatuan TNI, sekaligus menggugah kesadaran seluruh masyarakat Indonesia untuk ikut mempertahankan kemerdekaan.

Pengorbanan para perintis AURI menjadi bentuk kekuatan militer sejati. Perjuangan tidak hanya diukur dari kemenangan di medan tempur, namun juga dedikasi terhadap prinsip kemanusiaan.

Sejak saat itu, Hari Bakti TNI AU diperingati setiap tahun sebagai momen reflektif untuk meneguhkan kembali semangat pengabdian prajurit udara kepada negara dan masyarakat.

Peringatan ini menjadi penghormatan atas jasa para pahlawan udara dan pengingat bahwa AURI memiliki dua tugas besar yakni menjaga kedaulatan udara nasional dan merawat hubungan dengan rakyat yang terpisah jarak dan kondisi geografis.

Lantas, mengapa udara menjadi basis penting dalam menegakkan kedaulatan bagi suatu negara dan bangsa? Giulio Douhet dalam The Command of the Air (1921) sejatinya telah menegaskan bahwa penguasaan udara adalah faktor penentu dominasi di medan perang dan strategi nasional.

Apalagi Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat membutuhkan mobilitas udara yang relatif lebih cepat dibandingkan laut.

Kekuatan udara dapat berfungsi sebagai alat pertahanan strategis juga sarana pemersatu wilayah dan percepatan distribusi logistik ke seluruh penjuru Nusantara.

Penguasaan udara memungkinkan respons cepat terhadap ancaman eksternal, baik yang sifatnya militer maupun nonmiliter.

Kekuatan udara juga berperan penting dalam mendukung misi kemanusiaan layaknya evakuasi bencana alam, pengiriman bantuan medis serta pembangunan daerah 3T yang sulit diakses oleh jalur darat atau laut. Matra udara menjadi elemen vital dalam menjaga kedaulatan dan menjamin kehadiran negara di wilayahnya.

AURI bertanggung jawab mengawal langit Indonesia dari pelanggaran wilayah atau ancaman asing. AURI juga turut serta dalam mendukung keberhasilan pembangunan nasional.

Peran ganda ini menjadi karakter unik kekuatan udara yakni tangguh dalam pertahanan dan tanggap dalam pengabdian.

Hari Bakti TNI AU menjadi momen penting untuk menegaskan kembali bahwa kedaulatan udara bukan persoalan memamerkan kekuatan tempur, melainkan komitmen untuk selalu hadir di tengah-tengah rakyat.

Masyarakat Indonesia menaruh harapan besar agar semangat pengabdian yang diwariskan para pahlawan udara terus menyala dan relevan dalam menghadapi tantangan zaman.

AURI diharapkan tidak hanya semakin modern dalam kekuatan alutsistanya, tetapi juga semakin humanis dalam pengabdiannya kepada masyarakat.

Baca Juga: Mengilhami Semangat Sumpah Pemuda, Opini: Krisnanda Theo Primaditya

Di tengah dinamika global dan ancaman multidimensional, peran AURI sebagai penjaga kedaulatan langit Indonesia tetap harus diimbangi dengan kedekatan terhadap rakyat sebagai inti dari kekuatan pertahanan yang sesungguhnya.

Karena sejatinya, harapan itu telah melekat pada kalimat “Swa Bhuana Paksa” di logo AURI.

Terbanglah di atas langit Indonesia, karena sayap-sayapmu akan mengantarkan Indonesia ke masa depan yang penuh dedikasi dan inovasi. Langit tetap biru, Indonesia tetap jaya.

 *) Penulis adalah Dosen Ilmu Sejarah, Universitas Jember.

 

Editor : Dwi Siswanto
#tni #Abdul Rahman Saleh #Hari Bakti #pesawat dakota #AURI #hut tni au