Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Reaktivasi Jalur Kereta Api Jember Panarukan: Rel yang Menghubungkan Masa Depan Bondowoso, Opini Oleh: Mohammad Ilyas Purwo Agomo  

Dwi Siswanto • Jumat, 10 Oktober 2025 | 17:20 WIB

 

Photo
Photo

MEMBACA liputan di Radar Ijen, Senin (6/10/2025), berjudul “Titik Terang Jalur Kereta Bondowoso?” seakan membuka luka lama bagi penulis. Ingatan itu kembali pada pengalaman pribadi dalam perjalanan dari Surabaya ke Bondowoso.

Perjalanan dari Surabaya ke Bondowoso seharusnya menjadi perjalanan biasa. Berdasarkan aplikasi peta daring, jarak tersebut dapat ditempuh dalam waktu empat hingga lima jam.

Namun, penulis pernah mengalami hal berbeda: berangkat pukul tujuh malam menggunakan mobil travel dan baru tiba di Bondowoso pukul lima pagi, hampir sepuluh jam perjalanan.

Di tengah perjalanan, sopir travel mengantuk berat. Dalam situasi darurat, penulis terpaksa menggantikan posisi sopir agar kendaraan tetap melaju dan seluruh penumpang selamat sampai tujuan.

Cerita seperti ini bukanlah pengalaman tunggal, karena beberapa penumpang travel juga mengaku pernah mengalami hal serupa. Rupanya, banyak warga Bondowoso yang sudah terbiasa dengan perjalanan panjang, penuh ketidakpastian, bahkan risiko keselamatan.

Transportasi publik di Bondowoso saat ini bisa dikatakan masih jauh dari kata ideal. Secara faktual memang terdapat moda transportasi umum seperti travel, bus antarkota dalam provinsi, atau angkutan pedesaan untuk jarak dekat.

Namun, jumlahnya sangat terbatas. Sekretaris Daerah Bondowoso, Fathur Rozi, menyampaikan bahwa, “Harus diakui bersama, khusus angkutan umum masyarakat di Bondowoso hampir tidak ada. Ada, tapi sangat terbatas.”

Kondisi inilah yang menyebabkan mobilitas masyarakat sangat bergantung pada kendaraan pribadi atau jasa travel dengan tarif tidak murah dan jadwal yang tidak pasti.

Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa keterbatasan moda transportasi publik menjadi salah satu alasan utama mengapa wacana reaktivasi jalur kereta api Jember–Panarukan, yang melewati Bondowoso, kembali menguat.

Fakta lain memperkuat kondisi memprihatinkan tersebut. Dilansir dari situs resmi RRI, terdapat artikel yang menyebutkan bahwa angkutan pedesaan di Bondowoso hanya tersisa belasan armada. Hal ini disebabkan oleh minimnya jumlah penumpang dan rendahnya efisiensi operasional.

Bagi masyarakat pedalaman, ojek dan kendaraan pribadi masih menjadi andalan untuk menjangkau pusat kota Bondowoso. Melihat kondisi ini, tidak berlebihan jika kemudian disimpulkan bahwa Bondowoso tengah berada dalam situasi krisis transportasi publik.

Keterbatasan transportasi bukan hanya soal jarak fisik, tetapi juga berimplikasi pada jarak sosial dan ekonomi. Ketika transportasi sulit, pertumbuhan ekonomi pun terhambat.

Masyarakat enggan bepergian, investor enggan melirik potensi daerah, dan kota kehilangan kesempatan untuk berkembang. Sejumlah ahli perencanaan transportasi, seperti John Dickey (1975) dan Jean-Paul Rodrigue (2020), menegaskan bahwa sistem transportasi publik yang efisien merupakan fondasi kemajuan suatu wilayah karena menentukan konektivitas, efisiensi ekonomi, serta pemerataan akses masyarakat.

