RASULULLAH begitu mencintai kaum marginal yang hidup dalam strata grassroots. Bahkan beliau menyebutkan pertolongan Allah akan datang sebab mereka. Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah menolong umat ini sebab orang-orang lemah, sebab doa mereka, sebab salat mereka dan sebab keikhlasan mereka (HR Bukhori).
Rasulullah terlahir sebagai yatim, kemudian piatu, kemudian menjadi penggembala di pegunungan sunyi kaum sa'diyah, sebuah perjalanan hidup 'kurang ideal' dalam perspektif masyarakat modern.
Akan tetapi, kehidupan kelas bawah yang kurang ideal justru menjadikan Rasulullah sebagai pribadi yang sangat optimistis dan menjadi pemimpin yang memiliki sense of care terhadap masyarakat marginal dalam strata grassroots.
Masyarakat marginal dalam strata grassroots seringkali mendapat stigma negatif sebagai akar masalah bangsa.
Karena keterbatasan pendidikan dan kemampuan finansial, mereka masyarakat kelas bawah dan pinggiran ini di sebut kelompok anarkis, sulit di ajak berpikir futuristik dan susah di ajak membangun peradaban bangsa yang maju.
Sementara, di sisi yang lain fakta empiris justru menyajikan data yang sebaliknya. Bahwa masalah besar bangsa sering kali di sebabkan perilaku dan kebijakan kelompok elite berpendidikan tinggi yang memiliki kemapanan finansial tetapi minus kepedulian.
Bulan Maulid dapat menjadi momentum yang tepat bagi kita untuk memperbaiki perspektif dalam melakukan observasi bahkan rekonstruksi sosial dalam diri kita.
Jika bulan Maulid kali ini kita tidak menjadi stimulus untuk meneladani Rasulullah dengan semakin peduli kepada masyarakat kelas bawah dan kaum pinggiran, serta tidak menjadikan kita tetap optimis walau keadaan hidup kita tidak ideal, berarti kita hanya merayakan maulid dengan gegap gempita sebagai rutinitas tetapi gagal dalam mengambil hikmah bulan maulid secara entitas.
Rasulullah tidak berkeinginan di kultuskan dengan seremonial maulid yang spektakuler dengan kembang api yang gemerlap dan menu mahal yang disajikan. Tetapi, beliau bersabda: Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakan (bahwa Muhammad) hamba dan utusan-Nya (HR Bukhori).
Maka bulan maulid bukan hanya sekedar memperingati kelahiran manusia teladan dan mulia. Tetapi selayaknya menjadi momentum bagi kita untuk meraih substansi keteladanan bukan sekedar aklamasi kemuliaan.
Dalam catatan sejarah, Rasulullah memang pernah terlibat dalam peperangan. Akan tetapi peperangan yang terjadi bukan insiatif dari sifat ofensif Rasulullah melainkan perang tersebut adalah preventif dan defensif Rasulullah terhadap dinamika yang ada pada era itu.
Sejarah mencatat bahwa di sekitar Kakbah banyak berhala-berhala yang di yakini sebagai Tuhan oleh penganut paganisme jahiliah, juga beberapa simbol-simbol agama yang di anut oleh kabilah yang tersebar di tanah Arab.
Rasulullah mengenalkan Islam sebagai agama monoteisme yang berbasis ketauhidan dengan menyembah Tuhan Yang Maha Satu.
Maka hadirnya Islam menjadi ancaman bagi politeisme yang meyakini banyak Tuhan dan juga paganisme yang menjadikan material fisik kasat mata sebagai Tuhan.
Penganut politeisme dan paganisme kemudian melakukan berbagai cara untuk menghadang Islam yang mengajarkan monoteisme satu Tuhan dan non-paganisme yang menolak hadirnya Tuhan dalam bentuk fisik kasat mata.
Rasulullah tidak bersikap destruktif terhadap kekufuran dan kemusyrikan melainkan memilih jalan kompromi sosial dengan tetap hidup bersama umat yang beragama selain Islam.
Sikap lembut Rasulullah ini justru berbalas dengan sikap anti Islam di kalangan masyarakat Arab. Sifat anti-Islam yang cenderung keras ini yang menjadi pemicu terjadinya perang.
Rasulullah memilih untuk tetap melakukan pendekatan dialogis. Akan tetapi, dalam kondisi yang mengancam umat Islam beliau juga tidak mundur untuk meladeni tantangan perang.
Sikap moderat Rasulullah adalah mengedepankan dialogis sebagai pilihan utama. Tetapi sikap tegas menjaga marwah juga tetap menjadi pilihan kedua yang memungkinkan jika diperlukan, tidak keras seperti batu sehingga bisa dipecahkan.
“Rasulullah tidak berkeinginan di kultuskan dengan ceremonial maulid yang spektakuler dengan kembang api yang gemerlap dan menu mahal yang disajikan.”
*) Penulis adalah dosen Pascasarjana UIMSYA Blokagung Banyuwangi dan pengajar di Ponpes MHI Bangsalsari Jember.
Editor : Sidkin