DESA sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur urusan pemerintahan, tentunya mempunyai peran strategis yang menyentuh langsung ke masyarakatnya.
Sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa, bahwa pembangunan desa merupakan upaya peningkatan kualitas hidup dan kehidupan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat desa.
Tentunya dalam melakukan pembangunan desa, tidak terlepas akan kebutuhan terhadap data. Diperlukan pemanfaatan data melalui sistem informasi desa agar proses pembangunan desa menjadi lebih baik.
Badan Pusat Statistik BPS sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 16 tahun 1997 mempunyai peran sebagai leading sector dalam pembinaan statistik.
Hal ini sebagai bentuk pengembangan Sistem Statistik Nasional (SSN) dan mendukung pembangunan. Berkaitan dengan desa, BPS mempunyai program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) agar nantinya desa/kelurahan mampu melaksanakan tata kelola penyelenggaraan statistik tingkat desa/kelurahan.
Program Desa Cantik bertujuan untuk meningkatkan literasi, kesadaran dan peran aktif perangkat desa/kelurahan serta masyarakat dalam penyelenggaraan kegiatan statistik. Program pembangunan di desa/kelurahan dapat lebih tepat sasaran dengan melakukan optimalisasi penggunaan dan pemanfaatan data statistik.
Pelaksanaan program Desa Cantik tentu memerlukan dukungan sumberdaya agar dapat berjalan dengan baik. Di antaranya melalui pembentukan agen-agen statistik di tingkat desa/kelurahan oleh kepala desa atau lurah. Agen statistik ini akan mendapatkan pembinaan dari BPS terkait penyelenggaraan kegiatan statistik mulai dari perencanaan hingga penyajian data.
Tidak berhenti di situ, data yang sudah dihasilkan tentunya perlu dimanfaatkan untuk pembangunan desa/kelurahan agar lebih tepat sasaran. Keberlangsungan ini perlu dijaga agar data dan indikator yang dihasilkan dapat ditampilkan secara series sehingga terlihat perubahan dan kemajuannya.
Jika seluruh desa menyelenggarakan hal ini, maka pencapaian Asta-Cita ke-6 akan dapat terwujud. Yaitu “Membangun dari Desa dan dari Bawah untuk Pertumbuhan Ekonomi, Pemerataan Ekonomi, dan Pemberantasan kemiskinan”.
Desa Sidomulyo yang berada Kecamatan Silo, pada tahun ini mendapatkan pembinaan Desa Cantik dari BPS Kabupaten Jember. Diawali dengan sosialisasi program Desa Cantik kepada perangkat desa dan dinas terkait, lalu dilakukan identifikasi kebutuhan desa, akhirnya disepakati untuk melakukan Pendataan Petani Kopi Desa Sidomulyo.
Baca Juga: PUISI: Antara Sepeda dan Kopi di Sungai hingga Perumahan Jember
Dengan gambaran awal bahwa hampir di setiap rumah mempunyai kebun kopi, tentunya ini menjadi potensi besar yang dapat dimaksimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hasil pendataan menunjukan bahwa lebih dari separuh keluarga mempunyai usaha pertanian yaitu perkebunan kopi. Dengan luas lahan lebih dari dua ribu hektare menghasilkan produksi kopi dalam bentuk biji kering (green bean) mencapai lebih dari tiga ribu ton pada musim panen yang terakhir.
Tentunya hal ini merupakan potensi besar bagi desa yang mempunyai slogan “Maju Desanya, Bahagia Warganya”. Namun demikian petani kopi juga menyampaikan harapan dan masukan, di antaranya terkait pupuk, pemasaran, pelatihan, serta akses transportasi.
Gayung bersambut, pada program kegiatan bupati Jember yaitu Bunga Desaku (Bupati Ngantor di Desa/Kelurahan) yang baru berjalan, akhirnya dapat bersinergi menjadi Bunga Desaku Cantik (Bupati Ngantor di Desa Cinta Statistik) pada tanggal 27-28 Juni lalu.
Tema yang diangkat terkait kopi, di mana Kecamatan Silo merupakan kecamatan penghasil kopi terbesar di Jember. Untuk memperluas jangkauan pemasaran, dilakukan sosialisasi terkait ekspor kopi kepada petani kopi dan juga kelompok tani yang ada di Kecamatan Silo oleh Bea Cukai.
Dilanjutkan dengan focus group discussion (FGD) persiapan ekspor kopi dipimpin oleh bupati yang melibatkan unsur terkait seperti Dinas Koperasi dan UMKM, Bea Cukai, Bank Indonesia, BPS, DPRD, jajaran OPD, serta seluruh kepala desa yang ada di Kecamatan Silo.
Tidak berhenti pada kegiatan Bunga Desaku Cantik, FGD persiapan ekspor kopi terus dilakukan pada awal Agustus yang dimotori oleh OJK Jember, untuk membahas peran dari setiap unsur menjelang persiapan soft launching ekspor kopi yang direncanakan pada akhir Agustus.
Pemanfaatan hasil pendataan petani kopi juga menggandeng unsur terdekat yang ada di Desa Sidomulyo, yaitu Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang merupakan program pemerintah untuk memperkuat ekonomi desa melalui pembentukan koperasi yang berlandaskan prinsip gotong royong dan kemandirian.
Salah satu gerai KDMP yang dapat mendukung potensi kopi di desa ini, yaitu gerai pergudangan kopi yang nantinya mendukung distribusi dan ekspor kopi, dan unit usaha distributor pupuk untuk membantu memenuhi kebutuhan pupuk petani kopi secara lebih terjangkau dan berkelanjutan.
Selain itu melalui keanggotaan koperasi, para petani kopi akan mendapatkan berbagai pelatihan teknis, mulai dari budi daya, pengolahan hasil panen, hingga manajemen usaha berbasis pertanian dari hulu ke hilir.
Demikian berbagai upaya yang dilakukan oleh Desa Sidomulyo untuk menembus pasar ekspor kopi, khususnya kopi robusta yang menjadi produk unggulan. Sehingga nantinya kopi Sidomulyo dapat dikenal sebagai surganya kopi robusta di dunia dengan cita rasa yang unik.
Program Desa Cantik tentu tidak berhenti setelah hasil pendataan dimanfaatkan untuk pembangunan. Justru pembinaan ini menjadi awal keberlangsungan tata kelola penyelenggaraan statistik di desa secara berkelanjutan.
Agen statistik, perangkat desa dan masyarakat memahami akan pentingnya data untuk pembangunan. Sehingga setiap tahun dapat memetakan kebutuhan desa lalu melakukan perencanaan hingga pemanfaatan data statistik desa.
Statistik bukan sekedar angka, perlu upaya agar statistik mampu bermakna dan berdampak. Semoga desa/kelurahan khususnya di Kabupaten Jember dapat memanfaatkan program Desa Cantik yang dilakukan oleh BPS.
*) Penulis adalah Alumnus SMAN 1 Jember yang kini sebagai statistisi muda BPS Jember dan pembina Desa Cantik.
Editor : Dwi Siswanto