Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Moral Force Pencak Organisasi, Opini Oleh: Muchamad Taufiq

Dwi Siswanto • Kamis, 28 Agustus 2025 | 14:55 WIB

 

Muchamad Taufiq, Akademisi di ITB Widya Gama Lumajang dan Sekretaris DHC BPK’45 Lumajang.
Muchamad Taufiq, Akademisi di ITB Widya Gama Lumajang dan Sekretaris DHC BPK’45 Lumajang.

Pencak Organisasi (PO) didirikan dengan romantika semangat heroik melawan penjajah Belanda. Kecamatan Tempeh adalah sumber api perlawanan kala itu, 27 Agustus 1927.  

Mayjend Raden Imam Soedja'i di sekitar Stasiun Tempeh melatih para pemuda dengan ilmu beladiri pencak silat. Sebuah tonggak sejarah yang menjadi kebanggaan masyarakat Lumajang.

Sejatinya PO adalah jiwa kejujuran dan keberanian yang menjelma menjadi rangkaian gerakan pencak silat. PO saat ini bukan saja milik Lumajang namun sudah menjadi warisan budaya secara nasional bahkan sudah berkembang secara internasional. 

Pertanyaannya, bagaimana kita sebagai generasi muda mampu mengembangkan rasa memiliki sejarah dan memeliharanya untuk lebih berkembang?

Artikel ini sebagai bentuk ungkapan untuk menghormati para guru yang pernah memberikan pengajaran dan ilmu kepada saya sekitar 45 tahun lalu.

Di samping nama besar Bapak Soemedi sebagai tokoh PO di Lumajang, beruntung saya sempat ngangsu kawruh kepada Mbah Soemarlan, Bapak Endang Djuwito dan Bapak Sutikno.

Perjalanan waktu sejak tahun 1992 mempertemukan saya dengan Bapak Yadi Ismandoyo dan para tokoh yang berjasa dalam pengembangan PO di Lumjanag khususnya, misalnya Bapak Ikhsan dan Ali Muchdar.

Kita semua yang pernah berlatih PO dan masyarakat Lumajang patut berterima kasih kepada beliau seraya berdoa semoga arwahnya diterima disisi Allah SWT.

Suatu saat saya pernah berdiskusi dengan para senior PO yang saat ini masih aktif yaitu Bapak Imam dan Bapak Rohani (Kedua Dewan Guru Pusat). Ada cita-cita indah bahwa PO sebagai warisan budaya luhur bangsa dapat menjadi ikon di Lumajang.

Misalnya dari aspek pendidikan, PO menjadi ekstrakurikuler wajib bidang olahraga. Karena jika tidak terjaga pemasalannya, seiring waktu akan tenggelam dan generasi muda Lumajang khususnya tidak akan mengenal lagi bahwa PO lahir di Lumajang dan merupakan simbol perlawanan merebut kemerdekaan.

Hari Ulang Tahun PO dapat di-maintanance dari aspek budaya dan wisatanya. Pemerintah telah membangunkan sebuah Padepokan Silat yang tentunya tidak dapat lepas dari sejarah panjang perjalanan PO di Lumajang.

Maka disaat tanggal 27 Agustus akan sangat menarik jika Padepokan Silat itu menjadi pusat kegiatan budayanya, hal ini dapat menambah kesakralan sejarah dan akan menjadi kenangnan terbaik jika murid-murid PO dari luar negeri datang ke Lumajang.

Hal ini untuk menguatkan memory bahwa pusat PO itu di Lumajang. Hakekatnya PO bukan saja milik anggotanya saja namun PO adalah milik Lumajang yang utuh dengan sejarah perjuangannya.  

Karena PO sejatinya bukan sekedar gerakan beladiri fisik saja namun sarat dengan nilai-nilai luhur dan karakter kebangsaan. Harapannya, PO itu adalah jiwa bagi anggotanya.

Jika kita sempat merenung sejenak, semakin menyadarkan kita bahwa berdirinya PO memiliki korelasi moral dengan syair dalam Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Frasa “bangunlah jiwanya bangunlah badannya” sangat idenitk dengan bangkitnya kesadaran diri untuk melawan penjajahan dan merebut kemerdekaan yang diwujudkan dengan olah badan berupa gerakan beladiri silat.

Tidaklah mungkin orang akan giat berlatih jika semangat dalam jiwanya padam.

Tidaklah bermanfaat kebaikan kekuatan badan jika jiwanya tidak sehat dengan nilai-nilai luhur dan karakter baik.

Moral force seperti inilah yang terus diseiringkan kepada generasi muda melalui berbagai kegiatan olahraga khususnya melalui PO.

Eksistensi PO sebagai olahraga beladiri di era sekarang mengemban 5 fungsi yaitu: PO sebagai olahraga beladiri, PO sebagai olahraga prestasi, PO sebagai olahraga bernilai sejarah, PO sebagai olahraga bernilai budaya, dan PO sebagai wadah berorganisasi bagi generasi muda.

Menyeimbangkan lima aspek tersebut serta mengakselerasikan dengan baik akan dapat mengantarkan PO sebagai entitas yang dibutuhkan oleh generasi muda dan masyarakat.

Puncaknya jika setiap gerakan fisik yang dilakukan diikuti dengan aspek psikis dengan penuh kesadaran maka akan menyempurnakan dari gerakan itu sendiri.

Selain berolahraga, belajar PO juga dapat mewujudkan prestasi melalui berbagai even yang dapat mengharumkan nama diri, orang tua, daerah, bahkan mengharumkan nama bangsa di level internasional.

Menjadi penting berolahraga dengan benar, mengambil manfaat kemampuan beladiri dengan benar, serta menempatkan semangat dan implementasinya dengan benar.

Jika sudah pada kesadaran seperti ini maka saya yakin generasi muda akan mampu tampil dengan penuh kehormatan diri, menghargai perbedaan, serta bersatu untuk membangun negeri dengan penuh semangat.

Keberadaan PO diantara perguruan silat lainnya pada hakekatnya memiliki latar belakang sejarah yang sama yaitu menguatkan diri dan bersatu untuk melawan penjajah kala itu, Maka seharusnya, perbedaan dalam proses belajar ilmu beladiri justru menguatkan untuk bersatu, saling bahu-membahu menguatkan persaudaraan, mewujudkan persatuan dalam menghadapi era global.

Kekuatan kuda-kuda seorang pesilat menandakan bahwa dengan ilmunya harus tetap rendah hati, karena kuda-kuda yang kuat hakekatnya adalah telapak kaki yang masih berpijak ke bumi.

Semoga diusia ke-98 tahun PO terus mengapresiasi dengan nilai budaya luhur, kekuatan romantika sejarah perjuangan bangsa, dan prestasi. Jayalah PO, jayalah Lumajang, jayalah Indonesia.

*) Penulis adalah Akademisi ITB Widya Gama Lumajang

Atlet PO Ranting Tempeh 1984 dan

Pemilik Sertifikat Leaderships Management

 

Editor : Dwi Siswanto
#pencak silat #penjajah #Penjajah Belanda #belanda #Pencak Organisasi #lumajang