JIKA dalam demokrasi, pers dijuluki sebagai pilar keempat yang mengawal keseimbangan dan keterbukaan informasi maka pesantren pilar yang menopang fondasi pendidikan bangsa ini.
Berdasarkan data Kementerian Agama per 4 Oktober 2025, jumlah santri yang belajar di pesantren Indonesia mencapai lebih dari 1,3 juta orang, yang tersebar di berbagai penjuru tanah air. Santri-santri ini adalah cerminan dari keanekaragaman Indonesia yang mengakar pada nilai-nilai luhur yang diterapkan di pesantren.
Dengan jumlah yang begitu besar, pesantren sejatinya memainkan peran penting dalam melahirkan generasi yang tidak hanya sekadar ahli di bidang ilmu agama tetapi sekaligus memiliki wawasan yang luas tentang kehidupan sosial, politik, dan budaya.
Didukung dengan pendidikan yang diberikan di pesantren menekankan pada pentingnya etika, moralitas, dan akhlak yang menjadi fondasi dalam menghadapi tantangan zaman.
Mendadak Ahli
Sayangnya, pesantren sering kali menjadi sorotan yang tidak proporsional tragedi awal Oktober tetang ambruknya musala di Pesantren Buduran, Sidoarjo.
Kejadian ini mengundang banyak reaksi bahkan dari mereka yang tidak memiliki pemahaman mendalam tentang pesantren. Sejumlah pihak termasuk netizen, berkomentar seolah-olah mereka adalah ahli dalam masalah tersebut padahal kenyataannya tidak memiliki latar belakang atau kompetensi yang cukup.
Fenomena ini mencerminkan adanya fenomena mendadak ahli yang sering kali menjadi masalah dalam masyarakat kita.
Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise, mengkritik fenomena maraknya orang merasa berhak untuk memberikan pendapat mengenai hal-hal yang tidak diketahui secara mendalam.
Alih-alih memberikan solusi yang konstruktif, justru komentar-komentar hanya memperburuk situasi dan memperunyam situasi yang ada. Komentar yang dilontarkan hanya memperkeruh suasana lalu mengabaikan realitas bahwa sebagian besar pesantren terutama yang berada di daerah-daerah terpencil memang bergantung pada dana swadaya dan kontribusi masyarakat bukan pada bantuan negara.
Pada saat yang bersamaan, mereka yang mendiskreditkan pesantren sejatinya telah mengesampingkan fakta bahwa pesantren telah memberikan kontribusi besar dalam sejarah perjuangan bangsa.
Sejarah mencatat, banyak ulama dan kyai pesantren terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia yang membuktikan bahwa pesantren memiliki peran yang sangat penting dalam membangun bangsa ini.
Oleh karena itu, netizen perlu lebih bijaksana untuk tidak hanya melihat pesantren dari sudut pandang kritikan atau spekulasi yang dangkal tetapi dengan menghargai kontribusi dan nilai-nilai yang ditanamkan dalam pendidikan bangsa.
Momentum
Adalah langkah yang tepat ketika Presiden Prabowo Subianto menunjuk Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar ( Gus Muhaimin ) untuk mengecek dan memantau pembangunan pondok pesantren (ponpes) se-Indonesia.
Penunjukan ini merupakan sinyal positif bahwa pemerintah mulai menyadari pentingnya peran pesantren dalam peta pendidikan nasional.
Seiring dengan itu, momen Hari Santri Nasional yang dirayakan setiap 22 Oktober harus menjadi ajang untuk tidak sebatas merayakan euforia tetapi perlu diimbangi dengan kebijakan yang lebih konkret dan terukur.
Hari Santri Nasional tidak boleh hanya menjadi seremoni tahunan tanpa ada tindak lanjut yang jelas. Pemerintah harus mengalokasikan anggaran yang memadai untuk mendukung pengembangan pesantren khususnya dalam hal infrastruktur, pendidikan, maupun kesejahteraan masyarakat pesantren.
Sebuah perencanaan yang matang dan kebijakan yang terarah sangat diperlukan agar pesantren tidak hanya berkembang dalam aspek kuantitas tetapi juga kualitas.
Tentu, pesantren juga harus mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisional yang selama ini dijaga. Pemerintah juga perlu meningkatkan aksesibilitas pesantren terhadap fasilitas pendidikan yang lebih modern.
Diantara tujuannya agar para santri tidak hanya mendapatkan pendidikan agama yang mendalam walakin keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Hal ini penting agar pesantren tetap relevan di tengah perkembangan zaman yang serba cepat.
Di sini, kolaborasi antara pesantren dan dunia industri serta pendidikan tinggi harus menjadi prioritas sehingga lulusan pesantren bisa bersaing secara global.
Sudah saatnya pesantren mendapatkan perhatian lebih serius dari pemerintah melalui dukungan yang konkret berupa kebijakan proaktif, alokasi anggaran yang memadai, dan perencanaan pembangunan yang matang. Pesantren layak mendapatkan perhatian sebanding dengan perannya dalam mewarnai perjalanan bangsa.
Semua itu sangat diperlukan guna memastikan pesantren tetap berperan dalam mencetak generasi yang berkualitas.
Pada tahapannya kita akan betul-betul bisa menyaksikan pesantren lebih berkembang bukan saja dalam aspek pendidikan agama sekaligus terampil dalam beradaptasi dengan kebutuhan zaman.
Sekali lagi, pesantren harus tetap dijaga sebagai pilar pendidikan bangsa yang terus-menerus memberikan kontribusi nyata dalam membentuk karakter dan kecerdasan bangsa dan mempersiapkan generasi penerus yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Setuju atau tidak, masa depan bangsa ini juga ditentukan oleh bagaimana kita memberi ruang dan menghargai institusi yang telah lama menjadi cahaya penerang jalan bagi anak bangsa.
Oleh: Agus Zainudin
Penulis adalah Dosen Universitas Islam Jember dan Mahasiswa Aktif Pascasarjana Doktor UIN Kiai Achmad Shiddiq Jember, serta Sekretaris Ikatan Sarjana NU Cabang Jember