Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Rashdul Kiblat, Fenomena Astronomis Penentu Arah Kiblat, Opini: Lailatul Nuraini, Dosen Fisika FKIP Unej  

Dwi Siswanto • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 16:20 WIB

 

Lailatul Nuraini
Lailatul Nuraini

RASHDUL Kiblat (Istiwa' A'zham) merupakan fenomena alam terkait astronomi ketika posisi matahari berada tepat di atas Ka'bah.

Peristiwa yang berkaitan dengan pergerakan semu tahunan matahari ini terjadi dua kali dalam setahun.

Gerak semu tahunan matahari bukanlah gerak nyata, melainkan fenomena pergeseran semu posisi matahari yang tampak dari bumi seolah-olah bergerak dari utara ke selatan dan kembali lagi ke utara setiap tahunnya.

Perhitungan arah kiblat dengan memanfaatkan fenomena gerak semu tahunan ini pertama kali dilakukan oleh ilmuwan muslim Al Biruni sekitar tahun 1000 Masehi. 

Penentuan arah kiblat dapat dilakukan dengan memperhatikan gerak semu tahunan matahari.

Pada 21 Maret matahari berada di garis khatulistiwa kemudian bergerak ke arah utara hingga mencapai garis balik utara atau lintang 23,50 LU pada 21 Juni.

Selanjutnya matahari kembali bergerak ke arah selatan dan pada 23 September kembali tepat di atas khatulistiwa, menuju ke arah selatan hingga di 23,50 LS pada 22 Desember.

Pada tanggal 21 Maret posisi matahari dari khatulistiswa bergerak ke arah utara hingga bulan Mei matahari berada pada posisi tepat di atas ka'bah.

Begitu juga saat kembali dari garis balik utara atau 23,50 LU menuju bumi belahan selatan maka matahari berada tepat di atas Ka'bah kembali yaitu pada bulan Juli.

Inilah momentum yang bisa digunakan umat Islam di dunia untuk memperbaiki, mengecek dan meluruskan kembali arah kiblat.

Ketika matahari tepat berada di atas ka'bah maka bayangan benda-benda yang tegak lurus akan mengarah ke kiblat. 

Pada tahun 2025, fenomena rashdul kiblat terjadi pada tanggal 27 dan 28 Mei 2025 (29-30 Dulqa’idah 1446 H) serta 15 dan 16 Juli 2025 (19-20 Muharram 1447 H). 

Lalu bagaimana cara kita memeriksa arah kiblat?

Langkah yang dapat dilakukan yaitu menggunakan benda yang tegak lurus sebagai patokan semisal tongkat, alas yang digunakan sebagai tempat patokan berupa bidang yang datar di area terbuka. 

Perhatikan waktu yang tepat untuk melakukan pengamatan yaitu 16.27 WIB atau 17.27 WITA dan menggunakan waktu resmi dari sumber terpercaya seperti waktu yang dirilis oleh BMKG.

Ketepatan waktu pengamatan sangat penting supaya bayangan yang dihasilkan benar-benar mengarah sinkron dengan posisi matahari yang sedang berada tepat di atas Ka'bah.

Bayangan benda yang tegak lurus akan mengarah ke Kiblat.

Pertanyaan berikutnya mengapa di Indonesia sore hari waktu istiwa' azam?

Hal ini terjadi karena perbedaan waktu indonesia dengan Arab Saudi yang terpaut selisih 4 jam, waktu di wilayah Indonesia lebih cepat 4 jam dibandingkan wilayah Arab Saudi.

Perbedaan suatu wilayah setiap 10 garis bujur maka memiliki berbeda waktu 4 menit.

Hal ini karena bumi membutuhkan waktu untuk berotasi penuh 24 jam (1440 menit) dengan sudut 3600 sehingga 1440 menit dibagi 3600 adalah 4 menit tiap 10.

Fenomena matahari di atas ka'bah terjadi pada posisi garis lintang 210 25 LU dan garis bujur 390 490 BT.

Pada saat itu, fenomena astronomi rashdul kiblat dapat menjadi kesempatan bagi umat Islam secara umum untuk memastikan kembali arah kiblat secara mudah tanpa memerlukan keahlian atau alat bantu khusus.

Di saat istiwa' a'zam, siapa saja, tanpa perlu memiliki keahlian atau perangkat teknologi tertentu dapat meluruskan arah kiblatnya sendiri hal ini sebagaimana disampaikan oleh Arsad (Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag).

Fenomena ini bersifat konfirmatif. Jika arah kiblat selama pengamatan memiliki hasil yang sama dengan yang selama ini digunakan maka dapat memperkuat ketepatan.

Namun apabila masih diliputi rasa keraguan maka momen ini merupakan waktu yang ideal untuk memverifikasi arah kiblat.

Di Benua Eropa secara umum arah kiblatnya ke arah timur dan tenggara. Benua Afrika arah kiblatnya ke arah timur dan timur laut.

Ketika penulis hendak mendirikan sholat saat berkunjung ke Korea Selatan arah kiblatnya secara mata angin menunjukkan arah barat daya.

Perlu diingat bahwa fenomena rashdul kiblat bukan satu-satunya metode untuk penentuan arah kiblat, meskipun fenomena ini sangat menarik dan membantu.

Ada metode lain yaitu menggunakan kompas, perhitungan menggunakan persamaan astronomis dan menggunakan alat theodolite.

Theodolite merupakan alat optik yang dapat digunakan dalam survei dan pemetaan mengukur sudut horizontal dan vertikal dengan yang memiliki presisi yang tinggi.

Theodolite dapat digunakan untuk menentukan arah kiblat dengan mengukur besar sudut horizontal dan vertikal.

Alat ini dapat digunakan untuk menentukan arah utara sebenarnya lalu sudut azimuth bintang kiblat dihitung dan diputar pada theodolite untuk mendapatkan arah kiblat yang tepat.

Masyarakat diharapkan tidak terjebak pada mitos-mitos yang tidak berdasar pada saat terjadi rashdul kiblat.

Seperti misalnya, beberapa orang percaya bahwa ibadah yang dilakukan saat rashdul kiblat akan lebih mustajab atau diterima.

Keyakinan ini tidak memiliki landasan baik secara teologis maupun sains.

Perlu diingat bahwa rashdul kiblat adalah fenomena astronomi bukan bagian dari ibadah itu sendiri, melainkan metode atau salah satu cara untuk menentukan arah kiblat umat Islam di seluruh dunia.

Menghadap kiblat menjadi simbol persatuan umat Islam di seluruh dunia, karena seluruh umat Islam menghadap ke arah yang sama saat mendirikan shalat. 

 Penulis adalah Dosen Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Unej

dan Founder Lorong Edukasi

 

Editor : Dwi Siswanto
#Ka'bah #penentu arah kiblat #kiblat #dosen fisika #unej