BARANGKALI, di antara begitu banyak metafora tentang Indonesia yang inklusif, sepiring nasi goreng adalah salah satunya.
Nasi goreng bukan semata kuliner populer, tetapi juga sebagai “simbol” keberagaman rasa dan perjumpaan budaya.
Dalam sepiring nasi goreng tersimpan jejak sejarah, identitas, bahkan mungkin narasi kebangsaan Indonesia yang layak dirayakan.
Nasi goreng adalah salah satu ikon kuliner Indonesia Spice Up The World (ISUTW). Ia juga pernah dinobatkan CNN sebagai salah satu "hidangan nasi terbaik di dunia." Ia adalah kuliner yang sangat mudah dijumpai di seluruh pelosok negeri.
Meski terkenal, dalam sejarahnya, nasi goreng bukan lahir dari mustikarasa para raja, tapi dari sisa nasi semalam dan bumbu seadanya di dapur rakyat jelata.
Melalui kesederhanaannya, nasi goreng menjelma menjadi makanan yang mudah diterima semua kalangan, menjadi perekat halus yang mungkin paling jujur tentang siapa kita.
Nasi goreng memiliki variasi rasa dan jenis. Ia bisa pedas, manis, gurih, asin atau kombinasi semuanya.
Di Jogja, nasi goreng bisa manis dan gelap oleh kecap.
Di Padang, ia bisa kering dan gurih menyengat. Di Surabaya dan Makassar, harum cabai terkadang menyelusup lembut dalam nasi goreng merah mereka.
Variannya beragam: nasi goreng polos, nasi goreng teri, nasi goreng kambing, ayam, ampela, atau bahkan pete. Meski beraneka, semuanya adalah nasi goreng nusantara.
Sementara, jenis nasi goreng tergolong majemuk. Seorang pakar kuliner UGM mencatat setidaknya 104 jenis nasi goreng di tanah air (Media Indonesia, 16/7/2021).
Terdapat 36 Jenis yang asal usulnya dapat dikenali. Sisanya, adalah jenis pengembangan tanpa kejelasan daerah asalnya.
Dalam nasi goreng, ada keberagaman tanpa dominasi.
Bawang merah tak memaksa bawang putih dan cabai untuk “menyerah”. Kecap dan garam “berdamai” dalam takaran seadanya.
Topping boleh apa saja, telur mata sapi, udang, ayam suwir, ikan asin, bawang goreng, tomat dan mentimun, bahkan bisa menerima petai, mozzarela dan katsu ayam.
Kerupuknya pun sesuai selera: kerupuk udang, kerupuk bawang, kerupuk blek/uyel, kerupuk gendar, kerupuk mie, rengginang, kemplang, opak, atau bahkan emping.
Semua membaur, semua memberi ruang. Inilah persatuan dalam nasi goreng, tidak kaku, tidak memaksa, tetap bergandengan tangan.
Singkatnya, nasi goreng tak memiliki versi tunggal. Setiap daerah punya versi terbaiknya.
Namun, tak ada yang mengklaim paling otentik. Meskipun berbeda, semuanya tetap disebut nasi goreng.
Identitas Kita
Nasi goreng barangkali adalah cara paling sederhana mengenali Indonesia.
Ia bukan hanya makanan, tapi cermin tentang bagaimana kita hidup dalam keberagaman, kadang penuh “selisih” rasa, tapi tetap punya nama yang sama.
Baca Juga: Kemenag Luncurkan Kurikulum Berbasis Cinta, Begini Penjelasannya
Nasi goreng juga inklusif, tidak eksklusif.
Ia hadir lintas kelas sosial. Ia bisa dibeli di pinggir jalan oleh pekerja harian, dimasak di dapur kos-kosan mahasiswa, atau disajikan di hotel bintang lima untuk tamu mancanegara.
Ia tidak bertanya status, kebangsaan, maupun gelar siapa yang menyuapnya. Ia hadir setara.
Baca Juga: FISIP Unej Gelar Diskusi Etika Penelitian pada Anak
Nasi goreng datang tanpa drama, tapi jejaknya tertanam kuat dalam ingatan kita.
