BELAKANGAN ini, masyarakat kian resah dan sering kali mengeluhkan harga beras yang terus merangkak naik. Data Badan Pusat Statistik mencatat, harga rata-rata beras per Januari 2025, baik untuk kualitas premium, medium, maupun submedium di penggilingan mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Memasuki Agustus 2025, harga rata-rata beras masih bergerak naik di semua jenis beras. Untuk beras premium, harga rata-ratanya mencapai Rp. 13.838,00 per kg atau naik 2,32 persen dari bulan sebelumnya.
Untuk beras medium, harga rata-ratanya juga naik 1,46 persen dari bulan sebelumnya, menjadi Rp. 13.458,00 per kg. Kenaikan harga ini menunjukkan betapa rentannya harga beras yang sangat bergantung pada stabilitas produksi dan kelancaran distribusi beras di masyarakat.
Dalam tiga tahun terakhir, produksi padi dan beras untuk konsumsi pangan penduduk menunjukkan fluktuasi yang nyata. Pada 2023, produksi padi gabah kering giling (GKG) mencapai 53,98 juta ton, dengan beras konsumsi 31,10 juta ton.
Namun, pada 2024, terjadi penurunan yang cukup signifikan, produksi padi nasional hanya mencapai 52,66 juta ton GKG atau turun 2,45 persen dari tahun sebelumnya. Demikian halnya, produksi beras untuk konsumsi juga mengalami penurunan sebesar 2,43 persen dari tahun sebelumnya, menjadi 30,34 juta ton.
Memasuki 2025, keterpurukan itu perlahan mulai bangkit. Data BPS selama Januari-Juli 2025 menunjukkan adanya kenaikan yang cukup signifikan baik pada produksi padi maupun beras untuk konsumsi pangan penduduk.
Produksi padi nasional sementara mencapai 37,77 juta ton GKG atau meningkat 14,49 persen dibandingkan Januari-Juli 2024. Sementara itu, produksi beras untuk konsumsi mencapai 21,76 ton atau naik sebesar 14,93 persen.
Meskipun begitu, kenaikan produksi ini belum serta merta menstabilkan harga beras, karena harga beras tetap dipengaruhi oleh faktor lain seperti cuaca, harga pupuk, distribusi, dan dinamika global. Tidak ada jaminan di tahun depan, produksi padi atau beras konsumsi kembali meningkat atau justru malah anjlok.
Salah satu penyebab utama adalah perubahan iklim global. Dalam tiga tahun terakhir, kasus gagal panen baik akibat kekeringan maupun banjir telah terjadi di beberapa daerah.
Kekeringan di Serang Banten, pada 2023, menyebabkan lahan sawah padi seluas 572 hektare mengalami gagal panen. Pada 2024, lahan padi sawah seluas 200 hektare di Nusa Tenggara Barat dan 4.140 hektare di Lampung juga mengalami gagal panen.
Memasuki tahun 2025, kekeringan yang melanda Kabupaten Padanglawas, Sumatera Utara, juga menimbulkan ancaman yang serius, yang mana lahan sawah seluas 5,25 hektare terancam gagal panen.
Banjir pun tak kalah merugikan. Di Aceh Tenggara, pada 2023, banjir merendam dan merusak lahan sawah seluas 267 hektare.
Di Ngawi, Jawa Timur, pada 2024, juga mengalami hal serupa, lahan sawah seluas 1.300 juta hektare mengalami gagal panen akibat terendam banjir.
Pada awal 2025, bencana serupa juga melanda Jawa Tengah dengan 60 hektare lahan sawah gagal panen, bahkan di Sulawesi Selatan, gagal panen terjadi di lahan sawah seluas 1.204 hektare.
Kasus-kasus ini hanyalah sebagian contoh dari rentetan persoalan gagal panen akibat kekeringan atau banjir yang terus berulang.
Sebenarnya, apa sih yang terjadi pada tanaman ketika menghadapi kekeringan atau banjir?
Sama halnya dengan manusia, tanaman juga dapat mengalami stres, terutama saat tanaman menghadapi tekanan lingkungan yang berada di luar batas toleransinya.
Kondisi kekeringan, misalnya, dapat menurunkan ketersediaan air sehingga mengganggu metabolisme tanaman, menurunkan laju fotosintesis, dan pada akhirnya menghambat pertumbuhan dan produktivitas.
Sebaliknya, kondisi genangan air atau banjir (flooding) dapat mengurangi ketersediaan oksigen di sekitar akar, menghambat respirasi akar, dan memicu kerusakan jaringan tanaman.
Selain itu, kelembaban yang terlalu tinggi juga meningkatkan risiko serangan patogen, seperti bakteri dan jamur yang dapat menimbulkan penyakit pada tanaman. Selain kekeringan dan banjir, tanaman juga mengalami stres akibat suhu ekstrem, salinitas tanah, serta paparan polutan (logam berat) dan herbisida dalam dosis yang berlebih.
Kombinasi berbagai macam tekanan atau cekaman ini membuat tanaman berada dalam kondisi stres fisiologis yang berat dan kelangsungan hidupnya terancam. Dampak lanjutnya adalah gagal panen.
Di Tengah kompleksitas persoalan ini, ancaman krisis pangan menjadi semakin nyata. Sebagai negara agraris, Indonesia sangat bergantung pada ketahanan sektor pertanian.
Namun, ketahanan ini rapuh jika tanaman terus-menerus berada dalam kondisi stres. Ketidakpastian iklim membuat petani sulit memprediksi musim tanam, memperbesar risiko gagal panen, dan akhirnya mendorong harga beras yang kian melambung tinggi.
Situasi ini bukan hanya soal pertanian, melainkan menyangkut stabilitas sosial dan ekonomi yang luas.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, diperlukan inovasi dalam sektor pertanian. Salah satu langkah strategis yaitu dengan mengembangkan varietas padi yang resisten atau tahan terhadap berbagai macam tekanan atau cekaman lingkungan.
Seperti halnya manusia, tanaman akan mencoba mengerahkan strategi dan usaha untuk bertahan hidup ketika mengalami stres, misalnya dengan mengembangkan mekanisme adaptasi secara struktural atau mekanisme antioksidan, baik secara enzimatik maupun non-enzimatik.
Pemahaman mengenai mekanisme ini dapat menjadi dasar bagi riset pengembangan varietas tanaman yang toleran terhadap cekaman.
Perlu adanya dukungan kebijakan pemerintah agar inovasi ini dapat diterapkan secara luas, tidak hanya di tingkat penelitian, namun juga sampai ke lahan. Pada akhirnya, dengan menjaga ketahanan pangan sama saja menjaga ketahanan bangsa.
Stres tanaman akibat perubahan iklim dan tekanan lingkungan lainnya bukanlah isu kecil, melainkan ancaman serius yang harus segera diantisipasi. Jika tidak, krisis pangan hanya menunggu waktu.
Oleh karena itu, kolaborasi antara peneliti, petani, pemerintah, dan masyarakat menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa Indonesia tetap mampu memenuhi kebutuhan pangan bagi seluruh rakyatnya di tengah tantangan global yang semakin berat.
*) Penulis adalah dosen biologi UIN Walisongo Semarang, mahasiswa S-3 Program Studi Doktor Biologi UGM, dan penerima beasiswa LPDP tahun 2024.
Editor : Sidkin