Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Menghidupkan Pancasila dengan Nafas Kearifan Lokal, Opini oleh Thaifur Rasyid

Sidkin • Sabtu, 27 September 2025 | 19:00 WIB
Menghidupkan Pancasila dengan Nafas Kearifan Lokal, Opini oleh Thaifur Rasyid
Menghidupkan Pancasila dengan Nafas Kearifan Lokal, Opini oleh Thaifur Rasyid

KALAU kita jujur, hidup di Indonesia hari ini penuh paradoks. Negara ini kaya budaya, kaya tradisi, punya dasar negara yang sangat luhur, tapi justru sering terlihat gagap menghadapi krisis etika.

Korupsi merajalela, birokrasi berbelit, konflik bernuansa agama muncul silih berganti. Sementara, di dunia digital ujaran kebencian dan hoaks seolah jadi konsumsi sehari-hari.

Ironisnya, kita sebenarnya punya fondasi moral yang kuat: Pancasila, filsafat, dan kearifan lokal. Ketiganya adalah harta karun etika yang kalau dihidupi dengan serius bisa jadi penuntun kita keluar dari kebuntuan.

Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Pancasila hanya jadi slogan, filsafat dianggap rumit, dan kearifan lokal dilihat sekadar romantisme masa lalu.

Birokrasi Indonesia sering digambarkan sebagai “mesin lamban.” Rakyat dibuat repot dengan prosedur panjang, sementara pejabat birokrasi nyaman dengan kekuasaan dan fasilitas.

Padahal, menurut Weber, birokrasi ideal adalah organisasi rasional yang melayani masyarakat. Fakta di lapangan justru menunjukkan birokrasi kita sering terjebak dalam patologi: korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan budaya status quo.

Di sinilah etika Pancasila seharusnya hadir. Nilai musyawarah, keadilan, dan pengabdian bisa jadi kompas birokrasi. Dalam tradisi Jawa ada istilah pamong praja, yang berarti pemimpin adalah momong-mengasuh, membimbing dengan kasih.

Jika birokrasi kita kembali ke semangat ini, pelayanan publik tidak lagi menjadi sekadar urusan prosedur, melainkan bentuk pengabdian kepada rakyat.

Etika yang Membumi

Kearifan lokal sering diremehkan karena dianggap ketinggalan zaman. Padahal justru di sanalah tersimpan nilai moral yang sangat relevan.

Masyarakat Baduy, misalnya, punya tradisi perkawinan monogami, menolak kekerasan rumah tangga, dan menjunjung kesetaraan gender. Nilai-nilai ini sejalan dengan prinsip universal hak asasi manusia-bahkan lebih konsisten ketimbang praktik di kota besar.

Selain itu, kearifan lokal juga punya sumbangan besar dalam menjaga alam. Komunitas adat dengan tegas melarang penebangan pohon sembarangan atau pencemaran sungai.

Aturan itu mungkin tidak tertulis, tapi dijalankan dengan disiplin. Bandingkan dengan regulasi formal yang sering gagal ditegakkan karena kalah oleh kepentingan ekonomi.

Dengan kata lain, kearifan lokal adalah filsafat hidup yang praktis. Ia lahir dari pengalaman panjang masyarakat, membumi, dan membentuk karakter kolektif.

Isu agama di Indonesia sering dipolitisasi. Dalam kontestasi politik lokal, simbol dan sentimen agama digunakan untuk meraih suara. Hasilnya, masyarakat mudah terbelah, dan agama kehilangan makna sejatinya sebagai sumber etika.

Padahal, sejarah juga mencatat banyak teladan dari tokoh agama yang menunjukkan kerendahan hati.

Ketika terjadi ketegangan antaragama, ada pemimpin Katolik yang dengan rendah hati meminta maaf demi menjaga kerukunan. Itu contoh nyata bahwa etika pengampunan lebih kuat daripada retorika kebencian.

Dalam konteks ini, sila pertama Pancasila seharusnya tidak dimaknai sempit. Ketuhanan Yang Maha Esa bukan hanya pengakuan formal terhadap agama, tapi juga landasan spiritual untuk menghormati jalan yang berbeda menuju kebaikan.

Dunia digital membuka ruang baru bagi kebebasan berekspresi, tapi juga menghadirkan tantangan etika. Media sosial sering jadi arena ujaran kebencian, fitnah, dan hoaks. Banyak orang lupa bahwa kata-kata di ruang maya tetap punya dampak di dunia nyata.

Karena itu, penting ada kesadaran akan cyberethics. Komunitas blogger, misalnya, disarankan punya kode etik agar tidak sembarangan menyebarkan informasi.

Etika digital ini penting, apalagi bagi generasi muda, karena internet sekarang adalah bagian dari ruang publik. Kalau ruang ini dibiarkan tanpa etika, demokrasi digital bisa berubah menjadi anarki digital.

Baca Juga: Moral Force Pencak Organisasi, Opini Oleh: Muchamad Taufiq

Menyusun Ulang Moral Kebangsaan

Dari birokrasi, kearifan lokal, agama, hingga dunia digital, kita bisa melihat satu benang merah: Indonesia kaya sumber moral, tapi miskin integrasi.

Ada filsafat yang mengajarkan kritis, agama yang membawa spiritualitas, kearifan lokal yang menjaga harmoni, dan Pancasila yang merangkum semuanya.

Sayangnya, potensi ini sering tercecer, tidak disusun dalam konstruksi moral kebangsaan yang kokoh.

Filsafat bisa menjadi kompas untuk menyatukan arah, sementara Pancasila menjadi simpul pemersatu. Kearifan lokal menjadi bukti nyata bahwa nilai itu bisa dihidupi dalam keseharian, bukan hanya dihafal.

Yang perlu kita hindari adalah monopoli moral. Mengklaim satu sumber moral sebagai yang paling benar justru berbahaya karena menyingkirkan keberagaman.

Sebaliknya, keterbukaan untuk mengakui berbagai sumber moral adalah kunci agar bangsa ini punya konstruksi etika yang inklusif dan tangguh.

Bangsa besar bukan hanya yang punya jalan tol panjang atau gedung pencakar langit, tapi yang bisa memberi makna baru pada warisan moralnya.

Indonesia punya “harta karun” etika: Pancasila, filsafat, dan kearifan lokal. Semua itu bisa jadi bekal menghadapi globalisasi, asal kita berani menghidupinya.

“Pancasila jangan berhenti jadi slogan di podium. Kearifan lokal jangan hanya jadi cerita di museum. Etika jangan sekadar teori di ruang kuliah. Semuanya harus hadir dalam praktik nyata-di birokrasi, politik, agama, dan dunia digital.”

Sejarah membuktikan, bangsa yang bertahan bukanlah yang paling kuat, melainkan yang mampu membaca zaman tanpa meninggalkan akarnya.

Jika Indonesia berani menghidupkan kembali Pancasila dengan napas kearifan lokal, maka kita bukan hanya akan selamat dari krisis etika, tetapi juga bisa memberi inspirasi bagi dunia.*

 

*) Penulis adalah mahasiswa pascasarjana ilmu hukum Universitas Islam Malang dan alumnus PP Darurrahman, Pangarangan, Sumenep, serta PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Editor : Sidkin
#Etika Pancasila #dasar negara #nilai pancasila #paradoks indonesia #kearifan lokal #korupsi #pancasila