Kita terkenang masa kecil lewat nasi goreng buatan ibu. Kita menghayati perantauan lewat nasi goreng warung malam.
Kita merayakan hal-hal kecil dengan nasi goreng. Bahkan, diaspora dunia terasa lebih "kita" ketika ada nasi goreng bersama.
Dari nasi goreng, sering kali, identitas tumbuh dalam rasa: yang dikenali bersama, dirasakan bersama, dan diterima tanpa syarat bersama. Nasi goreng seperti rasa itu.
Kita tidak terlalu bertanya dari mana asalnya, namun diterima dalam perbedaannya.
Mungkin itu sebabnya dalam kenangan rasa, nasi goreng terkadang terasa lebih kuat dari simbol-simbol resmi.
Karena yang mengikat nasi goreng bukan aturan kaku, tapi kesamaan rasa. Karena rasa, seperti kenangan, jarang bisa dibantah.
Di tengah gaduhnya politik identitas dan tafsir tentang siapa yang lebih berhak disebut Indonesia, nasi goreng memberi pelajaran kecil, yakni: menjadi Indonesia tidak selalu berarti menjadi seragam.
Menjadi Indonesia berarti bisa duduk bersama, menikmati rasa yang berbeda, dalam satu piring yang sama.
Karena nasi goreng tidak memaksakan satu bentuk tunggal, resmi, apalagi satu versi paling top and excellence. T
api ia membuka ruang untuk variasi. Ia tak memecah belah, karena tak pernah merasa paling benar.
Baca Juga: Megawati, Spiker Tanpa Batas. Opini: Agus Trihartono
Ketika entitas negara terasa terlalu besar, terlalu jauh, dan mungkin terlalu kaku, nasi goreng menghadirkan bentuk rasa “berbangsa” yang lebih akrab.
Ia tidak menggugat kita dengan doktrin, namun menawarkan kita tentang “rasa pulang”.
Ia tidak menanyai apakah kita cukup nasionalis, cukup dengan satu suap, kita merasa: ini bagian dari kita. Ia tak menuntut loyalitas beku, tapi memberi keakraban.
Mungkin, kita tak perlu menyelesaikan semua pertentangan besar untuk merasakan makna kebangsaan.
Pun, tak selalu harus mencari Indonesia di dalam pidato resmi atau teks akademik yang acap kali rumit.
Kadang, cukup dari wajan yang mengepul, ditabur bumbu dengan sabar dalam nasi yang digoreng perlahan. Dari situlah kita bisa merasa Indonesia ada.
Baca Juga: KEREN! Mahasiswa FISIP Unej Ajak Masyarakat Jember Peduli Teman Tuli dengan Belajar Bahasa Isyarat
Indonesia kadang lebih mudah ditemukan dalam sepiring nasi goreng, yang dengan diam mengajarkan kita bagaimana menerima dan hidup bersama.
Dan justru karena itu, ia terasa lebih apa adanya. Ia tidak menggurui, tapi menghidupi.
Ia tidak berteriak, tapi mengikat. Ia bukan sekadar makanan, tapi pelajaran tentang kenegaraan yang mungkin kita butuhkan: cair, akrab, dan penuh pengertian.
Baca Juga: Diabetes Mencuat: Butuhkan Peran Perawat Opini : Melani Adelia Efendi
Nasi goreng agaknya memberi lesson-learned tentang bagaimana menjadi Indonesia tanpa saling meniadakan.
Tentang bagaimana keberagaman dapat dibaurkan, bukan diseragamkan.
Tentang bagaimana negara bisa hadir dalam bentuk yang lebih lembut dan friendly, dalam rasa yang merangkul, bukan dalam suasana yang memaksa.
Identitas terkadang tidak selalu ditulis di atas kertas resmi, tapi dari “rasa diterima” sebagai Indonesia.
*) Penulis adalah dosen FISIP Universitas Jember dan Rektor Universitas Islam Cordoba, Banyuwangi.
Editor : Dwi Siswanto