Heboh!!!!Maraknya kasus keracunan makanan dalam program MBG dibeberapa daerah menunjukkan program ini masih belum siap diimplementasikan.
Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional ( BGN ) mengklaim hingga 22 September 2025 tercatat 4.711 orang terdampak keracunan MBG, namun data eksternal Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat jauh lebih tinggi hingga 27 September 2025, tercatat 8.649 anak yang mengalami keracunan akibat program MBG.
Adapun penyebab dari kasus keracunan MBG ini seperti yang disampaikan oleh Pemerintah Jawa Barat bahwa kasus keracunan massal di 11 kota/kabupaten, adalah makanan cepat basi karena pengelolaan suhu, penyimpanan yang tidak sesuai, dan kontaminasi mikroba yaitu bakteri seperti Salmonella, E. coli, Bacillus cereus, dan Staphylococcus aureus.
Baca Juga: Jurnalis Dianiaya saat Liput Dapur MBG, AJI dan LPH Pers Kecam Tindakan Penganiayaan
Terlepas apapun penyebab keracuan MBG ini, membuktikan bahwa program MBG memiliki konsep yang sangat bagus sebagai upaya pemerintah untuk meningkatkan status gizi dan kualitas penddikan. Dalam perspektif Bidang Kesehatan Masyarakat, program kesehatan seperti MBG ini perlu menggunakan Health Promotion Strategy sebagaimana yang disampaikan dalam Piagam Ottawa (Ottawa Charter) pada tahun 1986.
Ottawa Charter for Health Promotion lahir pada Konferensi Internasional Promosi Kesehatan Pertama yang diselenggarakan oleh WHO di Ottawa, Kanada, pada 21 November 1986.
Konferensi ini dihadiri lebih dari 200 peserta dari 38 negara. Ottawa Charter menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya disusun kerangka konseptual promosi kesehatan yang menekankan pada pendekatan holistik dan lintas sektor, tidak hanya terbatas pada bidang kesehatan saja.
Piagam Ottawa tahun 1986 dengan tegas menekankan pendekatan holistik dan lintas sektor, mulai dari kebijakan publik yang sehat, penciptaan lingkungan yang aman, hingga pemberdayaan Masyarakat sebagai strategi pencegahan yang berkelanjutan.
Baca Juga: Begini Komentar Dekan FKM Unej Tentang Program Makan Bergizi Gratis untuk Anak Sekolah di Jember
Kasus keracunan makanan pada program MBG seharusnya menjadi pengingat bahwa masalah pemberian makanan gratis tidak bisa hanya berhenti pada dapur MBG namun juga membutuhkan peran lintas sektor seperti Dinas Kesehatan, Masyarakat dalam hal ini orang tua siswa serta pihak sekolah yang memahami betul bagaimanakah kebutuhan anak didiknya.
Belajar dari maraknya kasus keracunan MBG, kita perlu Kembali ke prinsip Strategi promosi kesehatan menurut Piagam Ottawa dalam mengimplementasikan program MBG yang terdiri dari lima pilar utama: (1) Membangun kebijakan publik yang berwawasan Kesehatan; (2) Menciptakan lingkungan yang mendukung; (3) Memperkuat gerakan masyarakat; (4) Mengembangkan keterampilan individu; dan (5) mereorientasi sistem pelayanan kesehatan.
Membangun kebijakan publik yang berwawasan Kesehatan dalam program MBG dilakukan dengan cara Pemerintah memperkuat Kebijakan atau Regulasi bagi penyedia MBG untuk memiliki Standar Keamanan Pangan dengan cara mensyaratkan seluruh dapur/penyedia MBG memiliki sertifikat hygiene sanitasi dan menerapkan HACCP.
Anggaran MBG juga dialokasikan untuk pengawasan dan quality control. Menciptakan lingkungan yang mendukung, dengan cara membentuk sistem Surveilans pangan sekolah yang melibatkan pihak Puskesmas, Dinas Kesehatan dan Badan Pengawasan Obat dan makanan (BPOM), Dinas Ketahanan Pangan daerah yang menjamin ketersediaan bahan pangan yang segar dan bebas dari kontaminan serta memberikan edukasi kepada siswa tentang pentinganya makanan sehat dan bergizi dari MBG serta edukasi ke orang tua siswa mengenai pentingnya program ini bagi anak.
Memperkuat gerakan masyarakat, dengan melibatkan orang tua siswa melalui Komite sekolah untuk ikut mengawasi dan memonitor distribusi MBG.
Dibuat satuan pengawas MBG yang melibatkan lintas sektor dari Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan dan Balai POM serta Muspida setempat.
Mengembangkan keterampilan individu dengan memastikan setiap vendor yang menyediakan MBG telah mendapatkan pelatihan tentang personal Hyegene dan Sanitasi dalam mengolah makanan.
Baca Juga: Prabowo Panggil Kepala BGN, Instuksikan Perbaikan Tata Kelola Program MBG
Dengan strategi promosi kesehatan dalam program MBG diharapkan tidak terjadi kembali kasus keracunan MBG dan akan terbentuk sistem tata kelola kebijakan pangan sekolah yang terpadu dan berkelanjutan sehingga program MBG berjalan aman, sehat dan berdampak bagi peningkatan kualitas generasi bangsa.
Penulis adalah Dosen dan peneliti Bidang Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember ( Unej )
Editor : Dwi Siswanto