Transportasi publik bukan sekadar alat untuk berpindah tempat, melainkan instrumen pemerataan pembangunan. Seperti dikemukakan oleh ahli transportasi Edward W. Stevens (dalam Urban Transportation Planning, 2018), sistem transportasi yang baik menciptakan connectivity atau keterhubungan antardaerah yang memungkinkan mobilitas manusia, barang, dan ide.

Ketika konektivitas meningkat, efisiensi ekonomi ikut tumbuh, interaksi sosial semakin terbuka, dan masyarakat perlahan memiliki cara pandang yang lebih progresif terhadap perubahan.

Dengan demikian, reaktivasi jalur Kalisat–Bondowoso–Panarukan memiliki makna strategis. Jalur ini bukan sekadar lintasan besi tua yang tersusun sejajar dan ingin dihidupkan kembali, melainkan simbol keterhubungan baru antara Bondowoso dengan wilayah sekitarnya—Jember, Situbondo, bahkan Surabaya.

Jika jalur ini kembali aktif, manfaatnya akan berlapis: waktu tempuh perjalanan menjadi lebih singkat, biaya perjalanan relatif lebih murah, serta risiko keselamatan dapat ditekan secara signifikan.

Selain itu, jalur kereta akan membuka peluang perkembangan ekonomi. Wisatawan dapat dengan mudah menjangkau destinasi wisata Bondowoso yang indah dan beragam, seperti Kawah Wurung, Ijen Geopark dan kawasan wisata alam lainya.

Aktivitas perdagangan antardaerah akan meningkat, dan pelaku usaha lokal memperoleh akses yang lebih luas ke jaringan logistik regional maupun nasional.

Apalagi Bondowoso terkenal dengan daerah penghasil Tape dan Kopi. Lebih dari itu, terbentuknya koneksi transportasi modern akan mengubah psikologi sosial masyarakat: dari yang semula merasa terpinggirkan menjadi bagian dari arus utama pembangunan regional.

Tidak berlebihan jika pembangunan kembali jalur kereta ini disamakan dengan membangun “jalur berpikir”. Ketika warga dapat bepergian lebih mudah, bertemu lebih banyak orang, dan melihat berbagai realitas sosial di luar daerahnya, cara berpikir mereka pun ikut terbuka.

Kota yang saling terhubung akan lebih dinamis, adaptif terhadap perubahan, dan warganya cenderung lebih kreatif serta inovatif. Karena itu, reaktivasi jalur kereta tidak dapat dipandang sekadar sebagai proyek fisik, melainkan investasi sosial dan kultural jangka panjang.

Bondowoso memiliki potensi besar, tetapi potensi itu sering tertutup oleh keterbatasan dan keterisolasian transportasi. Kota ini indah, layaknya taman di tengah lembah pegunungan, namun sulit dijangkau.

Orang mengenal keindahannya, tetapi jarang datang karena aksesnya berliku dan panjang. Rel kereta api adalah jembatan yang bisa menghubungkan taman itu dengan dunia luar.

Jangan sampai masyarakat Bondowoso seperti air waduk yang tertutup dan tenang—jika dibiarkan, lama-lama akan menggenang dan kehilangan kehidupan.

Sebaliknya, jika waduk itu mengalir dan terhubung dengan saluran air, ia akan menjadi sumber kehidupan dan kesuburan bagi wilayah yang dilaluinya.

Setelah lebih dari tiga tahun tinggal di Bondowoso, penulis merasa bahwa Bondowoso layak mendapatkan jalur yang menghubungkan masa depan serta jalur yang menghubungkan ide dan kreativitas generasi mudanya.

Jalur yang juga akan menjadi jalur distribusi Kopi yang sungguh nikmat. Jalur yang bisa menghantarkan aroma Kopi Arabica keluar wilayah Bondowoso.

Penulis adalah Alumnus UGM yang kini sebagai ASN di KPU Kabupaten Bondowoso, dan  pendatang di Bondowoso asli Gresik

 

 

 

 

 

Editor : Dwi Siswanto
#gresik #transportasi publik #kereta api jember panarukan #ojek #Radar Ijen #bondowoso