Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

HUT TNI dan Urgensi Gen-Z: Memahami Esensi Wawasan Nusantara, Opini oleh: Muchamad Taufiq

Dwi Siswanto • Selasa, 7 Oktober 2025 | 16:45 WIB

 

Muchamad Taufiq, Akademisi di ITB Widya Gama Lumajang dan Sekretaris DHC BPK’45 Lumajang.
Muchamad Taufiq, Akademisi di ITB Widya Gama Lumajang dan Sekretaris DHC BPK’45 Lumajang.
                                                                                                                  

 

Dirgahayu TNI. ” TNI Prima, TNI Rakyat, Indonesia Maju ” Adalah tema besar yang diusung dalam HUT ke-80 TNI tahun 2025. Kita patut bangga kepada TNI yang bertugas menjaga kedaulatan Republik Indonesia. Semangat TNI dari waktu ke waktu tidak lepas dari konsep ‘Wawasan Nusantara’.

Wanus sebagai konsepsi kewilayahan selanjutnya dikembangkan sebagai konsepsi politik kenegaraan sebagai cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungan tempat tinggalnya sebagai satu kesatuan wilayah dan persatuan bangsa. Hal inilah yang menuntut TNI kita harus kuat, modern dan mengikuti perkembangan zaman sehingga mampu menjawab tantangan politik global. 

Dewasa ini, generasi muda (Gen-Z) perlu didorong untuk memahami eksistensi wawasan nusantara.

Esensi dari wawasan nusantara adalah kesatuan atau keutuhan wilayah dan persatuan bangsa, mencakup di dalamnya pandangan akan satu kesatuan politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Wawasan nusantara merupakan perwujudan dari sila ke-3 Pancasila yakni Persatuan Indonesia.

Perlu diketahui bahwa rumusan wawasan nusantara termuat pada naskah GBHN 1973-1998 dan dalam Pasal 25 A UUD Negara RI 1945.

Menurut pasal 25 A UUD Negara RI 1945, Indonesia dari apek kewilayahannya, merupakan sebuah negara kepulauan (Archipelago State) yang berciri nusantara. Bangsa Indonesia menunjukkan komitmennya untuk mengakui pentingnya wilayah sebagai salah satu unsur negara sekaligus ruang hidup (lebensraum) bagi bangsa Indonesia yang telah menegara.

Ketentuan ini juga mengukuhkan kedaulatan wilayah NKRI di tengah potensi perubahan batas geografis sebuah negara akibat gerakan separatisme, sengketa  perbatasan antar negara, dan pendudukan oleh negara asing. Pesan penting ini wajib dimengerti dengan utuh oleh Gen-Z.

Tanpa pemahaman yang benar serta komitmen diri maka Gen-Z akan menjadi gagap terhadap kedaulatan wilayah negaranya dan dapat terjebak dalam perbuatan yang kontra-produktif atas upaya mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Sejauh ini, romantika sejarah bangsa Indonesia haruslah terus menjadi pemandu moral kita. Kebesaran Kerajaan Singhasari dan Majapahit telah membukikan tidak pernah dikalahkan oleh kekuatan eksternal atau dari luar nusantara.

Namun sejarah mencatat dengan tinta hitam bahwa keruntuhan dua kerajaan besar itu karena penghianatan, pertikaian internal, dan perpecahan. Intinya tanpa persatuan dan kesatuan, mustahil bangsa kita akan jaya. Gen-Z perlu mengetahui dengan utuh sejarah perjalanan bangsanya.

Baca Juga: Peminat Angkutan Sekolah Gratis Tinggi, Dishub Jember Akan Minta Tambahan Armada

Agar tidak terjebak kembali dalam kubangan devide et impera modern yang bertujuan melemahkan ketahanan bangsa kita.

Membangun alutsista merupakan rangkaian dari proses memperkuat ketahanan nasional. Sementara Ketahanan nasional terdiri tiga aspek: konsepsi/doktrin, kondisi, dan strategi/cara/ pendekatan.

Ketahanan nasional adalah suatu konsepsi khas bangsa Indonesia yang digunakan untuk dapat menanggulangi segala bentuk dan macam ancaman yang ada. Konsepsi ini dibuat dengan menggunakan ajaran “Asta Gatra” (delapan unsur).

Bahwa kehidupan nasional ini dipengaruhi oleh dua aspek yakni aspek alamiah yang berjumlah tiga unsur (Tri Gatra) dan aspek sosial yang berjumlah lima unsur (Panca Gatra).

Ketahanan nasional Indonesia pada masa kini lebih tinggi tingkatannya dibanding tahun sebelumnya. Ketahanan nasional dirumuskan sebagai kondisi yang dinamis, sebab kondisi itu memang senantiasa berubah dalam arti dapat meningkat atau menurun.

Jadi kondisi itu tidak bersifat statis. Pentingnya memahami “aspek kondisi” ini akan mendorong kemampuan beradaptasi, khususnya Gen-Z dalam memahami perkembangan geopolitik global dengan mengedepankan kepentingan nasionalnya.

Kesadaran Gen-Z dalam memahami Ketahanan nasional sebagai strategi, sangatlah penting. Aspek strategi sangat menentukan Indonesia bisa survive dalam menghadapi banyak ancaman dan bahaya.

Sederhananya ajaran Asta Gatra, mengikutsertakan segala aspek alamiah dan sosial guna diperhitungkan dalam menanggulangi ancaman yang ada. Gen-Z sebagai bagian unsur gatra “penduduk”  sangat menentukan dengan berbagai perilakunya.

Frasa “TNI Rakyat” tidak terlepas dari Sistem Hankamrata (Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta) adalah sistem pertahanan negara Indonesia yang bersifat semesta, melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI dari segala ancaman.

Sistem ini memiliki tiga ciri utama: kerakyatan (rakyat menjadi pendukung utama), kesemestaan (melibatkan semua sumber daya nasional), dan kewilayahan (kekuatan pertahanan tersebar di seluruh wilayah). Komponen utamanya adalah TNI dan Polri, sementara rakyat adalah komponen cadangan.

Menurut Undang-Undang No. 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, keikutsertaan warga negara dalam bela negara secara fisik dapat dilakukan dengan menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia dan Pelatihan Dasar Kemiliteran.

Sementara bela negara secara nonfisik dapat diselenggarakan melalui pendidikan kewarganegaraan dan pengabdian sesuai dengan profesi.

Baca Juga: NU dari Kampung hingga Dunia , OPINI Oleh: Misbahus Salam, Direktur Pusat Pengembangan Kampung SDGs Indonesia.

Pendidikan kewarganegaraan diberikan dengan maksud menanamkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air.Pendidikan kewarganegaraan dapat dilaksanakan melalui jalur formal (sekolah dan perguruan tinggi) dan jalur nonformal (sosial kemasyarakatan).

Kita menjadi ingat Pidato Jenderal Sudirman pada tanggal 17 Februari 1946 di Yogyakarta, "Kami Tentara Republik Indonesia akan timbul dan tenggelam bersama negara". Semboyan  Bhinneka Tunggal Ika Tan Hanna Dharma Mangrwa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Jayalah TNI, Merdeka!

 Baca Juga: Moral Force Pencak Organisasi, Opini Oleh: Muchamad Taufiq

 *) Penulis adalah Akademisi ITB Widya Gama Lumajang ,

Pengurus APHTN-HAN Jawa Timur, dan Sekretaris DHC BPK’45 Lumajang. 

 

Editor : Dwi Siswanto
#tni rakyat #ITB Widya Gama Lumajang #hut tni #TNI PRIMA #lumajang