Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

NU dari Kampung hingga Dunia , OPINI Oleh: Misbahus Salam, Direktur Pusat Pengembangan Kampung SDGs Indonesia.

Dwi Siswanto • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 23:44 WIB

 

 

Misbahus Salam
Misbahus Salam

PENGURUS Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hari ini menegaskan bahwa motif dakwah dan pengelolaan maslahat yang lahir dari akar kampung mampu berjejaring hingga ke panggung internasional.

Lambang globe — bola dunia — yang menjadi simbol NU bukan sekadar ornamen: ia menandai visi bahwa khidmah Nahdlatul Ulama menjangkau manusia dari pelosok hingga forum global.

PBNU periode 2022–2027 yang dipimpin Rais Aam KH. Miftahul Akhyar dan Ketua Umum KH. Yahya Cholil Staquf, bersama kepengurusan Mustasyar, Syuriyah, Tanfidziyah, A’wan Syuriyah, serta lembaga-lembaga otonom, telah bergerak menjalankan agenda-agenda strategis yang dirumuskan dalam forum Muktamar, Konbes, dan Munas.

Hasilnya bukan sekadar program administratif; beberapa inisiatif sudah memberi dampak nyata bagi warga kampung sekaligus menarik perhatian dunia.

Beberapa program unggulan PBNU yang mendapat sambutan luas antara lain pengembangan “Fiqih Peradaban”, program “Religion of Twenty”, gagasan Humanitarian Islam (Al-Islam lil-Insaniyyah), serta perayaan dan program satu abad NU yang sukses besar.

Dari kajian teologis hingga upaya kemanusiaan, langkah-langkah ini menempatkan NU sebagai aktor yang menggabungkan tradisi keagamaan dengan respons atas tantangan modern: keberlanjutan agama, keadaban sosial, dan perlindungan martabat manusia.

Di level internal, pembenahan manajerial dan penguatan kelembagaan juga berjalan beriringan. Program pendidikan dan kaderisasi, seperti PD PKPNU dan PMKNU, serta reformasi manajemen kelembagaan, menunjukkan bahwa NU membenahi fondasi organisasinya untuk bisa lebih efektif melayani umat.

Perbaikan tata kelola ini penting agar pesan-pesan dari ulama dan tokoh NU dapat dikelola dengan profesional sekaligus tetap berakar pada tradisi pesantren dan masyarakat.

KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai ketua umum menempuh langkah-langkah strategis yang kadang berani dan mengundang perdebatan. Latar pengalaman beliau yang panjang di kancah NU, politik nasional, dan jaringan internasional, memberi warna tersendiri pada kepemimpinannya.

Undangan terhadap tokoh-tokoh dunia—termasuk akademisi yang berpandangan berbeda—bukan semata pencitraan, melainkan upaya membuka ruang dialog akademik yang sehat.

Dalam tradisi NU, perbedaan pendapat bukanlah ancaman melainkan bagian dari dinamika intelektual yang harus dihadapi dengan kebijaksanaan.

Di tingkat nasional, PBNU berhasil mengawal berbagai isu strategis kebangsaan. Misalnya, keterlibatan aktif NU dalam mendorong moderasi beragama, penguatan pendidikan pesantren melalui UU Pesantren, serta partisipasi dalam menjaga stabilitas politik nasional dengan meneguhkan nilai kebangsaan yang sejalan dengan Pancasila.

NU juga konsisten menjadi mitra pemerintah dalam penanggulangan bencana, penyaluran bantuan sosial, dan program pemberdayaan ekonomi umat melalui berbagai lembaga di bawah PBNU.

Dalam skala internasional, PBNU berhasil menghadirkan “Religion of Twenty” (R20) sebagai forum resmi dalam rangkaian G20 yang pertama kali digagas dari Indonesia. Forum ini mempertemukan pemimpin lintas agama dunia untuk membicarakan solusi atas isu global seperti krisis kemanusiaan, konflik antaragama, hingga perubahan iklim.

Kehadiran NU dalam forum global ini membuktikan bahwa Islam Nusantara yang damai, moderat, dan penuh welas asih bisa menjadi model bagi dunia yang tengah menghadapi ketegangan geopolitik.

Selain itu, PBNU melalui gagasan “Humanitarian Islam” semakin menegaskan kiprahnya dalam diplomasi kultural dan spiritual lintas negara. Jaringan PCI NU di berbagai belahan dunia tidak hanya berfungsi sebagai wadah silaturahmi warga NU di perantauan, tetapi juga menjadi saluran diplomasi masyarakat sipil.

PCI NU aktif menggelar kegiatan keilmuan, dialog lintas agama, serta advokasi isu kemanusiaan di negara masing-masing. Hal ini menjadikan NU bukan hanya organisasi Islam terbesar di Indonesia, tetapi juga salah satu kekuatan moral-keagamaan yang berpengaruh secara global.

Kontroversi di ruang publik—termasuk serangan lewat media sosial dan gerakan buzzer—memang menguji ketahanan NU. Namun sejarah panjang organisasi ini memperlihatkan bahwa gagasan-gagasan NU seringkali diuji dan justru menjadi lebih matang setelah melalui perdebatan. Banyak kiai dan tokoh kharismatik yang menjadi penopang moral organisasi ketika badai kritik datang.

Keyakinan bahwa “siapa saja yang niat menghancurkan NU akan menemui kehancuran sendiri” bukan sekadar retorika; ia mencerminkan kepercayaan pada keteguhan nilai-nilai keagamaan dan komunitas yang kuat.

Dampak internasionalisasi NU juga tampak dari tumbuhnya jalur-jalur perwakilan dan organisasi mitra di berbagai negara. Pembentukan dan pengakuan PCINU/PCI NU di luar negeri menunjukkan bahwa model Islam yang dibawa NU — yang mengedepankan moderasi, toleransi, dan kemanusiaan — relevan bagi banyak konteks berbeda. Dari kampung-kampung di Nusantara hingga forum internasional, pesan-pesan NU kini didengar dan dipelajari oleh kalangan akademik, aktivis kemanusiaan, dan pembuat kebijakan.

Reformasi internal, penguatan program-program berbasis kemanusiaan dan peradaban, serta keterbukaan pada dialog intelektual adalah bundel strategi yang membuat NU tetap relevan. Tentu tantangan masih banyak: dari penguatan kapasitas dakwah digital, menghadapi polarisasi informasi, hingga melestarikan nilai-nilai tradisi yang inklusif. Namun tradisi intelektual dan spiritual NU memberi modal kuat untuk menjawab tantangan tersebut.

Akhirnya, kekuatan NU tidak hanya terletak pada struktur organisasi, melainkan pada jiwa komunitasnya: ulama, kiai, aktivis, tokoh masyarakat, dan jutaan warga yang menjaga maslahat bersama.

Baca Juga: Film Keadilan: The Verdict Kolaborasi Sutradara Korea-Indonesia Siap Guncang Bioskop 20 November

Dari pesantren dan masjid di kampung hingga panggung dunia, NU membuktikan satu hal sederhana namun mendalam: ketika gagasan kebajikan dikelola secara baik—dengan intelektualitas, spiritualitas, dan integritas—maka pengaruhnya akan menyebar, menyejukkan, dan memberi manfaat bagi umat manusia.

Semoga NU terus menjadi rahmatan lil alamin: menjadi pelita bagi kampung, penyejuk bagi bangsa, dan suara kebajikan di panggung dunia.

 

Editor : Dwi Siswanto
#opini #nu #kampung